Global Market Wrap
Indeks
di bursa saham Wall Street pada perdagangan kemarin
ditutup melemah tipis karena para investor masih
menunggu kejelasan lebih lanjut waktu kenaikkan suku bunga the Fed. Dow
Jones
melemah
8 poin (-0,05%)
di level 17.493 sementara Nasdaq melemah
4
poin
(-0,08%)
di level 4.766. Dari
regional, Pagi ini indeks Nikkei dibuka melemah
92
poin
(-0,55%)
pada level 16.562. Nilai tukar Rupiah
terhadap USD pagi ini dibuka melemah 2
poin (-0,01%)
menjadi Rp13.574.
Technical Ideas
Terkoreksinya
indeks bursa global dan melemahnya harganya minyak mentah diprediksi akan
menjadi katalis negatif bagi indeks disisi lain pembahasan tax amnesty masih
berlanjut dan berpeluang besar disahkan menjadi undang-undang dalam waktu dekat
ini akan menjadi sentimen positif bagi indeks. IHSG diprediksi
bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat terbatas di
rentang support 4.715 dan resistance 4.775.
Pergerakan aliran dana investor asing menjadi poin penting yang berpengaruh
terhadap IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
·
PGAS (Spec
Buy, TP: Rp2.380,
Support:
Rp2.250)
·
SSIA (Spec
Buy, TP: Rp655,
Support:
Rp620)
·
WTON (Spec
Buy, TP: Rp930,
Support:
Rp885)
·
BBRI (Spec
Buy, TP: Rp10.050,
Support:
Rp9.800)
News Highlight
PT
Intiland Development Tbk (DILD)
akan
merilis dua proyek highrise baru tahun ini. Keduanya, Darmo Harapan
di Surabaya Barat dan Kebon Melati di Jakarta. Dari
kedua proyek ini, perusahaan mengincar marketing sales Rp 537
miliar. Total, diharapkan dari seluruh proyek tahun ini, Intiland
membukukan marketing sales atau pra penjualan senilai Rp 2,5
triliun.
PT Bank Maspion Tbk (BMAS)
mencari sumber pendanaan guna memperkuat struktur permodalan. Perseroan bakal
menggelar Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) I
atawa Rights Issue dalam
waktu dekat. Berdasarkan prospektus ringkas BMAS, akan
melepas sebanyak-banyaknya 600 juta saham baru atau setara 15% dari modal
ditempatkan dan disetor penuh BMAS dengan nilai nominal Rp 100 per saham. BMAS
menargetkan meraup dana segar Rp 204 miliar melalui aksi korporasi ini.
PT Matahari
Putra Prima Tbk (MPPA)
kuartal I tahun ini kurang memuaskan. Pengelola gerai Hypermart ini mencatatkan
rugi bersih Rp 123,07 miliar. Porsi beban pokok terhadap
pendapatan MPPA kuartal I-2016 dan periode yang sama tahun sebelumnya
masing-masing 87% dan 81%. Ini yang membuat laba kotor MPPA turun 23% menjadi
Rp 458,89 miliar.
PT Sri Rejeki Isman
Tbk (SRIL) akan
menerbitkan obligasi global berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS)
sebesar US$ 420 juta melalui anak usaha Golden Legacy Pte. Ltd. Emiten
yang disebut Sritex itu akan menggunakan dana penerbitan obligasi untuk membeli
kembali (buyback) seluruh surat utang perseroan yang jatuh tempo pada
2019 bernilai US$ 270 juta. Surat utang lama yang akan dibeli kembali memiliki
bunga 9%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar