Senin, Mei 2

Market Brief: Bursa Asia Berguguran, IHSG Berharap Sentimen Positif Rilis Data BPS

Ipotnews - Mengawali pekan pertama Mei, (2/5) bursa saham Asia dibuka dengan diwarnai aksi jual, melanjutkan tren pelemahan indeks yang berlangsung di bursa saham Eropa dan AS akhir pekan lalu.

Perdagangan saham hari ini diawali dengan kejatuhan indeks ASX 200 Australia sebesar 0,56 persen, dihantam kemerosotan harga saham perbankan kendati terjadi penguatan harga komoditas logam dasar pada akhir pekan lalu. Tren penurunan indeks berlanjut, melorot 1,18% (-61,92 poin) ke level 5.190,30 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang terpuruk 3,88% (-646,81 poin) di posisi 16.019,24, setelah mengakhiri libur panjang akhir pekan lalu dengan terpelanting 3,96 persen pada awal perdagangan. Kenaikan nilai tukar yen terhadap dolar merontokkan harga saham-saham emiten eksportir. Investor berusaha membersihkan portofolionya dari saham-saham berisiko jelang libur Selasa hingga Kamis pekan ini.

Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka turun 0,25 persen, dan berlanjut melemah 0,47% menjadi 1.984,85. Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka merosot 1,50% ke level 21.067,05. Indeks Shanghai Composite, China melemah 0,24% di posisi 2.938,45.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini akan menghadapi tantangan berat di tengah kejatuhan indeks saham acuan Asia pagi ini, setelah terbenam di zona merah akhir pekan lalu. Sejumlah analis memperkirakan indeks berpeluang melanjutkan tren pelemahan seiring dengan kecenderungan melemahnya rupiah terhaadap dolar AS. Pasar berharap adanya hembusan sentimen positif yang ditopang rilis sejumlah data Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya bursa saham global dan menguatnya nilai tukar rupiah, berpotensi mendorong IHSG untuk bergerak cenderung menguat. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.815 dan resistance 4.860.

Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: KLBF [KLBF 1,375 25 (+1,9%)] (Spec Buy, TP: Rp1.400, Support: Rp1.350), INDF [INDF 7,125 175 (+2,5%)] (Spec Buy, TP: 7.275, Support: 6.950), BEST [BEST 282 6 (+2,2%)] (Spec Buy, TP: Rp292, Support:Rp272), PTPP [PTPP 3,665 20 (+0,5%)] (Spec Buy, TP: Rp3.700, Support: Rp3.630).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir melemah, dihantam oleh kejatuhan harga saham-saham ritel yang dipicu oleh data pengeluaran konsumen yang rendah. Selama Maret lalu, konsumen AS menghabiskan dana sekitar 0,1 persen lebih tinggi dibanding Februari, meskipun menikmati pendapatan yang lebih tinggi 0,4 persen. Penurunan harga sejumlah saham emiten bioteknologi hingga 9 persen, ikut andil dalam penurunan indeks. Analis mengatakan investor juga mengkhawatirkan valuasi saham yang tinggi setelah musim pelaporan keuangan dan data ekonomi yang secara umum melemah.

Dow Jones Industrial Average melemah 0,32% (-57,12 poin) menjadi 17.773,64, naik 0,5% sepanjang April.
S&P 500 turun 0,51% (-10,51 poin) ke level 2.065,30, menguat 0,3% sepanjang April.
Nasdaq Composite melorot 0,62% (-29,93 poin) ke posisi  4.775,36, anjlok 1,9% sepanjang April.

Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange turun 0,73% menjadi US$23,09.

Bursa saham utama Eropa, akhir pekan lalu juga ditutup dengan membukukan penurunan tajam indeks saham acuan, kendati harga sejumlah saham pertambangan logam  mengalami kenaikan signifikan. Rilis laporan keuangan sejumlah emiten menyeret indeks saham acuan, dan semua indeks sektoral jatuh ke zona merah. Rilis data PDB zona euro kuartal I-2016 yang tumbuh 0,6 persen dibanding kuartal lalu, tak mampu mendongkrak indeks. Penurunan jumlah pengangguran menjadi 10,2 persen pada Maret, dari 10,4 persen pada Februari, tak banyak berarti dibanding estimasi data inflasi yang diperkirakan turun 0,2 persn pada April ini.

FTSE 100 London anjlok 1,27% (-80,51 poin) ke level 6.241,89.
DAX 30 Frankfurt terperosok 2,73% (-282,18 poin) di posisi 10.038,97.
CAC 40 Paris terjungkal 2,82% (-128,40 poin) ditutup di 4.428,96.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu ditutup dengan membukukan penurunan, tertekan oleh rilis data konsumsi pribadi AS yang gagal memenuhi perkiran pasar. Sentimen konsumen periode April turun menjadi 89,0 dibanding Maret sebesar 91,0. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang mitra dagang AS turun 0,76% menjadi 93,048.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Currency

Value

Change

% Change

Euro (EUR-USD)

1.1451

0.0099

+0.87%

Poundsterling (GBP-USD)

1.4612

0.0003

+0.02%

Yen (USD-JPY)

106.50

-1.61

-1.49%

Yuan (USD-CNY)

6.4780

0.0021

+0.03%

Rupiah (USD-IDR)

13,180.00

-9.50

-0.07%

Sumber : Bloomberg.com, 29/4/2016 (ET)

Komoditas

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent North Sea di bursa komoditas New York dan London, akhir pekan lalu ditutup dengan mencatatkan penurunan, mengakhiri kenaikan harga selama empat pekan berturut-turut. Pasar didominasi aksi ambil untung setelah mencatat keuntungan yang cukup besar. Penurunan harga minyak juga terpengaruh oleh hasil survei pasokan minyak OPEC yang naik 32,64 juta barel per hari sepanjang April, dari 32,47 juta bph pada Maret. Namun selama sepekan terakhir, harga minyak WTI naik 5,0 persen dan Brent naik 6,7 persen dibanding pekan sebelumnya, dan rata-rata naik 20 persen sepanjang April.

Harga minyak WTI untuk penyerahan Juni turun 11 sen menjadi US$45,92 per barel.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni, turun 1 sen menjadi US$48,13 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, akhir pekan lalu ditutup dengan membukukan kenaikan tajam ditopang oleh pelemahan kurs dolar AS. Harga emas naik 4,92 persen sepanjang pekan lalu, dan 4,44 persen sepanjang April. Kejatuhan harga saham Eropa dan AS serta rilis belanja konsumen AS yang lebih rendah dari perkiraan ikut mempengaruhi investor untuk beralih ke emas.

Harga emas untuk pengiriman Juni naik US$24,10 (1,9%) menjadi US1.290,50 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 2,25% menjadi US$1.296,70 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar