Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup melemah cukup signifikan, Dow Jones melemah 254 poin (-1,44%) pada level 17.448, S&P turun 29 poin (-1,40%) pada level 2.046 dan Nasdaq ditutup melemah 62 poin (-1,22%) pada level 5.005. Saham-saham Wall Street berakhir turun signifikan pada perdagangan kemarin, setelah terjadinya aksi jual secara besar-besaran merespon ekspektasi-ekspektasi negatif mengenai ekonomi dunia dan kekhawatiran mengenai suku bunga The Fed. Pelemahan ini mengekor pelemahan pada pasar equitas, harga minyak dan komoditi dunia. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup melemah signifikan, DAX melemah 125 poin (-1,14%) pada level 10.783, sementara FTSE melemah 118 poin (-1,88%) pada level 6.179. Pelemahan pada bursa saham eropa dipicu oleh pelemahan pada saham-saham di sector komiditas setelah Rolls-Royce Holding PLC memberikan suatu tanda negatif terhadap perolehan laba bersihnya.
Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori positif. Sentiment positif dari penguatan pada beberapa bursa saham global dan penguatan pada IHSG di hari sebelumnya membuat IHSG dibuka di zona hijau. Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.597 per USD) turut menopang IHSG berada di zona hijau disepanjang perdagangan kemarin. Aksi jual oleh investor asing perlahan menekan IHSG di akhir-akhir sesi perdagangan, namun IHSG tetap bertahan di zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 11 poin (+0,24%) pada level 4.462. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 397,1M di pasar regular dan negosiasi. Sektor infrastruktur dan properti yang masing-masing mengalami penguatan sebesar 13 poin (+1,49%) dan 5 poin (+1,02%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.

Seiring pelemahan signifikan pada bursa saham gobal dan kembali derasnya arus keluar dana investor asing, ditengah penguatan tipis yang terjadi pada IHSG dan nilai tukar rupiah terhadap USD kemarin membuat IHSG berpotensi untuk mengalami pelemahan. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.420 dan resistance 4.510. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: PTPP(Spec Buy), SMRA(Spec Buy), CTRS(Spec Buy) dan BBCA(BoW).
News Highlights
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) berniat menaikkan harga jual produknya. Guna mengantispasi rencana pemerintah untuk menaikkan harga cukai pada tahun depan. Rencana kenaikan harga rokok dalam rangka penyesuaian guna mempertahankan margin. Kenaikan harga jual produk (rokok) akan dilakukan secara bertahap. Kenaikannya pun akan berbeda-beda setiap produk Perseroan. Setelah kenaikan, perseroan juga akan tetap melihat respon dari masyarakat serta memperhatikan respon dari pemain lain sejenis terhadap kenaikan cukai tersebut.
PT Astra International Tbk (ASII) memproyeksikan pada tahun capaian kinerjanya pada 2016 mendatang, tidak akan jauh berbeda dengan pencapaian kinerja yang dicatatkan di sepanjang tahun ini. Bisnis Astra tidak terlepas dari kondisi perekonomian di tanah air. Maka dari itu, pelemahan ekonomi di Indonesia yang mempengaruhi daya beli masyarakat pun tak pelak membuat kinerja perseroan merosot. ASII akan mengalihkan sebagian besar alokasi dana belanja modal atau capital expenditure (capex) di tahun depan, dari sektor pertambangan ke sektor infrastruktur.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menyatakan, dengan melemahnya perekonomian membuat sebagian produknya terseok-seok. Tak dielakkan lagi, lemahnya ekonomi membuat konsumsi masyarakat terhambat, sehingga menyebabkan daya beli produk perseroan terhambat. kinerja penjualan produk perseroam hingga kuartal III-2015 memang mengalami gerak yang positif. Namun dari dua produk yang dimiliki perseroan, kinerja penjualan produk home and personal care mengalami pertumbuhan yang terseok-seok. Hingga akhir September 2015, UNVR mencatat laba bersih naik tipis 2,9% menjadi Rp2,93T dari periode sama tahun sebelumnya Rp2,84T. Ini diikuti pendapatan naik 6,93% ke level Rp18,8T dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp17,58T.
PT Kalbe Farma Tbk menganggarkan belanja modal atau "capital expenditure" (capex) sebesar Rp1-Rp1,2T pada 2016 untuk mendukung ekspansi. Dana capex akan digunakan untuk membangun pabrik, pengembangan divisi obat, dan distribusi. Sementara pada tahun ini penyerapan anggaran belanja modal diperkirakan sebesar Rp1T yang digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mendapat pinjaman sindikasi sebesar US$100 juta dan Rp3T dari beberapa bank di Jakarta. Dalam menerima fasilitas pinjaman sindikasi ini, perseroan tidak menjaminkan aset perseroan ataupun anak usahanya. Pinjaman sindikasi yang telah ditandatangani pada tanggal 11 November 2015 ini menurut Ong Mei Sian akan digunakan oleh perseroan untuk membiayai kembali pinjaman perseroan yang akan jatuh tempo (refinancing).
PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) memproyeksikan bakal mendatangkan 230 ribu wisatawan asing ke Indonesia (inbound) tahun 2016. Angka ini naik dua kali lipat dari target tahun ini sebanyak 115 ribu wisatawan asing. Hal ini sejalan dengan rencana Pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia menjadi sebanyak 20 juta wisatawan pada 2019. Anggaran promosi pariwisata pemerintah tahun depan juga meningkat menjadi Rp5 triliun dari tahun ini Rp1,3 triliun
-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund
DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar