Rabu, November 11

Equity Update 11 November 2015

Market Review

Mayoritas indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat tipis, Dow Jones menguat 28 poin (+0,16%) pada level 17.758, S&P naik 3 poin (+0,16%) pada level 2.082 sementara Nasdaq ditutup melemah 12 poin (-0,24%) pada level 5.083. Mayoritas bursa AS ditutup menguat tipis mengikuti pergerakan pasar equitas global, ditengah tekanan yang terjadi pada saham Apple. Apple menjadi saham yang paling aktif di Dow Jones semalam ketika saham ini turun 3,15% usai Credit Suisse melaporkan pembuat iPhone ini telah memangkas pesanan komponennya sebesar 10%. Dari Eropa, mayoritas bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat tipis, DAX menguat 18 poin (+0,16%) pada level 10.833, sementara FTSE melemah 20 poin (-0,32%) pada level 6.275. Mayoritas bursa saham eropa mengalami penguatan terbantu oleh kenaikan dari Vodafone Group PLC (+3,89%). Hal itu dapat menyeimbangkan tekanan yang terjadi pada saham-saham pertambangan.

Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori negatif. Sentiment negatif dari pelemahan pada mayoritas index di bursa saham global membuat IHSG langsung berada di zona merah. Meskipun sempat berbalik ke zona hijau karena menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.616 per USD), namun aksi jual oleh investor asing di akhir-akhir sesi perdagangan membuat IHSG kembali ke zona merah. IHSG akhirnya ditutup melemah sebesar 48 poin (-1,08%) pada level 4.451. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 404,3M di pasar regular dan negosiasi. Sektor industri dasar dan pertanian yang masing-masing mengalami pelemahan sebesar 9 poin (-2,41%) dan 37 poin (-2,13%) menjadi pemberat utama pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.


equity11

Seiring penguatan pada bursa saham gobal dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD, ditengah pelemahan yang cukup signifikan pada IHSG dan dana asing yang kembali keluar dari bursa saham kita membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.410 dan resistance 4.495. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: PWON(Spec Buy), WSKT(Spec Buy), PPRO(SoS) dan ASII(SoS).


News Highlights

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berencana melakukan penilaian aset atau revaluasi sebelum berakhirnya tahun 2015. Pasalnya, dengan revaluasi diperkirakan bakal meningkatkan capital adequity ratio (CAR) hingga 2%. Dilakukannya revaluasi aset demi mengambil peluang dengan memamfaatkan insentif pajak PPh (Pajak Penghasilan) 3%. Saat ini aset tetap yang akan di nilai ulang senilai Rp 2T. Dan jika di revaluasi akan meningkat menjadi Rp 8 triliun. "Jadi ada tambahan modal Rp 6T.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memperkirakan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun depan lebih rendah ketimbang tahun ini. Emiten bank pelat merah ini hanya akan menyiapkan dana sekitar Rp1,7T. Nilai capex tahun depan terdiri dari capex IT senilai US$100 juta dan capex non IT Rp400M.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) telah menambah cadangan lahan (landbank) 42ha sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Perseroan menggelontorkan dana Rp 2,07T dalam akuisisi lahan tersebut. Dengan aksi tersebut, kini emiten berkode BSDE itu memiliki landbank seluas 4.717ha di seluruh Indonesia. Biaya akuisisi diambil dari kas dari operasional perseroan yang mencapai Rp 2,42T.

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) memfokuskan penyaluran kredit konsumer dalam upayanya untuk meningkatkan level Loan to Deposit Ratio (LDR) hingga mencapai angka 92%. Keinginan pengoptimalan penyaluran kredit tersebut, dikarenakan realisasi penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) hingga akhir kuartal III tahun 2015, belum cukup, terlebih jika melihat level LDR yang masih rendah pada 70,7%.

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) menargetkan penjualan hingga akhir tahun 2015 mencapai Rp7,80T dimana kondisi ini turun dari pencapaian tahun 2014 yang mencapai penjualan Rp7,94T. Untuk laba bersih ditargetkan mencapai Rp330M atau turun dari pencapaian laba bersih tahun 2014 yang sebesar Rp355M.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) alami penurunan laba bersih sebesar 51,03% per September 2015 menjadi US$82,95 juta dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang US$169,41 juta.

PT PP Properti Tbk (PPRO) menargetkan pendapatan prapenjualan (marketing sales) pada tahun 2015 ini mencapai Rp2T atau naik 58% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp1,3T. Target itu didukung oleh positifnya hasil pemasaran dalam sembilan bulan terakhir ini. Hingga kuartal III 2015 pendapatan prapenjualan mencapai Rp1,2T. Angka tersebut lebih tinggi 45% secara tahunan.

PT Wika Beton Tbk (WTON), memproyeksi perolehan penjualannya pada tahun depan akan mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan penjualan yang tercatat di sepanjang tahun ini. hal tersebut bersamaan dengan telah mulai efektifnya proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah.

PT Kino Indonesia Tbk. (KINO) akhirnya merealisasikan niatnya untuk melepas sahham perdananya kepada publik di semester dua tahun ini. KINO merupakan Perusahaan barang-barang konsumen (Fast-Moving Consumer Goods - FMCG) terkemuka di Indonesia. Perseroan akan melepas saham perdananya sebanyak-banyaknya 228,57 juta lembar saham atau 16% dari modal ditempatkan dan modal disetor penuh. Saham perdana tersebut akan ditawarkan kepada publik dengan harga kisaran sebesar Rp 3.750 - Rp5.225 per lembar saham. sekitar 27% dana hasil IPO nantinya akan digunakan oleh perseroan untuk mengakuisisi perusahaan sejenis. Kemudian 50% akan dialokasikan untuk belanja modal guna mendukung pertumbuhan organik Grup Kino dan 23% sisanya akan dipakai untuk keperluan modal kerja.
           

-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund

DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness.  Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities.  PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar