Market Review
Mayoritas indeks di
bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup
menguat tipis, Dow Jones menguat 28 poin (+0,16%) pada level 17.758,
S&P naik 3 poin (+0,16%) pada level 2.082 sementara Nasdaq ditutup
melemah 12 poin (-0,24%) pada level 5.083. Mayoritas bursa AS ditutup
menguat tipis mengikuti pergerakan pasar equitas global, ditengah
tekanan yang terjadi pada saham Apple. Apple menjadi saham yang paling
aktif di Dow Jones semalam ketika saham ini turun 3,15% usai Credit
Suisse melaporkan pembuat iPhone ini telah memangkas pesanan komponennya
sebesar 10%. Dari Eropa, mayoritas bursa saham mengakhiri perdagangan
kemarin dengan ditutup menguat tipis, DAX menguat 18 poin (+0,16%) pada
level 10.833, sementara FTSE melemah 20 poin (-0,32%) pada level 6.275.
Mayoritas bursa saham eropa mengalami penguatan terbantu oleh kenaikan
dari Vodafone Group PLC (+3,89%). Hal itu dapat menyeimbangkan tekanan
yang terjadi pada saham-saham pertambangan.
Indeks harga
saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori
negatif. Sentiment negatif dari pelemahan pada mayoritas index di bursa
saham global membuat IHSG langsung berada di zona merah. Meskipun
sempat berbalik ke zona hijau karena menguatnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.616 per USD), namun aksi jual
oleh investor asing di akhir-akhir sesi perdagangan membuat IHSG
kembali ke zona merah. IHSG akhirnya ditutup melemah sebesar 48 poin
(-1,08%) pada level 4.451. Investor asing mencatatkan jual bersih
(foreign net sell) sebesar 404,3M di pasar regular dan negosiasi. Sektor
industri dasar dan pertanian yang masing-masing mengalami pelemahan
sebesar 9 poin (-2,41%) dan 37 poin (-2,13%) menjadi pemberat utama
pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.
Seiring
penguatan pada bursa saham gobal dan menguatnya nilai tukar rupiah
terhadap USD, ditengah pelemahan yang cukup signifikan pada IHSG dan
dana asing yang kembali keluar dari bursa saham kita membuat IHSG
berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG
akan bergerak pada rentang support 4.410 dan resistance 4.495.
Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin
penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan
saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
PWON(Spec Buy), WSKT(Spec Buy), PPRO(SoS) dan ASII(SoS).
News Highlights
PT
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berencana melakukan
penilaian aset atau revaluasi sebelum berakhirnya tahun 2015. Pasalnya,
dengan revaluasi diperkirakan bakal meningkatkan capital adequity ratio
(CAR) hingga 2%. Dilakukannya revaluasi aset demi mengambil peluang
dengan memamfaatkan insentif pajak PPh (Pajak Penghasilan) 3%. Saat ini
aset tetap yang akan di nilai ulang senilai Rp 2T. Dan jika di revaluasi
akan meningkat menjadi Rp 8 triliun. "Jadi ada tambahan modal Rp 6T.
PT
Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memperkirakan anggaran belanja modal
atau capital expenditure (capex) tahun depan lebih rendah ketimbang
tahun ini. Emiten bank pelat merah ini hanya akan menyiapkan dana
sekitar Rp1,7T. Nilai capex tahun depan terdiri dari capex IT senilai
US$100 juta dan capex non IT Rp400M.
PT Bumi Serpong Damai
Tbk (BSDE) telah menambah cadangan lahan (landbank) 42ha sepanjang
sembilan bulan pertama tahun ini. Perseroan menggelontorkan dana Rp
2,07T dalam akuisisi lahan tersebut. Dengan aksi tersebut, kini emiten
berkode BSDE itu memiliki landbank seluas 4.717ha di seluruh Indonesia.
Biaya akuisisi diambil dari kas dari operasional perseroan yang mencapai
Rp 2,42T.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan
Banten Tbk (BJBR) memfokuskan penyaluran kredit konsumer dalam upayanya
untuk meningkatkan level Loan to Deposit Ratio (LDR) hingga mencapai
angka 92%. Keinginan pengoptimalan penyaluran kredit tersebut,
dikarenakan realisasi penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak
ketiga (DPK) Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) hingga
akhir kuartal III tahun 2015, belum cukup, terlebih jika melihat level
LDR yang masih rendah pada 70,7%.
PT Ramayana Lestari
Sentosa Tbk (RALS) menargetkan penjualan hingga akhir tahun 2015
mencapai Rp7,80T dimana kondisi ini turun dari pencapaian tahun 2014
yang mencapai penjualan Rp7,94T. Untuk laba bersih ditargetkan mencapai
Rp330M atau turun dari pencapaian laba bersih tahun 2014 yang sebesar
Rp355M.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) alami
penurunan laba bersih sebesar 51,03% per September 2015 menjadi US$82,95
juta dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang US$169,41 juta.
PT
PP Properti Tbk (PPRO) menargetkan pendapatan prapenjualan (marketing
sales) pada tahun 2015 ini mencapai Rp2T atau naik 58% dibandingkan
tahun lalu yang sebesar Rp1,3T. Target itu didukung oleh positifnya
hasil pemasaran dalam sembilan bulan terakhir ini. Hingga kuartal III
2015 pendapatan prapenjualan mencapai Rp1,2T. Angka tersebut lebih
tinggi 45% secara tahunan.
PT Wika Beton Tbk (WTON),
memproyeksi perolehan penjualannya pada tahun depan akan mencapai dua
kali lipat dibandingkan dengan penjualan yang tercatat di sepanjang
tahun ini. hal tersebut bersamaan dengan telah mulai efektifnya
proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah.
PT Kino
Indonesia Tbk. (KINO) akhirnya merealisasikan niatnya untuk melepas
sahham perdananya kepada publik di semester dua tahun ini. KINO
merupakan Perusahaan barang-barang konsumen (Fast-Moving Consumer Goods -
FMCG) terkemuka di Indonesia. Perseroan akan melepas saham perdananya
sebanyak-banyaknya 228,57 juta lembar saham atau 16% dari modal
ditempatkan dan modal disetor penuh. Saham perdana tersebut akan
ditawarkan kepada publik dengan harga kisaran sebesar Rp 3.750 - Rp5.225
per lembar saham. sekitar 27% dana hasil IPO nantinya akan digunakan
oleh perseroan untuk mengakuisisi perusahaan sejenis. Kemudian 50% akan
dialokasikan untuk belanja modal guna mendukung pertumbuhan organik Grup
Kino dan 23% sisanya akan dipakai untuk keperluan modal kerja.
-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund
DISCLAIMER:
This research is based on information obtained from sources believed to
be reliable, but we do not make any representation or warranty nor
accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness
or correctness. Opinions expressed are subject to change without
notice. This document is prepared for general circulation. Any
recommendation contained in this document does not have regard to the
specific investment objectives, financial situation and the particular
needs of any specific addressee. This document is not and should not be
construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or
subscribe or sell any securities. PT. Indo Premier Securities or its
affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion
herein to make markets, or have positions in the securities recommended
herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will
seek investment banking or other business relationships with the
companies in this report.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar