Kamis, November 5

Market Review

Dow turun 18pts (0,2%) ditutup pada 9772

Nasdaq naik 8pts (0,4%) ditutup pada 2057

S&P500 naik 3pts (0,2%) ditutup pada 10425


Wall Street bergerak mixed selain menunggu hasil FOMC, terdapat beberapa sentimen positif dan negatif yang memasuki pasar. Intel menjadi penyeret turun Dow Jones karena Morgan Stanley menurunkan rekomendasi untuk perusahaan ini, sehingga membuat saham sektor teknologi melemah. Di sisi lain, perusahaan Warren Buffet, Berkshire Hathaway membeli perusahaan kereta api dan membawa sentime positif untuk saham sektor transportasi.

Pergerakan pasar saham pada hari ini akan cenderung flat, menurut kami karena seperti halnya investor pada Wall Street yang menanti kebijakan Federal Reserve mengenai outlook ekonomi dan mengantisipasi adanya perubahan kebijakan moneter.

Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam kisaran 2318-2385. Pengumuman BI rate pada hari ini menurut kami tidak akan berdampak banyak pada sentimen pasar karena dapat dipastikan BI rate tetap pada level 6,5%. Stock pick masih pada saham bank seperti BMRI, TLKM, ASII, INDF, SMGR





































































































Rec



Sektor



Kode



Penutupan*



Support



Resistance



BUY



Energy



MEDC



2,600



2,510



2,660






Mining



TINS



1,900



1,840



1,930






Banking



BBRI



7,000



6,830



7,130









BMRI



4,600



4,530



4,680






Telco



TLKM



8,350



8,250



8,480






Consumer



INDF



3,025



2,960



3,060






Infrastructure



PGAS



3,600



3,540



3,650



SELL



Plantation



AALI



21,400



20,850



21,650






Automotive



ASII



30,250



29,730



30,780






Coal



BUMI



2,300



2,200



2,380






Toll Road



JSMR



1,760



1,750



1,780






Rekomendasi berdasarkan pada analisis teknikal dan bukan berdasarkan pada analisis fundamental

*03/11/09

News Highlights:

Merukh Enterprise berniat mengakuisisi PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), anak usaha MNCN. TPI akan digunakan untuk menyampaikan informasi bisnis, potensi serta tantangan dan manfaat pertambangan mineral dan batubara. Rencana akuisisi TPI masih terganjal masalah utang TPI kepada Crown Capital Global Ltd senilai US$53 juta.


SMCB memperoleh pinjaman sindikasi senilai Rp1 T dari sejumlah bank untuk merampungkan akuisisi Holcim Sdn Bhd dan refinancing utang. Total hutang Holcim dalam bentuk dolar AS saat ini senilai Rp1.89 T dan akan dikurangi dengan pinjaman baru ini senilai Rp500 miliar. Akuisisi Holcim Malaysia cukup menguntungkan karena perusahaan itu memiliki tempat strategis untuk memasok semen pada proyek infrastruktur Sri Iskandar di Malaysia. Produksi Holcim Malaysia pada awal kuartal III-2009 mencapai 1.5 juta ton dan seluruh penjualannya didistribusikan ke Johor, Malaysia dengan pangsa pasar 30%. Holcim Malaysia juga diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan semen di Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.


BNBR memperoleh keuntungan investasi senilai US$25.25-37.37 juta dan akan dicairkan dalam waktu dekat. Tingkat pengembalian investasi sekitar 25-37%. Perseroan akan menggunakan dana ini untuk mendanai aksi korporasi kelompok usaha Bakrie. Perseroan sedang menjajaki emisi obligasi global sekitar US$200-250 juta untuk melunasi utang jangka pendek dan mendanai investasi perseroan.


BTEL menganggarkan dana investasi sebesar US$200 juta pada tahun 2010 untuk meningkatkan pelayanan jaringan dan sarana pendukung. BTEL menargetkan jumlah pelanggan menjadi 14 juta pelanggan tahun depan, naik 3.5 juta.


Bank Ekspor Indonesia dan BNGA akan mengucurkan dana senilai US$50 juta kepada TRAM untuk mendanai modifikasi fasilitas penyimpanan dan bongkar muat migas terapung (FSO). TRAM akan memodifikasi FSO berkapasitas 128 ribu DWT sebagai salah satu syarat kontrak jasa penyewaan FSO yang diperoleh dari CNOOC. CNOOC akan mengoperasikan Fso pada 2011. TRAM juga akan memenuhi kontrak dengan PT Pertamina senilai Rp370 miliar dengan membeli kapal baru berkapasitas 95 ribu DWT seharga US$15-16 juta per unit.


WIKA – Efficiency Lead to Higher Margin


WIKA mengadakan analyst meeting kemarin terkait kinerja di 9M09 berikut beberapa poin penting:

  • Laba bersih naik 56% menjadi Rp133 miliar, inline 78% dari estimasi kami Rp170 miliar, namun dibanding 2Q09 turun 17.2% lebih disebabkan factor musiman. Kenaikan laba bersih lebih disebakan oleh efisiensi yang dilakukan perusahaan pada semua lini hal ini terlihat dari pendapatan yang relatif tidak bergerak Rp4.5 trilliun sementara COGS mengalami penurunan 4% YoY dan 9% Qoq.


  • Gross margin naik menjadi 10% dari 6% di 9M08, operating profit margin naik drastis hampir lebih dari 2.7x menjadi 8%. Sementara kebijakan PPh final konstruksi 3% menyebabkan net margin naik tipis dari 2% menjadi 3%.


  • Terkait hal tersebut, WIKA saat ini tengah menyusun draf usulan penurunan PPh Final sebesar 1.5% atau kurang lebih setara dengan 28% tariff pajak dari EBT. Namun kami ragu, proposal ini disetujui pemerintah.


  • Outstanding contract mencapai Rp15.2 triliun dengan target akhir tahun Rp17.1 triliun dengan pendapatan Rp7.8 triliun. Namun kami mengestimasi pendapatan akhir tahun WIKA sedikit lebih rendah Rp7.2 triliun melihat kenyataan realisasi belanja infrastruktur yang masih lambat serta tingginya hambatan operasional.


  • Rencana akuisisi tambang batubara untuk sementara dibatalkan terkait PerMen No.28/2009 bahwa aktivitas penambangan, pengolahan dan pemurnian harus dilakukan sendiri oleh pemegan Izin Usaha Pertambangan (IUP).


  • 2010, WIKA kemungkinan akan mengeluarkan obligasi sebagai alternatif dari pendanaan bank yang elastis terhadap kenaikan suku bunga. Posisi kas WIKA hingga 9M09 turun menjadi Rp820 miliar dibanding 9M08 Rp957 miliar. Namun WIKA masih dalam kondisi net cash.


  • Saat ini WIKA diperdagangkan pada 10.6x PE FY09F dan 1.2x PBV FY09F. TP Rp 430. BUY.





DGIK mencatat perolehan proyek baru tahun ini Rp1 triliun dengan target akhir tahun Rp1,7 triliun. Total outstanding contract mencapai Rp2,7 trliun. DGIK akan menarik pinjaman Rp150 miliar dari BNLI untuk modal kerja selain itu BBNI juga telah memberikan plafond pinjaman hingga Rp235 mliar. Segmen pembangunan gedung menjadi driver pendapatan DGIK mencapai 65% dari total pendapatan 9M09 Rp951,8 miliar.


RUIS membukukan kontrak inspeksi dan operating support sebanyak Rp930 miliar per kuartal III-2009. Pendapatan pada kuartal III-2009 turun 5% YoY menjadi Rp800 miliar, laba usaha turun 8% YoY dan laba bersih juga turun 42% YoY menjadi Rp13 miliar.


SMRA akan bekerja sama dengan Tauzia Hotel Management untuk mengelola Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hotel bintang empat ini dijadwalkan beroperasi pada Mei 2010. Hotel Harris berkapasitas 319 kamar dan menjadi satu kesatuan dengan Mal Kelapa Gading 5. Perjanjian dengan Tauzia berlangsung 10 tahun dan akan dievaluasi kembali.


Newmont Nusa Tenggara untuk program divestasi 2009-2009. Konsorsium ANTM diminta bekerja sama dengan Pemda Nusa Tenggara Barat untuk akuisi itu yang nantinya dibawah koordinasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.


INCO diminta melepas sebagian wilayah kontrak karya di Sulawesi Selatan yang sekian lama tidak masuk dalam skema ekspoitasi ataupun kegiatan operasional perseroan.


LTLS membukukan penjualan sepanjang 3Q09 sebesar Rp2,56 triliun, turun 22,28% YoY dari Rp3,41 triliun. Anjloknya perolehan penjualan menyebabkan laba bersih perseroan turun menjadi Rp61,25 miliar dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama 2008 yaitu Rp272,66 miliar. Perseroan membukukan laba kurs sebesar Rp65,56 miliar dari sebelumnya merugi Rp3,34 miliar.


GDYR sepanjang 3Q09 membukukan laba kurs sebesar Rp45,34 miliar, melonjak dibandingkan dengan perolehan 3Q08 yang merugi Rp1,85 miliar. Lonjakan laba kurs itu menopang kinerja perseroan hingga membukukan laba bersih sebesar Rp94,68 miliar, naik 184,40% dari 3Q08 yaitu Rp33,29 miliar. Penjualan perseroan sepanjang 9M09 mencapai Rp915,19 miliar turun dibandingkan dengan 9M08 yaitu Rp971,55 miliar.


DGIK mengincar sejumlah proyek baru di bidang sipil, gedung, dan infrastruktur lain senilai Rp700 miliar dalam 2 bulan terakhir ini, untuk mengejar target tahun ini Rp1,7 triliun.


SMCB akan memfasilitasi pelaksanaan konvensi pembangunan Jakarta yang berkelanjutan pada 10-12 November yang akan dihadiri sejumlah asosiasi developer, arsitek, pemda, Kadin, dan pelaku usaha lain.


SDRA menargetkan ekspansi kredit pada tahun depan akan tumbuh 30%, naik Rp700-800 miliar dengan menggenjot kredit pegawai, pensiunan, dan usaha kecil menengah. Pertumbuhan kredit samapai tahun ini tergolong masih rendah sekitar 15%-20% sehingga outstanding pada akhir tahun diperkirakan Rp1,8 triliun.


BTEL akan mengalokasikan belanja modal sebesar US$200 juta pada tahun depan. 75% dari belanja modal itu akan dialokasikan untuk pengembangan jaringan dan sisanya sebesar 25% untuk pengembangan teknologi informasi perseroan. Pendanaan akan didapatkan dari kas internal, vendor financing dan dari rights issue beberapa waktu lalu. Belanja modal ini merupakan bagian dari belanja modal yang dialokasikan dalam 3 tahun sebesar Rp6 triliun, terhitung mulai 2008-2010.


Keluarga Bakrie kemungkinana terpilih sebagai pembeli 90% saham PT Berau Coal, anak usaha PT Armadian Tritunggal. Diakabrkan Armadian sedang dalam pembicaraan tingkat lanjut untuk menjual mayoritas kepemilikan di Berau Coal.


Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hartadi A. Sarwono, mengungkapkan bahwa cadangan devisa Indonesia sudah diatas USD 64 miliar sampai dengan akhir Oktober kemarin. Lebih tinggi 2,73% dibanding posisi akhir September, USD 62,3 miliar. Tambahan terbesar berasal dari penerimaan minyak dan gas pemerintah dan penarikan utang luar negeri pemerintah dari Bank Dunia. Diperkirakan akhir tahun nanti cadangan devisa bisa kembali terpangkas oleh pembayaran utang valas pemerintah dan swasta sebesar USD 8,7 miliar.


DPR kemarin (3/11) menyetujui usulan tambahan anggaran untuk tahun ini senilai total Rp 3,37 triliun. Dana tersebut dianggarkan untuk membiayai renovasi pagar dan pemasangan sistem keamanan di lingkungan Istana Kepresidenan, serta untuk dana rehabilitasi dan rekosntruksi pasca bencana tahap dua.


Pemerintah optimistis nilai ekspor akhir 2009 hanya minus 20% dan ekspor non migas minus 15%. Angka itu lebih tinggi dari prediksi awal sebesar minus 30%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar