Market Wrap
Indeks di bursa saham Wall Street pada kemarin
kembali mencatatkan rekor tertingginya ditopang oleh penguatan saham
teknologi terutama emiten pembuat video game dan Apple. Take-Two
Interactive Sofware mencatatkan kenaikan 10,58% setelah mengeluarkan
proyeksi pendapatan di kuartal empat yang lebih tinggi dari ekspektasi
sedangkan Apple menguat 0,82% sekaligus membukukan kapitalisasi pasar
sebesar $905 milyar, tertinggi sepanjang sejarah didorong oleh optimisme
terhadap peluncuran iphone x. Dow Jones ditutup menguat 6,13 poin (+0,03%) di level 23.563, S&P 500 bertambah 3,74 poin (0,14%) di level 2.594, Nasdaq naik 21,34 poin (0,32%) di level 6.789. Pagi ini bursa Asia dibuka di zona hijau, sementara itu nilai tukar rupiah dibuka melemah -4 poin (-0,03%) di level 13.518.
Technical Ideas
Kenaikan
indeks bursa global dan regional diprediksi akan memberikan sentimen
positif bagi indeks, di sisi lain terkoreksinya harga komoditas terutama
minyak mentah dan batubara, melemahnya nilai tukar seiring dengan
turunnya cadangan devisa serta posisi indeks yang sudah berada di area
jenuh beli diprediksi akan mengambat laju indeks. IHSG diproyeksi bergerak bervariasi cenderung melemah pada rentang support di level 6.025 dengan resistance di 6.075.
Pergerakan aliran dana investor asing menjadi salah satu poin yang bisa
dicermati, mengingat investor asing masih mendominasi pergerakan IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
· SMGR (Spec Buy, TP: Rp10.650, Support: Rp10.375)
· BMTR (Spec Buy, TP: Rp625, Support: Rp585)
· ACES (Spec Buy, TP: Rp1.310, Support: Rp1.220)
· MNCN (Spec Buy, TP: Rp1.585, Support: Rp1.480)
News Highlight
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berencana untuk menerbitkan obligasi senilai Rp7 triliun pada 2018. Direktur
Keuangan Waskita Karya Tunggul Rajagukguk mengatakan penerbitan
obligasi itu akan dilakukan 2 tahap pada semester I dan semester II
tahun 2018. Capex
yang dimaksud adalah belanja modal untuk keperluan pembangunan jalan tol
yang dikerjakan oleh perseroan. Waskita Karya sebagai kontraktor
membutuhkan dana untuk mengerjakan pekerjaan konstruksi itu.
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membuka Stasiun Pengisian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (SPBBKB) di Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Direktur
AKRA Nery Polim menyampaikan, pembukaan SPBBKB ini sesuai dengan
program pemerintah yang ingin memacu penyediaan lembaga penyalur BBM 1
harga. Artinya, perusahaan tidak hanya menyediakan fasilitas BBM di
kota-kota besar, tetapi juga di wilayah tertinggal, terluar, dan
terpencil (3T).
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) terus memupuk produktivitas pabrik. Dengan strategi ini, TPIA bisa meraih pangsa pasar lebih luas. Perusahaan
petrokimia ini tengah menuntaskan pengembangan sejumlah pabrik.
Semisal, TPIA menargetkan perluasan pabrik butadiena selesai di kuartal
II-2018. Saat ini pabrik memiliki kapasitas 100.000 ton. Dengan
modifikasi engineering, kapasitasnya bisa menjadi 137.000 ton. Estimasi
kebutuhan nilai investasi pabrik ini sekitar US$ 42 juta. Sebelumnya,
TPIA berhasil mengumpulkan dana dari rights issue senilai US$ 378 juta
atau setara Rp 5,03 triliun. Nah, sebagian dana ini digunakan untuk
proyek pabrik butadiena. Selain itu, TPIA akan meningkatkan kapasitas naphtha cracker dan membangun cracker kedua, serta menuntaskan proyek pabrik polietilena baru. Perluasan
ini diprediksi rampung kuartal I-2020. Anak usaha PT Barito Pasific Tbk
(BRPT) ini juga menargetkan pengoperasian pabrik polietilena baru di
kuartal IV-2019.
PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) Kinerja
emiten kian memprihatinkan. Jumlah pendapatan perusahaan di kuartal
III-2017 merosot drastis dan menyebabkan kerugian emiten taksi ini
membengkak lebih dari 2,5 kali lipat. Dalam
laporan keuangan yang dirilis 1 November 2017 lalu, anak usaha Grup
Rajawali ini mencatatkan penurunan pendapatan 54,81% menjadi Rp 231,62
miliar. Di periode yang sama tahun lalu perusahaan berhasil meraup
pendapatan Rp 512,57 miiliar. Merosotnya
pendapatan ini disebabkan oleh berkurangnya pendapatan dari bisnis
taksi. Di kuartal ketiga tahun ini, perusahaan hanya mampu meraup
pendapatan dari kendaraan taksi sebesar Rp 197,09 miliar dari sebelumnya
Rp 461,71 miliar. Padahal, bisnis ini merupakan kontributor terbesar
pendapatan perusahaan. Rugi
bersih yang harus ditanggung TAXI hingga akhir September 2017 lalu
meningkat 157,41% yoy menjadi Rp 210,57 miliar. Sebagai perbandingan, di
triwulan ketiga tahun lalu TAXI membukukan rugi bersih Rp 81,8 miliar.
PT Blue Bird Tbk (BIRD) pada
triwulan ketiga tahun ini melorot di tengah lesunya bisnis taksi
konvensional. Meski masih membukukan laba, namun jumlahnya turun
dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam
laporan keuangan kuartal III-2017 yang dirilis 27 Oktober 2017, laba
perusahaan berkode saham BIRD ini turun dari Rp 360,87 miliar menjadi Rp
302,12 miliar di kuartal III-2017. Salah
satu penyebab turunnya laba, karena pendapatan BIRD juga turun. Di
triwulan ketiga ini, pendapatan perusahaan turun 14,1% yoy menjadi Rp
3,13 triliun. Di periode yang sama tahun lalu, perusahaan mampu meraup
pendapatan sebesar Rp 3,64 triliun. Bisnis
taksi yang merupakan kontributor pendapatan terbesar, turun sebesar
15,54% yoy menjadi Rp 2,59 triliun. Bisnis sewa kendaraan juga melandai
5,34% dari Rp 611,39 miliar menjadi Rp 578,71 miliar. Meski
begitu, perusahaan berhasil melakukan efisiensi. Diantaranya beban
langsung yang menurun 13,27% yoy dan beban bunga yang terpangkas 32,64%
yoy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar