Senin, November 20

Morning Update IPOT 20 November 2017

Market Wrap

Indeks di bursa Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup melemah seriring dengan belum pastinya kapan recana reformasi perpanjakan akan di sahkan menjadi undang-undang karena masih adanya perbedaan padangan antara Senat dan House of representative mengenai pemberlakukan pemangkasan pajak perusahaan dari 35% menjadi 20%, apakah tahun ini atau tahun depan. Dow Jones ditutup melemah 100,12 poin (-0,43%) di level 23.358, S&P 500 berkurang -6,79 poin (-0,26%) di level 2.578, Nasdaq terkoreksi 10,50 poin (-0,15%) di level 6.782. Pagi ini indeks di bursa Asia dibuka bervariasi dan nilai tukar rupiah juga dibuka menguat 6 poin (0,04%) di level 13.525.

Technical Ideas

Terkoreksinya bursa global yang dipicu oleh kekhawatiran akan ketidakpastian reformasi perpajakan di Amerika di prediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar disisi lain menguat harga minyak mentah, nikel dan rupiah diprediksi akan menopang pergerakan indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan support di level 6.025 dan resistance di 6.075. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:

·          BBTN (Spec Buy, Support: Rp2.930, Resist: Rp3.040)
·          PTPP (Spec Buy, Support: Rp2.750, Resist: Rp2.870)
·          CTRA (Spec Buy, Support: Rp1.180, Resist: Rp1.210)
·          INTP (Spec Buy, Support: Rp19.550, Resist: Rp20.250)
                                                              
News Highlight

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) baru saja mengakuisisi PT Bosnet Distribution Indonesia pada tanggal 13 November yang lalu melalui PT Sigma Cipta Caraka (Telkom Sigma). Dengan akuisisi ini, TLKM menjadi pemegang saham mayoritas Bosnet. Aksi korporasi ini diharapkan dapat memperkuat portofolio Telkom Sigma, khususnya penguatan ekosistem bisnis e-logistic dan e-commerce Telkom Grup dan memperkuat sinergi Telkom dalam bisnis logistik. Asal tahu saja, beberapa waktu yang lalu TLKM dikabarkan telah mempersiapkan akuisisi terhadap tiga perusahaan. Meski demikian, belum disebutkan siapa saja nama perusahaan tersebut. Namun, jika ditotal nilai pasar ketiga perusahaan itu di atas Rp 10 triliun.

PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengatakan bahwa untuk melunasi utang jatuh tempo hingga akhir tahun, perusahaan tersebut akan mengandalkan kas internal. Hal ini karena utang jatuh tempo EXCL hingga akhir tahun belum terlalu signifikan. Mengutip laporan keuangan EXCL per September 2017, disebutkan bahwa utang jatuh tempo EXCL yang kurang dari 1 tahun berjumlah Rp 3,36 triliun, sementara utang dengan jatuh tempo antara 1 tahun sampai 2 tahun Rp 4,45 triliun. EXCL juga menyisakan utang dengan jatuh tempo lebih dari 2 tahun sebanyak Rp 5,56 triliun.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) mencatat volume penjualan sebesar 1,7 juta ton semen domestik di Oktober 2017. Adapun year to date (ytd) Oktober 2017, total volume penjualan semen domestik INTP menjadi 14 juta ton. Melihat volume penjualan pada bulan-bulan sebelumnya, INTP memang mencatatkan kenaikan penjualan sejak Juli 2017. Meski demikian, Manajemen bilang perusahaan optimis target penjualan akhir tahun akan tercapai. Dimuat Kontan sebelumnya, target pertumbuhan INTP secara year on year adalah sebesar 5%. Sebagai catatan, di 2016 INTP mencatat penjualan semen sebesar 16 juta ton untuk domestik, dengan pendapatan neto sebesar Rp 15,36 triliun. Untuk diketahui, anak Usaha Grup Salim ini menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,7 triliun di 2017.

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) merealisasikan anggaran belanja modal sekitar Rp500 miliar sampai Oktober 2017 atau sekitar 73% dari target Rp682 miliar sepanjang tahun. Direktur Keuangan Wika Beton Muhammad Syafii mengatakan sebagian besar anggaran belanja modal pada 2017 sudah dibelanjakan oleh perusahaan. Syafii mengatakan sebagian besar belanja modal itu digunakan oleh perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Salah satu usaha perseroan untuk meningkatkan aktivitas adalah melalui perluasan pabrik di Lampung Selatan. Untuk rencana anggaran belanja modal pada 2018, Syafii mengatakan anggaran itu mungkin tidak sebesar pada 2017. Manajemen Wika Beton sedang menghitung anggaran tersebut pada saat ini. Sebagai gambaran, anak usaha BUMN konstruksi, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. tersebut mengincar pertumbuhan kinerja sekitar 20% pada 2018 dibandingkan dengan realisasi pada 2017.

PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) membukukan penjualan sebesar Rp 3,14 triliun per September 2017. Besar penjualan ini meningkat 11,09% year on year (yoy). Di periode sama tahun 2016, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi ini mencatat penjualan sebesar Rp 2,83 triliun. Berdasarkan laporan keuangan ATIC yang berakhir pada periode 30 September 2017, perusahaan ini mencatat peningkatan penjualan dari bisnis produk dan jasa. Penjualan produk meningkat 3,92% yoy menjadi Rp 2,44 triliun. Besar penjualan dari bisnis jasa meningkat signifikan 67,40% yoy menjadi Rp 349,26 miliar. Seiringan dengan peningkatan penjualan, beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan. Per September 2016, tercatat beban pokok penjualan sebesar Rp 2,41 triliun. hingga kuartal III-2017 ini, jumlah beban pokok penjualan naik menjadi Rp 2,66 triliun. Beban usaha juga tercatat naik 6,44% yoy menjadi Rp 358,14 miliar. Meski demikian, ATIC mampu mencatat laba sebesar Rp 13,35 miliar, meningkat 30,35% yoy. Pada periode ama tahun 2016, ATIC membukukan laba sebesar Rp 10,24 miliar.

PT Hanson Internasional Tbk (MYRX) bakal terus menambah cadangan lahan sejalan dengan pengembangan Kota Baru Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Hal ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan lahan sebagai modal pembangunan hunian. Direktur Utama Hanson, Benny Tjokrosaputro mengatakan perseroan bersama PT Ciputra Residence, anak usaha PT Ciputra Development Tbk. dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk. telah mengembangkan lahan seluas 500 hektare di Maja untuk proyek Citra Maja Raya. Total luas pengembangan Citra Maja Raya mencapai 2.000 hektare. Berdasarkan laporan keuangan Hanson, per September 2017 luas lahan yang belum dikembangkan perseroan mencapai 3.253,45 hektare. Jumlah tersebut menyusut dari posisi September 2016 seluas 3.390,35 hektare. Nilai aset cadangan lahan milik Hanson per September 2017 mencapai Rp4,87 triliun. Benny menuturkan, hingga saat ini perseroan mulai membukukan pendapatan dari prapenjualan atau marketing sales. Per September 2017 total pendapatan perusahaan bersandi saham MYRX itu dari penjualan rumah mencapai Rp117 miliar atau meningkat 21%. Adapun total pendapatan Hanson dalam sembilan bulan 2017 mencapai Rp819,58 miliar atau naik 11%. Pendapatan tersebesar disumbang dari penjualan tanah dengan porsi mencapai 85%.
                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar