Market Wrap
Indeks
di bursa saham Wall Street pada perdagangan hari Kamis ditutup
bervariasi setelah Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve memutuskan untuk
menahan suku bunga, namun investor tetap berekspektasi bahwa akan ada
kenaikan suku bunga di bulan Desember. Dow Jones naik +57 poin (+0,25%) di level 23.435, S&P 500 ditutup menguat +4 poin (+0,16%) di level 2.579, Nasdaq terkoreksi -11 poin (-0,17%) di level 6.716. Pagi ini bursa Asia dibuka di zona hijau, sementara itu nilai tukar rupiah dibuka melemah -8 poin (-0,06%) di level 13.571.
Technical Ideas
Menguatnya
harga komoditas dunia serta stabilnya data ekonomi dalam negeri
diprediksi menjadi faktor pendorong indeks hari ini. IHSG diprediksi
bergerak menguat terbatas pada rentang support di level 6.015 dengan resistance
di 6.060. Pergerakan aliran dana investor asing menjadi salah satu poin
yang bisa dicermati, mengingat investor asing masih mendominasi
pergerakan IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
· MAPI (Buy, TP: Rp6.750, Support: Rp6.550)
· EXCL (Spec Buy, TP: Rp3.620, Support: Rp3.380)
· BMTR (Spec Buy, TP: Rp615, Support: Rp585)
· SRIL (Spec Buy, TP: Rp376, Support: Rp364)
News Highlight
PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) Penjualan
semen yang belum dapat diakui ke dalam pendapatan menyebabkan penjualan
emiten turun. Pada periode Januari-September 2017, SMBR mencatat
penurunan pendapatan sebesar 4,2% menjadi Rp 999,6 miliar. Di periode
yang sama tahun lalu, perusahaan berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp
1,04 triliun. Direktur
Utama SMBR Rahmad Pribadi mengatakan, penurunan ini merupakan dampak
dari penjualan semen dari salah satu pabrik milik perusahaan yang belum
bisa diakui ke dalam pendapatan. "Selama bulan Juli-Agustus, terdapat
semen dari Pabrik Baturaja II yang dijual dan tidak bisa diakui sebagai revenue karena masih dalam status trial dan
menjadi biaya negatif untuk pabrik tersebut. Namun per 1 September
lalu, Pabrik Baturaja II sudah komersil dan penjualannya mulai dibukukan
sebagai revenue,".
PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) Kinerja keuangan emiten hingga kuartal III-2017 menurun. Penurunan terjadi pada sisi keuntungan perusahaan. Pada
periode sembilan bulan pertama tahun ini, POWR mencatatkan laba bersih
US$ 79,24 juta. Angka ini susut 27% dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya, US$ 109,41 juta. POWR
mampu mencatat kenaikan pendapatan 3% menjadi US$ 309,79 juta dari
sebelumnya US$ 408,16 juta pada periode kuartal III-2016. Beban pokok
perusahaan listrik ini juga tidak naik signifikan. POWR mencatat beban
pokok US$ 275,28 juta, hanya naik 1% dari sebelumnya US$ 271,43 juta.
PT United Tractors Tbk (UNTR) Pendapatan penjualan perusahaan
hingga sembilan bulan tahun ini mencapai Rp46,3 triliun, sudah
melampaui capaian kinerja setahun penuh 2016 yang senilai Rp45,5
triliun. Kontributor
terbesar atas pendapatan penjualan perseroan yakni dari kontraktor
pertambangan yakni Rp21,22 triliun atau 46%, disusul mesin konstruksi
Rp17,44 triliun atau 38%, pertambangan Rp5,65 triliun atau 12%, dan
industri konstruksi Rp1,95 triliun atau 4%. Sejalan
dengan meningkatnya pendapatan, laba bruto perseroan juga meningkat
sebesar 59% dari Rp6,6 triliun menjadi Rp10,4 triliun. Adanya
peningkatan penghasilan keuangan dan berkurangnya beban lain-lain,
membuat laba sebelum pajak penghasilan meningkat 90% menjadi Rp7,9
triliun. Setelah
dikurangi beban pajak penghasilan periode berjalan sebesar Rp2,0
triliun, laba periode berjalan menjadi sebesar Rp5,9 triliun, naik dari
Rp3,2 triliun. Keseluruhan hasil tersebut, membuat laba yang
diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih perseroan
adalah sebesar Rp5,6 triliun, naik 80% dibandingkan dengan periode yang
sama tahun 2016.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan kembali menganggarkan belanja modal tahun 2018 senilai Rp1,6 triliun, relatif sama dengan anggaran belanja modal tahun ini. Sancoyo
Antariksa, Direktur Independen dan Sekretaris Perusahaan Unilever
Indonesia, mengatakan bahwa hingga September tahun ini, perseroan sudah
merealisasikan Rp1,3 triliun dari target belanja modal Rp1,6 triliun
hingga akhir tahun. Belanja
modal perseroan tahun ini digunakan untuk penambahan kapasitas produksi
di 9 pabrik yang dimiliki perseroan, penyelesaian sebagian pembangunan
gedung, dan penambahan cabinet ice cream. Tahun
depan, perseroan masih akan melanjutkan pengembangan kapasitas produksi
di pabrik yang sudah ada tanpa menambah pabrik baru. Selain itu,
anggaran belanja modal juga dimanfaatkan untuk penguatan distribusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar