Jumat, November 17

Morning Update IPOT 17 November 2017

Market Wrap
Indeks di bursa Wall Street pada perdagangan hari Kamis ditutup di zona hijau ditopang oleh penguatan saham Wal-Mart (10,9%) dan Cisco System (5,2%) setelah kedua emiten tersebut melaporkan pendapatan dan laba bersih yang lebih baik dari ekspektasi. Sementara itu disahkannya rencana reformasi perpajakan yang salah satu isinya memangkas pajak perusahaan menjadi 20% dari 35% oleh DPR USA turut memberikan sentimen positif di pasar.  Dow Jones membukukan kenaikan 187,08 poin (0,80%) di level 23.458, S&P 500 bertambah 21,02 poin (0,82%) di level 2.585, Nasdaq naik 87,08 poin (1,30%) di level 6.793. Pagi ini indeks di bursa Asia dibuka menguat, nilai tukar rupiah juga dibuka menguat 27 poin (0,20%) di level 13.512.

Technical Ideas
Menguatnya indeks bursa global dan regional seiring dengan disahkannya rancangan reformasi perpajakan oleh DPR USA serta dipertahankannya suku bunga acuan BI 7-Days RR dilevel 4,25% diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar. IHSG diprediksi akan melanjutkan penguatannya dengan support di level 5.995 dan resistance di 6.080. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
  • BMRI (Spec Buy, Support: Rp6.975, Resist: Rp7.225)
  • LSIP (BoW, Support: Rp1.470, Resist: Rp1.495)
  • ASII (Spec Buy, Support: Rp8.175, Resist: Rp8.325)
  • BBRI (Spec Buy, Support: Rp3.150, Resist: Rp3.270)

News Highlight

PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) mengakui bahwa saat ini tingkat okupansi hotelnya tak terlalu mencatatkan performa yang apik. Hal tersebut menurut manajemen HOME terjadi karena lemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Demi meningkatkan tingkat okupansi tersebut, maka perusahaan ini mencoba untuk melakukan renovasi pada hotel utamanya. Nantinya, renovasi tersebut akan memakan pendanaan sebesar Rp 28 miliar. Meski demikian, harus diakui dengan hanya mengoperasikan hotel bujet saja, kemungkinan pendapatan perusahaan tersebut di tahun 2018 yang akan datang bakalan mencatatkan penurunan.
PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) berniat menjual sebanyak-banyaknya 700.000 saham hasil pembelian kembali atau buyback. ROTI telah membuka tenggat waktu buyback sejak 2015. Sejak saat itu, perusahaan tercatat dua kali melakukan buyback. Buyback pertama dilakukan pada 2 September 2015 atas 500.000 saham dengan nilai transaksi Rp 539,58 juta. Transaksi kedua dilakukan pada 28 September 2015. Buyback dilakukan atas 200.000 saham dengan nilai pembelian Rp 227,63. Sehingga, total dana yang dikeluarkan Rp 767,2 juta. Dengan kata lain, rata-rata harga buyback saham ROTI berada pada level Rp 1.096 per saham.

PT Timah Tbk (TINS) Sebanyak 4,84 miliar saham seri B yang dimiliki Negara Republik Indonesia akan dialihkan ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Pengalihan saham ini akan mengakibatkan status TINS sebagai perseroan berubah menjadi non-perseroan. TINS mengumumkan penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Berdasarkan peraturan tersebut, sebanyak 4,84 miliar saham seri B milik Negara Republik Indonesia di TINS, akan dialihkan ke Inalum sebagai tambahan penyertaan modal Negara di Inalum. Akibatnya, 65% saham seri B TINS akan dimiliki Inalum dan 35% lainnya dimiliki publik. Meskipun terjadi pengalihan saham seri B kepada Inalum, TINS akan tetap diberlakukan sama dengan BUMN, dalam beberapa hal. Aturannya tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2016 tetntang perubahan atas peraturan pemerintah Nomor 44 tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas.

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) optimistis kinerja tahun depan masih akan positif. Pertumbuhan double digit masih bisa diperoleh emiten pelat merah tersebut. Melihat kondisi tersebut, manajemen optimistis perolehan kontrak tahun depan tumbuh 24%. Tahun ini, WIKA menargetkan perolehan kontrak Rp 103,25 triliun. Hingga kuartal III-2017, realisasinya sudah lebih dari 90%. Jika target tahun ini 100% terpenuhi, maka perolehan kontrak tahun depan WIKA bisa tumbuh jadi sekitar Rp 128,03 triliun. Dibalik proyeksi kontrak baru tersebut, WIKA memprediksi pendapatannya juga bisa tumbuh double digit, diatas 20%. Dari segi laba bersih, Bintang memprediksi pertumbuhan laba bersih tahun depan bisa mencapai 27% hingga 30%. WIKA menargetkan pendapatan tahun ini Rp 25,75 triliun. Target laba bersihnya dipatok pada angka Rp 1,22 triliun

PT PP Properti Tbk (PPRO) kembali menerbitkan medium term notes dengan nama MTN X PP Properti Tbk. senilai Rp200 miliar. Pembayaran bunga akan dilakukan tiap tiga bulan sekali dengan pembayaran pertama pada 16 Februari 2018. MTN tersebut memiliki tenor 3 tahun atau akan jatuh tempo pada 16 November 2020. Sebelumnya, PPRO sudah 4 kali menerbitkan MTN tahun ini. Pertama, MTN VI PP Properti Tbk. senilai Rp287 miliar pada 30 Agustus 2017 dengan tenor 3 tahun dan bunga 10%. Kedua, MTN VII PP Properti Tbk. senilai Rp300 miliar, terbagi dalam dua seri. Seri A diterbitkan pada 20 September 2017 senilai Rp250 miliar, sedangkan Seri B diterbitkan pada 29 September 2017 dengan nilai Rp50 miliar. Keduanya diterbitkan dengan tenor 3 tahun dan kupon 10%. Ketiga, MTN VIII PP Properti Tbk. dengan nilai pokok Rp200 miliar pada 20 Oktober 2017. MTN ini diterbikan dengan bunga lebih tinggi yakni 10,15% per tahun dan tenor 3 tahun. Keempat, MTN IX PP Properti Tbk. dengan nilai pokok Rp213 miliar pada 3 November 2017 dengan tenor 3 tahun dan bunga 9,75% per tahun. Dari empat kali penerbitan MTN tersebut, PPRO sudah mengantongi dana Rp1 triliun. Dengan demikian, penerbitan MTN X kali ini merupakan penerbitan MTN terakhir tahun ini yang menggenapi target penerbitan Rp1,2 triliun.

PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) meraih pendapatan sebesar Rp7,96 miliar hingga periode 30 September 2017 hampir flat dibandingkan pendapatan Rp7.95 miliar di periode sama tahun sebelumnya. laporan keuangan perseroan Jumat menyebutkan, beban pokok pendapatan naik menjadi Rp2,78 miliar dari Rp2,17 miliar membuat laba bruto turun menjadi Rp5,17 miliar dibandingkan laba bruto Rp5,78 miliar tahun sebelumnya. Rugi usaha naik menjadi Rp730,28 juta dari rugi usaha Rp242,56 juta tahun sebelumnya dan rugi sebelum pajak penghasilan naik menjadi Rp757,61 juta dari rugi sebelum pajak penghasilan Rp286,82 juta tahun sebelumnya. Namun perseroan mencatat manfaat pajak sebesar Rp929,57 juta dimana tidak tercatat manfaat atau beban pajak di tahun sebelumnya yang membuat laba neto tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp171,95 juta dari rugi Rp153,34 juta hingga September tahun sebelumnya. Jumlah aset perseroan mencapai Rp125,30 miliar hingga 30 September 2017 naik dibandingkan jumlah aset Rp117,11 miliar hingga 31 Desember 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar