Market Wrap
Pada perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street kembali berakhir di zona merah disumbang pelemahan saham sektor energi seiring dengan terkoreksinya harga minyak mentah setelah IEA menurunkan outlook permintaan global di tahun 2017 dan 2018 sebesar 100.000 bpd dan naiknya data cadangan minyak serta bensin. Sementara itu belum pastinya hasil dari rencana reformasi perpajakan juga masih menjadi sentimen negatif di pasar. Pagi ini bursa Asia dibuka menguat, sedangkan nilai tukar rupiah dibuka melemah 5 poin (0,04%) di level 13.540.
Technical Ideas
Sentimen negatif dari bursa global dan kembali melemahanya harga komoditas serta masih belum redanya aksi jual investor asing diprediksi akan menjadi penekan bagi pergerakan indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan support di level 5.945 dan resistance di 6.000. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
- ADHI (Buy, Support: Rp2.190, Resist: Rp2.270)
- BBCA (Spec Buy, Support: Rp20.600, Resist: Rp21.450)
- MEDC (SoS, Support: Rp780, Resist: Rp815)
- TLKM (Spec Buy, Support: Rp4.090, Resist: Rp4.170)
News Highlight
PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mengincar pertumbuhan kinerja sekitar 20% pada 2018 dibandingkan dengan realisasi pada 2017. Direktur Keuangan Wika Beton Mohammad Syafii mengatakan pihaknya masih menyusun rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) pada 2018. Dengan demikian, pihaknya belum bisa memerinci target kinerja keuangan pada tahun depan. Kendati demikian, Syafii mengungkapkan perusahaan berharap dapat tumbuh 20% pada 2018. Syafii mengatakan pihaknya berharap kinerja tahun depan ditopang oleh proyek-proyek pembangkit listrik.
PT Matahari Department Store Tbk (MPPA) berencana membuka tiga gerai baru. Di antaranya dua gerai department store pada November, dan satu gerai specialty store Nevada pada Desember. Dua gerai departement store tersebut berlokasi di Baturaja dan Lahat. Kedua kota tersebut berada di Sumatra Selatan. Matahari Baturaja akan dibuka pada 23 November 2017 dan Matahari Lahat pada 30 November 2017. Sedangkan satu gerai specialty store Nevada akan dibuka di Pakuwon Mall, Surabaya. Richard Gibson, CEO dan Vice President Director LPPF mengatakan, dua gerai department store akan dibuka di kota-kota yang baru bagi LPPF. Ini membuka kesempatan kepada perusahaan untuk memberikan berbagai pilihan produk merchandise pada dua pasar yang baru.
PT Elnusa Tbk (ELSA) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 300 miliar sepanjang tahun ini. Sebagian besar capex tersebut sudah terserap. Capex tersebut digunakan untuk membantu perusahaan mengejar targetnya tahun ini. Tahun 2016, pendapatan ELSA sebesar Rp 3,62 triliun. Artinya, perusahaan menargetkan pendapatan sekitar Rp 3,98 triliun. Realisasinya hingga September 2017 sebesar Rp 3,3 triliun. Artinya masih ada sekitar Rp 600 miliar lagi yang harus ELSA kejar. Perusahaan akan mengejar sisa target pendapatan itu melalui kontrak yang akan diperoleh. Total kontrak ELSA semester I-2017 sekitar Rp 4,5 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 1,1 triliun merupakan kontrak baru. Dengan kinerja tersebut, manajemen optimistis laba bersihnya hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp 150 miliar hingga Rp 190 miliar.
PT Suparma Tbk (SPMA) optimistis meraih pendapatan sebesar Rp2,1 triliun dari penjualan 214.000 ton pada 2017. manajemen SPMA menyampaikan target pendapatan sepanjang 2017 mencapai Rp2,1 triliun. Angka itu naik 8,9% year on year (yoy) dari realisasi tahun lalu sejumlah 1,93 triliun. Untuk memacu pendapatan, perusahaan akan memacu kapasitas produksi menjadi 214.200 ton per tahun, meningkat 4,44% yoy dari 2016 sebesar 205.111 ton per tahun. Perbaikan penjualan bersih turut mendongkrak laba kotor perseroan pada tahun ini menjadi Rp316 miliar, dan laba usaha menuju Rp158 miliar.
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan marketing sales senilai Rp6,2 triliun, atau setara 73% dari target. Bila dibandingkan dengan capaian marketing sales September 2017 yang mencapai Rp5,25 triliun, tercatat bahwa pada Oktober 2017, perseroan memperoleh tambahan hingga Rp1 triliun. Adapun, target marketing sales hingga akhir tahun mencapai Rp8,5 triliun, atau tumbuh 18% year on year. Pada akhir tahun lalu, emiten bersandi saham CTRA mencatatkan realisasi prapenjualan mencapai Rp7,18 triliun pada akhir 2016. Hingga September 2017, pendapatan CTRA mencapai Rp4,34 triliun, tergerus 1,58% dari posisi Rp4,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan ini pun membuat laba CTRA terkontraksi hingga 8% yoy menjadi Rp566,24 miliar hingga September 2017.
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berencana memperbesar aset divisi usaha yang mengelola kawasan multiguna di sekitar stasiun kereta ringan (LRT) atau transit oriented development (TOD). Direktur Adhi Karya Budi Saddewa Soediro mengatakan perseroan berencana melakukan pemisahan (spin off) divisi TOD tersebut menjadi anak perusahaan pada Januari 2018. Rencana itu sendiri sudah disetujui oleh dewan komisaris Adhi Karya. Budi mengatakan pihaknya akan memperbesar aset calon anak usaha itu menjadi Rp3 triliun pada 2018 dibandingkan dengan Rp1,5 triliun pada saat ini. Aset itu dibesarkan melalui pengalihan lahan yang akan dimiliki oleh Adhi Karya ke anak usaha itu. Dana itu sendiri berasal dari hasil penerbitan saham baru (rights issue) sebesar Rp1,3 triliun yang diperoleh Adhi Karya pada 2015. Dengan demikian, ketika proses spin off selesai, aset anak usaha baru itu akan mencapai Rp3 triliun. Menurutnya, setelah spin off, anak usaha Adhi Karya yang mengelola TOD itu bukan tidak mungkin akan melakukan IPO pada 2018 atau 2019. Budi mengatakan Adhi Karya akan mengelola 5 TOD stasiun LRT.
PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) Pendapatan perseroan di kuartal ketiga tahun ini tumbuh hingga lebih dari 200%. Pendapatan dari perdagangan efek dan penjualan voucher elektronik mendongkrak kinerja perusahaan. perusahaan yang bergerak di sektor keuangan ini mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 202,69% year on year(yoy) menjadi Rp 597,34 miliar. Di periode yang sama tahun lalu, perusahaan hanya memperoleh pendapatan Rp 197,34 miliar. Lonjakan pendapatan ini bersumber dari kenaikan keuntungan perdagangan efek dari Rp 153,47 miliar menjadi Rp 342,18 miliar atau naik 122,95% yoy. Selain itu, Kresna Graha juga mendapat pendapatan tambahan dari penjualan voucher elektronik yang berkontribusi 30,45% dari total pendapatan perusahaan. Meski begitu, emiten sektor keuangan ini masih membukukan pertumbuhan laba. KREN berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 289,16 miliar, naik 177,58% yoy dari sebelumnya Rp 104,17 miliar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar