Market Wrap
Pada
perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street ditutup melemah, dipicu
oleh turunnya saham GE electric, kekhawatiran akan potensi pelemahan
ekonomi global dan belum adanya hasil final dari reformasi perpajakan
yang sudah ditunggu-tunggu oleh investor. Dow Jones ditutup melemah
30,23 poin (-0,13%) pada level 23.409,47, S&P500 terkoreksi 5,97
poin (-0,23%) pada level 2.578,87 dan Nasdaq berkurang 19,72 poin
(-0,29%) pada level 6.737,87. Pagi ini bursa Asia dibuka melemahi, dan nilai tukar rupiah dibuka menguat 9 poin (0,07%) di level 13.542.
Technical Ideas
Terkoreksinya
bursa global dan regional dan melemahanya harga komoditas dipresiksi
akan menjadi sentimen negatif bagi indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentang support di level 5.960 dan resistance di 6.015. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
· GGRM (SELL, Support: Rp74.225, Resist: Rp77.500)
· PGAS (Spec Buy, Support: Rp1.770, Resist: Rp1.880)
· ASRI (BoW, Support: Rp384, Resist: Rp396)
· UNTR (Spec Buy, Support: Rp34.050, Resist: Rp33.000)
News Highlight
PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) akan menggandeng Korea Selatan membangun low cost housing dengan menggunakan dana penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp541 miliar. Direktur Keuangan PTPP Agus Purbianto mengungkapkan, perseroan akan menggandeng Hanwa dari Korea Selatan untuk mengembangkan low cost housing
dengan metode yang efisien dan cepat. Dia mengungkapkan, perseroan
telah menetapkan beberapa lokasi untuk membangun rumah yakni di
Tangerang, Sudimara dan beberapa kawasan lain. Dia
mengungkapkan, pangsa pasar dari proyek ini adalah masyarakat yang
memiliki penghasilan rendah. Adapun, pembangunan akan dilakukan dalam
tiga tahap.
PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) menjual kapal Concertina untuk melunasi utang kepada PT Bank ICBC Indonesia. Direktur
Trada Alam Minera Ismail mengungkapkan aset yang dilepas adalah yang
tidak beroperasi. Dia mengungkapkan, bila aset yang tidak digunakan
tetap berada di perseroan, maka akan menjadi beban operasional
perseroan. Ismail
mengungkapkan, penyusutan kewajiban periode Januari--September 2017
mencapai US$5,73 juta. Selain itu, perseroan juga melakukan penyelesaian
uang muka obligasi konversi untuk penyelesaian hutang perseroan IFC dan
BTMU.
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) menargetkan dua pabrik di Papua Barat dan Jawa Timur dengan total investasi senilai US$29,4 juta dapat rampung pada tahun depan. Direktur
Keuangan ANJT Lucas Kurniawan menyampaikan, manajemen akan merampungkan
pengembangan dua pabrik senilai US$29,4 juta. Pabrik pertama merupakan
fasilitas pengolahan minyak kelapa sawit (CPO), minyak kernel sawit
(PKO), dan sagu di Papua Barat yang menelan investasi sekitar US$23
juta. Adapun pabrik
kedua merupakan pengolahan edamame di Jawa Timur yang menyerap investasi
senilai US$6,4 juta. Fasilitas ini dibangun mulai Oktober 2017, dan
diharapkan dapat melakukan ekspor perdana edamame beku pada paruh
pertama 2019 setelah mendapat sertifikasi keamanan pangan.
PT Rimo International Tbk (RIMO) pendapatan
perseroan pada periode sembilan bulan tahun ini mencapai Rp247 miliar.
Nilai ini melonjak 2.644% dibandingkan dengan periode yang sama tahun
lalu yang hanya Rp9,16 miliar. Kepada
otoritas Bursa, manajemen RIMO menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan
yang sangat tipis pada kuartal ketiga ini terjadi karena RIMO hanya
merealisasikan penjualan 1 unit apartemen. Di
sisi lain, peningkatan beban pokok penjualan yang tinggi terjadi
lantaran karena perseroan menyesuaikan laporan keuangan perseroan dengan
laporan keuangan dari perusahaan kerjasama operasi (KSO). Tujuan
KSO adalah untuk pengembangan unit-unit bangunan hunian dan/atau non
hunian di atas tanah proyek serta sarana dan prasarana pendukung
lainnya.
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) meraih 2 penghargaan sekaligus dalam acara Top Capital Market 2017. Penghargaan
diberikan kepada perusahaan publik dan manajer investasi yang terdaftar
dalam Bursa Efek Indonesia yang memiliki kinerja dan prospek bisnis
yang baik. Manajemen
perseroan mengungkapkan, perlambatan dalam sektor ritel yang terjadi
saat ini tidak mempengaruhi performa yang ditunjukkan oleh Matahari. Hal
ini terbukti dengan diraihnya 2 penghargaan sebagai Top Corporate
Reputation dan Top Emiten untuk sektor ritel.
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menawarkan
3 seri obligasi dalam penawaran umum berkelanjutan (PUB) I dengan nilai
maksimum Rp1 triliun. Untuk tahap pertama, perseroan akan menerbitkan
obligasi dengan target dana Rp500 miliar. Presiden
Direktur TPIA Erwin Ciputra mengatakan dalam aksi korporasi ini
perseroan memberikan pilihan ke masyarakat untuk memilih jangka waktu
yang dikehendaki. Perseroan menawarkan 3 seri obligasi. Menurutnya, dana yang diperoleh akan digunakan seluruhya untuk pembayaran sebagian utang berdasarkan Facility Agreement US$94,98 Million Single Currency Term Facility yang diperoleh perseroan pada 2015. Dia optimistis obligasi ini akan mendapatkan respons yang positif dari investor dengan didukung oleh pengalaman dan track record
perseroan yang teruji selama 25 tahun di bidang petrokimia, manajemen
operasi yang berpengalaman, kinerja usaha dan keuangan yang baik
didukung reputasi tinggi dari perseroan.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjual
obligasi wajib konversi (OWK) hasil penerbitan anak usahanya. Dian
Swastatika mengungkapkan penjualan obligasi wajib konversi (OWK) PT
Innovate Mas Indonesia, anak perusahaan DSSA, yang dimiliki perseroan
kepada PT DSSA Mas Sejahtera. Hal
itu berdasarkan kesepakatan tertanggal 10 November 2017 yang dibuat
antara perusahaan dan PT DSSA Mas Sejahtera, anak perusahaan DSSA dengan
kepemilikan langsung lebih dari 99%. "Nilai
transaksi yang disepakati adalah Rp 61,17 miliar. Nilai transaksi ini
merupakan bagian dari restrukturisasi internal perseroan," kata Hermawan
Tarjono, Direktur DSSA. Penjualan dan pembelian OWK ini, tidak memiliki dampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar