Rabu, November 15

Morning Update IPOT 15 November 2017

Market Wrap

Pada perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street ditutup melemah, dipicu oleh turunnya saham GE electric, kekhawatiran akan potensi pelemahan ekonomi global dan belum adanya hasil final dari reformasi perpajakan yang sudah ditunggu-tunggu oleh investor. Dow Jones ditutup melemah 30,23 poin (-0,13%) pada level 23.409,47, S&P500 terkoreksi 5,97 poin (-0,23%) pada level 2.578,87 dan Nasdaq berkurang 19,72 poin (-0,29%) pada level 6.737,87.  Pagi ini bursa Asia dibuka melemahi, dan nilai tukar rupiah dibuka menguat 9 poin (0,07%) di level 13.542.

Technical Ideas

Terkoreksinya bursa global dan regional dan melemahanya harga komoditas dipresiksi akan menjadi sentimen negatif bagi indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentang support di level 5.960 dan resistance di 6.015. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:

·          GGRM (SELL, Support: Rp74.225, Resist: Rp77.500)
·          PGAS (Spec Buy, Support: Rp1.770, Resist: Rp1.880)
·          ASRI (BoW, Support: Rp384, Resist: Rp396)
·          UNTR (Spec Buy, Support: Rp34.050, Resist: Rp33.000)
                                                              
News Highlight

PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) akan menggandeng Korea Selatan membangun low cost housing dengan menggunakan dana penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp541 miliar. Direktur Keuangan PTPP Agus Purbianto mengungkapkan, perseroan akan menggandeng Hanwa dari Korea Selatan untuk mengembangkan low cost housing dengan metode yang efisien dan cepat. Dia mengungkapkan, perseroan telah menetapkan beberapa lokasi untuk membangun rumah yakni di Tangerang, Sudimara dan beberapa kawasan lain. Dia mengungkapkan, pangsa pasar dari proyek ini adalah masyarakat yang memiliki penghasilan rendah. Adapun, pembangunan akan dilakukan dalam tiga tahap.

PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) menjual kapal Concertina untuk melunasi utang kepada PT Bank ICBC Indonesia. Direktur Trada Alam Minera Ismail mengungkapkan aset yang dilepas adalah yang tidak beroperasi. Dia mengungkapkan, bila aset yang tidak digunakan tetap berada di perseroan, maka akan menjadi beban operasional perseroan. Ismail mengungkapkan, penyusutan kewajiban periode Januari--September 2017 mencapai US$5,73 juta. Selain itu, perseroan juga melakukan penyelesaian uang muka obligasi konversi untuk penyelesaian hutang perseroan IFC dan BTMU.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) menargetkan dua pabrik di Papua Barat dan Jawa Timur dengan total investasi senilai US$29,4 juta dapat rampung pada tahun depan. Direktur Keuangan ANJT Lucas Kurniawan menyampaikan, manajemen akan merampungkan pengembangan dua pabrik senilai US$29,4 juta. Pabrik pertama merupakan fasilitas pengolahan minyak kelapa sawit (CPO), minyak kernel sawit (PKO), dan sagu di Papua Barat yang menelan investasi sekitar US$23 juta. Adapun pabrik kedua merupakan pengolahan edamame di Jawa Timur yang menyerap investasi senilai US$6,4 juta. Fasilitas ini dibangun mulai Oktober 2017, dan diharapkan dapat melakukan ekspor perdana edamame beku pada paruh pertama 2019 setelah mendapat sertifikasi keamanan pangan.

PT Rimo International Tbk (RIMO) pendapatan perseroan pada periode sembilan bulan tahun ini mencapai Rp247 miliar. Nilai ini melonjak 2.644% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu  yang hanya Rp9,16 miliar. Kepada otoritas Bursa, manajemen RIMO menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan yang sangat tipis pada kuartal ketiga ini terjadi karena RIMO hanya merealisasikan penjualan 1 unit apartemen. Di sisi lain, peningkatan beban pokok penjualan yang tinggi terjadi lantaran karena perseroan menyesuaikan laporan keuangan perseroan dengan laporan keuangan dari perusahaan kerjasama operasi (KSO). Tujuan KSO adalah untuk pengembangan unit-unit bangunan hunian dan/atau non hunian di atas tanah proyek serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) meraih 2 penghargaan sekaligus dalam acara Top Capital Market 2017. Penghargaan diberikan kepada perusahaan publik dan manajer investasi yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang memiliki kinerja dan prospek bisnis yang baik. Manajemen perseroan mengungkapkan, perlambatan dalam sektor ritel yang terjadi saat ini tidak mempengaruhi performa yang ditunjukkan oleh Matahari. Hal ini terbukti dengan diraihnya 2 penghargaan sebagai Top Corporate Reputation dan Top Emiten untuk sektor ritel.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menawarkan 3 seri obligasi dalam penawaran umum berkelanjutan (PUB) I dengan nilai maksimum Rp1 triliun. Untuk tahap pertama, perseroan akan menerbitkan obligasi dengan target dana Rp500 miliar. Presiden Direktur TPIA Erwin Ciputra mengatakan dalam aksi korporasi ini perseroan memberikan pilihan ke masyarakat untuk memilih jangka waktu yang dikehendaki. Perseroan menawarkan 3 seri obligasi. Menurutnya, dana yang diperoleh akan digunakan seluruhya untuk pembayaran sebagian utang berdasarkan Facility Agreement US$94,98 Million Single Currency Term Facility yang diperoleh perseroan pada 2015. Dia optimistis obligasi ini akan mendapatkan respons yang positif dari investor dengan didukung oleh pengalaman dan track record perseroan yang teruji selama 25 tahun di bidang petrokimia, manajemen operasi yang berpengalaman, kinerja usaha dan keuangan yang baik didukung reputasi tinggi dari perseroan.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjual obligasi wajib konversi (OWK) hasil penerbitan anak usahanya. Dian Swastatika mengungkapkan penjualan obligasi wajib konversi (OWK) PT Innovate Mas Indonesia, anak perusahaan DSSA, yang dimiliki perseroan kepada PT DSSA Mas Sejahtera. Hal itu berdasarkan kesepakatan tertanggal 10 November 2017 yang dibuat antara perusahaan dan PT DSSA Mas Sejahtera, anak perusahaan DSSA dengan kepemilikan langsung lebih dari 99%. "Nilai transaksi yang disepakati adalah Rp 61,17 miliar. Nilai transaksi ini merupakan bagian dari restrukturisasi internal perseroan," kata Hermawan Tarjono, Direktur DSSA. Penjualan dan pembelian OWK ini, tidak memiliki dampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Akses full report di : http://ipot.id/?g=r/e/3c3dbj

Tidak ada komentar:

Posting Komentar