Senin, November 13

Morning Update IPOT 13 November 2017

Market Wrap
 
Pada perdagangan akhir pekan lalu indeks di bursa Wall street ditutup bervariasi, Dow Jones terkoreksi 39,73 poin (-0,17%) pada level 23.422,21. Intel dan Merck menjadi penyumbang terbesar terhadap pelemahan tersebut. S&P 500 terkoreksi tipis 2,32 poin (-0,09%) pada level 2.582,30 disumbang oleh pelemahan saham sektor kesehatan dan energi. Sementara itu Nasdaq berhasil mencatatkan kenaikan 0,83 poin (0,01%) pada level 6.750,9. Pagi ini bursa Asia dibuka melemah, dan nilai tukar rupiah dibuka terkoreksi 54 poin (-0,40%) di level 13.597.
 
Technical Ideas
 
Terkoreksinya indeks bursa global dan regional, penurunan harga komoditas serta melemahnya nilai tukar rupiah diprediksi akan memberikan sentimen negatif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan rentang support di level 5.995 dan resistance di 6.045. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
 
·          WSKT (Spec Buy, Support: Rp2.140, Resist: Rp2.210)
·          RALS (SELL, Support: Rp880, Resist: Rp970)
·          BBTN (Spec Buy, Support: Rp2.870, Resist: Rp2.950)
·          MAPI (Spec Buy, Support: Rp6.475, Resist: Rp6.625)
                                                              
News Highlight
 
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berupaya meningkatkan pendapatan dari lini bisnis penjualan sapi. Lewat anak usaha, PT Agro Menara Rachmat yang berlokasi di Kalimantan Tengah, AALI akan mendatangkan ribuan sapi dari Australia.  Emiten Grup Astra ini sudah menyiapkan pendanaan hingga Rp 100 miliar. Sapi-sapi yang didatangkan tersebut ditujukan untuk pembibitan. Manajemen berharap, bisnis penjualan sapi akan mendorong program kedaulan pangan di masa mendatang.  Sampai akhir tahun nanti, perusahaan menargetkan bisa melakukan pembibitan sebanyak 6.500 ekor sapi. Sedangkan untuk penggemukan, Santosa menyatakan sudah menjual sebanyak 1.525 ekor. Hingga akhir Oktober, kini masih ada 2.473 ekor sapi.
 
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terus berinovasi guna memperluas penetrasi penggunaan gas skala kecil menengah. Dalam waktu dekat, emiten pelat merah tersebut bakal meluncurkan produk gas bumi yang dikemas dalam tabung, alias compressed natural gas (CNG) guna menggantikan liquified petroleum gas (LPG).  Direktur Utama PGN, Jobi Triananda Hasjim mengatakan, produk CNG tersebut nantinya akan ditujukan untuk pelanggan komersial dan industri kecil menengah (IKM). Sebab harganya diyakini akan lebih murah dari harga LPG non subsidi seperti 12 kg dan 50 kg.  Menurut Jobi jika para pelanggan komersial dan IKM bisa beralih menggunakan CNG maka ketergantungan impor akan LPG akan berkurang.                                                                                                                                                                                                                                                                                     
PT Timah Tbk (TINS) Menurut Jobi jika para pelanggan komersial dan IKM bisa beralih menggunakan CNG maka ketergantungan impor akan LPG akan berkurang. Kegiatan eksplorasi eksplorasi di laut dilakukan dengan pengeboran prospektif dan pengeboran rinci di perairan Bangka, menggunakan 5 unit kapal bor. Total biaya yang dikeluarkan TINS untuk eksplorasi darat dan laut di Bagka dan Belitung sampai dengan Oktober 2017 adalah sebesar Rp 144,14 miliar. Biaya ini terdiri atas biaya operasional sebesar Rp 101,50 miliar dan biaya investasi sebesar Rp 42,64 miliar.
 
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) membukukan kontrak baru Rp3,25 triliun sampai akhir Oktober 2017. Sekretaris Perusahaan Total Bangun Persada Mahmilan Sugiyo Warsana memaparkan realisasi kontrak baru tersebut mencapai 81% dari target Rp4 triliun sampai akhir 2017. Dari target kontrak baru sepanjang tahun itu, perusahaan menargetkan pendapatan usaha Rp3,1 triliun serta laba bersih sekitar Rp250 miliar pada 2017. Perusahaan ini banyak menggarap pekerjaan konstruksi bangunan tinggi. Sampai 30 September 2017, perusahaan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp191,45 miliar atau naik 19% dibandingkan dengan Rp160,5 miliar sampai 30 September 2016. Pada 2017, perusahaan menargetkan belanja modal (capex) sebesar Rp100 miliar. Pada 2018, capex emiten berkode saham TOTL itu  ditargetkan sekitar Rp50 miliar. Capex itu akan digunakan untuk pembelian peralatan proyek, renovasi gedung, peralatan teknologi informasi, perangkat lunak dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar