Jumat, November 10

Morning Update IPOT 10 November 2017

Market Wrap

Indeks di bursa saham Wall Street pada perdagangan kemarin ditutup melemah dipicu oleh kekhawatiran adanya penundaan penerapan reformasi perpajakan yang salah satu isinya memangkas pajak perusahaan menjadi 20% dari 35%. Kekhawatiran tersebut muncul setelah komite keuangan senat merilis rencana reformasi pajak yang menyarankan pemotongan pajak perusahaan di laksanakan tahun 2019. Dow Jones ditutup melemah 101,42 poin (-0,43%) di level 23.461, S&P 500 terkoreksi 9,76 poin (-0,38%) di level 2.584, Nasdaq turun 39,06 poin (-0,58%) di level 6.750. Pagi ini bursa Asia dibuka melemah, sementara itu nilai tukar rupiah dibuka menguat 4 poin (0,03%) di level 13.512.

Technical Ideas

Terkoreksinya indeks bursa global dan regional serta penurunan harga komoditas batubara, nikel, timah dan CPO diprediksi akan memberikan sentimen negatif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan rentang support di level 6.042 dan resistance di 6.065. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:

·          ITMG (Spec Buy, Support: Rp20.725, Resist: Rp21.550)
·          AKRA (BoW, Support: Rp7.225, Resist: Rp7.425)
·          LPPF (SELL, Support: Rp9.500, Resist: Rp10.500)
·          PPRO (Spec Buy, Support: Rp202, Resist: Rp216)
                                                              
News Highlight

PT Astra International Tbk (ASII) memproyeksikan belanja modal pada tahun depan akan mencapai Rp14 triliun-Rp15 triliun. Head of Investor Relation PT Astra International Tbk. Tira Ardianti mengungkapkan, serapan belanja modal hingga September 2017 sudah mencapai Rp10,8 triliun, dari rencana Rp17 triliun hingga akhir tahun. "Bila belanja modal tahun ini tidak terserap seluruhnya, maka kami akan mengalokasikan pada tahun depan," ungkapnya

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) merealisasikan penjualan sebanyak 16,5 juta ton sepanjang Januari hingga September 2017 atau 70,21% dari target penjualan pada tahun ini. perseroan mengungkapkan bahwa perseroan menargetkan penjualan batu bara sebanyak 23,5 juta ton pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 98% telah terkontrak. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, pasar ekspor batu bara perseroan beragam. Jepang menjadi penyerap terbanyak dengan komposisi sebanyak 22% dari total penjualan, dan disusul dengan China dan Thailand.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mengumumkan perincian rencana penawaran umum terbatas 1 dengan hak memesan efek terlebih dahulu dan perubahan jajaran direksi dan dewan komisaris yang telah diterima dan disetujui oleh RUPSLB. Perseroan bermaksud menggunakan dana yang diperoleh dari penawaran umum terbatas untuk pengembangan atau ekspansi usaha, baik langsung maupun tidak langsung melalui entitas anak, melalui akuisisi/pembelian aset dan/atau saham perusahaan yang dapat bersinergi dengan perseroan dan entitas anak serta memberi manfaat tambahan serta mendukung kegiatan usaha perseroan. Dana tersebut juga akan digunakan untuk modal kerja perseroan dan/atau entitas anak.

PT United Tractors Tbk (UNTR) memantapkan diversifikasi usaha di bidang pertambangan emas. Ekspansi ini bertujuan memperbesar lini bisnis nonbatubara agar kinerja konsolidasi UNTR tak terlalu terdampak volatilitas harga batubara. Iwan Hadiantoro, Direktur Keuangan UNTR, mengatakan, saat ini UNTR sudah memiliki konsesi tambang emas lewat PT Sumbawa Jutaraya (SJR) yang diakuisisi pada tahun 2015. Tambang itu kini dalam fase pengembangan dan eksplorasi. Tambang yang berlokasi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, ini diprediksi akan mulai beroperasi pada awal 2019. Untuk masuk ke proyek tersebut, UNTR telah merogoh kocek sebesar US$ 50 juta. UNTR juga tengah menanti izin eksplorasi tujuh blok lainnya dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. UNTR juga sudah menyiapkan processing plant dengan kapasitas mencapai 100.000 ons. Pihaknya sudah memulai pembangunan fasilitas tersebut. Bukan cuma pabrik, namun UNTR juga membangun fasilitas pendukung seperti jalan, dan pelabuhan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Akses full report di : http://ipot.id/?g=r/e/3c3da4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar