Kamis, Oktober 26

Morning Update IPOT 26 Oktober 2017

Market Wrap
Indeks di bursa saham Wall Street pada perdagangan kemarin ditutup melemah dipicu oleh aksi profit taking investor setelah kinerja beberapa laporan keuangan emiten yang baru di rilis gagal memenuhi ekspektasi pasar serta naiknya bond yields juga menambah sentimen negatif indeks. Dow Jones melemah -112 poin (-0,48%) di level 23.329, S&P 500 ditutup turun -12 poin (-0,47%) di level 2.557, Nasdaq berkurang -34 poin (-0,52%) di level 6.564. Pagi ini bursa Asia dibuka di zona hijau, sementara itu nilai tukar rupiah dibuka menguat +21 poin (+0,16%) di level 13.556.

Technical Ideas
Melemahnya indeks di bursa saham Wall Street serta harga minyak mentah  dan adanya kemungkinan profit takinginvestor setelah IHSG berhasil menyentuh level tertinggi diprediksi membawa indeks harga saham gabungan bergerak melemah. IHSG diproyeksi bergerak pada rentang support di level 6.000 dengan resistance di 6.050. Pergerakan aliran dana investor asing menjadi salah satu poin yang bisa dicermati, mengingat investor asing masih mendominasi pergerakan IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
  • APLN (Buy, TP: Rp288, Support: Rp270)
  • BMRI (Buy, TP: Rp7.075, Support: Rp6.925)
  • MEDC (Spec Buy, TP: Rp820, Support: Rp750)
  • UNVR (Spec Buy, TP: Rp49.800, Support: Rp49.200)

News Highlight
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) kinerja di kuartal III-2017 hanya naik tipis. Penjualan bersih HMSP hanya naik 2,87% jadi Rp 72,29 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar Rp 70,27 triliun. Penjualan HMSP masih ditopang oleh penjualan lokal. Penjualan dari ekspor hanya mencapai Rp 430,5 miliar. Penjualan lokal dari sigaret kretek mesin memberi pendapatan terbesar, yakni sekitar Rp 47,98 triliun. Liabilitas perusahaan juga melonjak 87,07% yoy menjadi Rp 15,58 triliun. Hal ini karena ada utang cukai yang baru dibukukan pada periode ini, mencapai Rp 8 triliun. Sementara ekuitas HSMP tercatat Rp 30,95 triliun, dengan total aset Rp 46,54 triliun.
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan pendapatan bersih kuartal III-2017 sebesar Rp 4,39 triliun. Angka ini naik 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 3,63 triliun. Minarto Basuki, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON, mengatakan, pendapatan PWON dari segmen recurring revenue mencapai Rp 2,15 triliun atau naik 14,3% dari tahun sebelumnya. Pendapatan berulang ini diperoleh dari Hotel Sheraton Grand Gandaria City, Hotel Four Points dan pusat perbelanjaan ritel Pakuwon Mall tahap II dan III yang baru beroperasi pada Februari lalu. Saat ini, komposisi pendapatan PWON sebesar 49% berasal dari pendapatan berulang dan 51% dari pendapatan development.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) berencana menutup dua gerai yang dikelolanya, Lotus dan Debenhams. Penutupan ini merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan. Fetty Kwartati, Head of Corporate Communication MAPI mengatakan, penutupan ini merupakan imbas dari perubahan tren gaya belanja konsumen. Bukan hanya di Indonesia, namun seluruh dunia pun tren belanjanya telah beralih dari department store ke gerai yang lebih bersifat speciality store. Untungnya, MAPI telah lebih dulu merespon tren belanja online ini. Perusahaan sebelumnya telah memperkenalkan situs belanja online, MapeMall dan akan secara intens berupaya mengembangkan bisnis O2O sebagai bagian dari visi perusahaan untuk menjadi peritel omni-channel terdepan di Asia.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) ekuitas perusahaan membaik. Posisi ekuitasnya bahkan kembali pada level minimal yang dipersyaratkan dalam ketentuan sukuk global US$ 500 juta. posisi ekuitas GIAA pada Januari-Juni 2017 itu yang menyebabkan perusahaan beberapa waktu lalu menerbitkan proposal keringanan syarat obligasi (consent solicitation) kepada pemegang obligasi US$ 500 juta. Pasalnya, salah satu klausul dalam penerbitan global sukuk kala itu mewajibkan GIAA untuk menjaga ekuitasnya tidak kurang dari US$ 800 juta. Dalam proposal consent solicitationtersebut, manajemen GIAA mengajukan keringanan supaya syarat minimal ekuitasnya diturunkan menjadi US$ 500 juta. Pemegang obligasi sepakat untuk memberikan keringanan. Tapi, GIAA perlu membayar kompensasi sekitar US$ 2,96 juta. Turunnya ekuitas GIAA pada periode itu tak lepas dari dua hal. Pertama, kerugian GIAA. Kedua, keikutsertaan GIAA dalam amnesti pajak beberapa waktu lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar