Market Wrap
Bursa
saham Wall Street pada perdagangan awal pekan ditutup melemah setelah
pembatas imigran memicu kekhawatiran tentang dampak kebijakan-kebijakan
Presiden AS terhadap perdagangan dan ekonomi global. Dow Jones ditutup
melemah 122 poin (-0,61%) di level 19.971, Nasdaq ditutup turun 47 poin
(-0,83%) pada level 5.613. Dari regional, indeks Nikkei dibuka melemah
177 poin (-0,92%) di level 19.189. Nilai tukar rupiah pada hari ini
dibuka menguat 5 poin (+0,04%) menjadi 13.344.
Technical Ideas
Melemahnya
bursa saham Wall Street serta turunnya harga minyak mentah dunia
diprediksi menjadi sentimen negatif indeks, di sisi lain pelaku pasar
yang masih menunggu data ekonomi inflasi yang diperkirakan terkontrol
diperkirakan menjadi katalis positif indeks. IHSG diprediksi bergerak
menguat terbatas dengan kisaran support di level 5.270 sedangkan resist pada level 5.330. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
· PTBA (Spec Buy, TP: Rp11.800, Support: Rp10.850)
· BBNI (SELL, Resist: Rp5.775, Support: Rp5.675)
· SMBR (Spec Buy, TP: Rp2.390, Support: Rp2.210)
· SSIA (Spec Buy, TP: Rp650, Support: Rp620)
News Highlight
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) salah
satu petingginya melepas jabatannya. Debora Herawati Sadrach
meninggalkan posisinya sebagai direktur UNVR. Pengunduran diri karena
yang bersangkutan telaj memasuki usia pensiun. Pengunduran diri mulai
efektif pada 1 Maret 2017 mendatang. Sementara, RUPS guna mengangkat
penggantinya akan diumumkan beberapa waktu kedepan.
PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) tidak
banyak ekspansi yang dilakukan perseroan tahun ini. Perseroan hanya
menyiapkan belanja modal yang relatif sama seperti tahun lalu, sekitar
Rp400 miliar. Perseroan tengah dalam program mengurangi pengembangan
lahan cadangan sebagai upaya menghemat modal sehingga bisa dialihkan
kepada proyek peningkatan kapasitas pabrik. BWPT akan menginvestasikan
dananya sebesar Rp250 miliar dengan target akan mampu beroperasi tahun
ini.
PT Indika Energy Tbk (INDY) membidik
pendapatan lebih dari US$1 miliar pada tahun ini. Jumlah pendapatan itu
meroket dibandingkan pendapatan tahun 2016 yang diperkirakan hanya
sebesar US$800 juta. Perseroan mengatakan kenaikan harga batubara
sepanjang pertengahan hingga akhir tahun 2016 berdampak positif terhadap
kinerja anak-anak perusahaan, sehingga INDY berharap bisa menorehkan
laba bersih pada tahun ini. Naiknya pendapatan INDY akan lebih banyak
ditopang dari bisnis jasa pertambangan batubara dan minyak dan gas, dari
anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Triparta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar