Market Wrap
Bursa
saham Wall Street pada perdagangan Kemarin ditutup melemah dengan
dipimpin oleh saham sektor energi dan untilitas setelah Federal Reserve
menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam satu dekade
terakhir. Dow Jones ditutup melemah 118 poin (-0,60%) di level 19.792, sedangkan Nasdaq turun 27 poin (-0,50%) pada level 5.436.
Dari Regional, indeks Nikkei dibuka menguat 61 poin (+0,32%) pada level
19.315. Nilai tukar Rupiah terhadap USD pagi ini dibuka melemah 79 poin
(-0,59%) di level Rp13.373.
Technical Ideas
Melemahnya
bursa saham Wall Street serta turunnya harga minyak mentah dunia
diprediksi menjadi sentimen negatif indeks. Hari ini akan ada rilis data
ekonomi neraca perdagangan dan suku bunga BI. IHSG diprediksi bergerak melemah dengan target support di level 5.230 sedangkan resist pada level 5.290. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:
· BBRI (SELL, Resist: Rp11.725, Support: Rp11.275)
· JPFA (Spec Buy, TP: Rp1.790, Support: Rp1.565)
· INDF (SELL, Resist: Rp8.075, Support: Rp7.875)
· SMRA (SELL, Resist: Rp1.485, Support: Rp1.355)
News Highlight
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mulai
menyiapkan agenda ekspansi tahun depan. MEDC akan mulai mencari
pendanaan dari pasar saham serta surat utang untuk membayar kembali
utangnya dan mendanai ekspansi tahun depan. Tahun depan, MEDC menyiapkan
belanja modal US$150 juta hingga US$180 juta. Belanja modal ini
digunakan untuk menjaga produksi MEDC tahun depan. Jika harga minyak
tahun depan bisa berada di level US$60 per barel, MEDC bisa mendanai
sepertiga capex dari keuntungan kenaikan harga minyak.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) optimis
kinerja tahun depan akan lebih baik. Perseroan kembali menargetkan
pendapatan pra penjualan sebesar Rp4,5 triliun sepanjang 2017. Untuk
mencapai target, perseroan akan fokus mengembangkan proyek township.
SMRA telah menyiapkan belanja modal sama seperti tahun ini. Dana capex
berasal dari dua skema, yaitu dari kas internal perseroan dan pinjaman
perbankan. Laba SMRA tahun ini turun signifikan di akhir September 2016,
yaitu hanya Rp57 miliar. Padahal laba perusahaan tahun lalu mencapai
Rp807 miliar.
PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) mengantongi
pinjaman dari konsorsium perbankan untuk modal kerja dan refinancing
senilai US$425 juta. Perseroan akan menggunakan dana hasil pinjaman
untuk mendukung operasional, pembiayaan modal kerja, project cost, dan
refinancing entitas asosiasi. Manajemen emiten bersandi saham CITA
tersebut berharap positif dengan kembali beroperasinya tambang, serta
berlanjutnya ekspor hasil pemurnian bauksit berupa SGA. Terutama setelah
mendapat suntikan dana dari perbankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar