Senin, Oktober 17

Market Brief: Asia Dibuka Menguat, IHSG Berpeluang Technical Rebound

Ipotnews - Awali pekan ini (Senin,17/10) bursa saham Asia dibuka bervariasi dengan kecenderungan menguat, pasca pidato pimpinan Federal Reserve, Janet Yellen Jumat pekan lalu, yang menginginkan kenaikan inflasi AS sebelum menaikkan suku bunga. Pasar menunggu rilis data PDB China pekan ini.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan indeks ASX 200 Australia cenderung mendatar, dengan sebagian besar sektor terdesak ke zona merah. Penurunan indeks tertahan oleh penguatan indeks di sektor keuangan dan pertambangan. Indeks melemah 0,06% (-3,33 poin) di posisi 5.430,70 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang melaju 0,45% (75,14 poin) ke level 16.931,51 , setelah dibuka menguat 0,25 persen yang ditopang oleh pelemahan nilai tukar yen. Harga saham-saham eksportir menguat. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka naik 0,22% dan berlanjut menguat 0,12% menjadi 2.025,08.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka turun 0,30% ke level 23.164,54. Indeks Shanghai Composite, China menguat 0,03% di posisi 3.064,69.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, dihadapkan pada bervariasinya pergerakan indek di bursa saham global akhir pekan lalu dan regional akhir pekan ini, setelah menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan membukukan kenaikan. Sejumlah analis mengekspektasikan, pergerakan IHSG hari ini akan terpengaruh oleh rilis laporan keuangan sejumlah emiten di tengah fase konsolidasi pasar. Indeks berpotensi mengalami technical rebound melanjutkan laju kenaikan indeks jelang penutupan pasar akhir pekan lalu.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, menguatnya bursa global dan regional, serta berlanjutnya musim laporan keuangan, juga rilis neraca perdagangan pada hari ini yang diperkirakan surplus, diprediksi akan menjadi katalis positif bagi indeks. IHSG diprediksi bergerak menguat dengan target support di level 5.340 sedangkan resist pada level 5.460.

Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BMRI [BMRI 11,350 300 (+2,7%)] (Buy, TP: Rp11.650, Support: Rp11.050), ASII [ASII 8,325 125 (+1,5%)] (Spec Buy, TP: Rp8.475, Support: Rp8.150), INDF [INDF 8,825 125 (+1,4%)] (Spec Buy, TP: Rp8.925, Support: Rp8.700), AKRA [AKRA 6,575 200 (+3,1%)] (Spec Buy, TP: Rp6.725, Support: Rp6.425).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup menguat, didorong rilis laporan keuangan sejumlah bank yang menunjukkan pengingkatan laba, dan data ekonomi makro AS yang memperlihatkan perbaikan. Ppara investor mencermati komentar sejumlah pejabat The Fed. Data penjualan ritel AS periode September naik 0,6%, dan indeks harga produsen naik 0,3%. Inventori bisnis periode Agustus tumbuh 0,2%, dan sentimen konsume periode Oktober mencapi 87,9, namun masih dibawah estimasi sbesar 92.

Dow Jones Industrial Average naik 0,22% (39,44 poin) ke level 18.138,88 poin.
S&P 500 menguat tipis 0,02% (0,43 poin) di posisi 2.132,98 poin.
Nasdaq Composite naik tipis  0,02% (0,83 poin) menjadi 5.222 poin.

Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange naik 0,81% menjadi US$26,21.

Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup menguat tajam ditopang oleh meningkatnya harapan akan penyelesaian masalah Deutsche Bank yang mendorong kenaikan harga sahamnya hingga 2 persen . Indeks STOXX Europe 600 naik 1,29%, dengan membukukan kenaikan pesat pada semua sektor. Kenaikan indeks juga didrorong oleh reli harga saham sektor telekomunikasi Perancis Sebesar 3,8 persen, dan sahan hedge fund British Man Group hinngga 13,8 persen. Rilis data inflasi China yang lebih baik dari ekspektasi, ikut mendongkrak sentimen investor saham Eropa.

FTSE 100 London naik 0,51% (35,81 poin) menjadi 7.013,55.
DAX 30 Frankfurt melonjak 1,60% (166,31 poin) ke level 10.580,92.
CAC 40 Paris melesat 1,49% (65,75 poin) di posisi 4.470,92.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu ditutup menguat ditopang data ekonomi AS yang positif, yang mendukung kemungkinan kenaikansuku bunga AS pada Desember mendatang. Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk permintaan akhir naik 0,3 persen pada September, mengalahkan konsensus pasar. Data estimasi awal penjualan ritel AS untuk September naik 0,6 persen dari bulan sebelumnya menjadi US$459,8 miliar setara dengan perkiraan pasar. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju naik 0,40 persen menjadi 97,935, naik 1,4 persen sepanjang pekan lalu, dan 2,5 persen dibanding bulan lalu.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Currency

Value

Change

% Change

Euro (EUR-USD)

1.0972

-0.0084

-0.76%

Poundsterling (GBP-USD)

1.2191

-0.0063

-0.51%

Yen (USD-JPY)

104.18

0.47

+0.45%

Yuan (USD-CNY)

6.7283

0.0009

+0.01%

Rupiah (USD-IDR)

13,033.30

-39.70

-0.30%

Sumber : Bloomberg.com, 14/10/2016 (ET)

Komoditas

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent North Sea di bursa komoditas New York dan London, akhir pekan lalu ditutup melemah di tengah penguatan dolar AS. Harga minyak juga tertekan oleh laporan Baker Hughes yang menyebutkan penambahan 4 empat rig minyak selama pekan lalu sehingga mencapai 432 rig. Pasar masih mengkhatirkan adanya tambahan pasokan minyak mentah sebesar 5 juta barel yang dipaorkan IEA jelang akhhir pekan lalu.

Harga minyak WTI untuk penyerahan November turun 9 sen menjadi US$50,35 per barel.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 8 sen menjadi US$51,95 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhiir pekan lalu ditutup melemah  tertekan data inflasi AS yang lebih kuat. Harga emas berada dalam tekanan setelah rilis laporan indeks harga produsen (PPI) yang menunjukkan peningkatan 0,3 persen selama September, naik 0,7 persen dibanding tahun lalu. Analis mengatakan laporan PPI yang menguat dan klaim pengangguran yang menguat selama beberapa minggu terakhir bisa terus mendorong sikap "dovish" The Fed .

Harga emas untuk pengiriman Desember turun US$2,1 (-0,17%) menjadi US$1.255,5 per ounce.
Harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi US$1.253,90 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar