Market
Review
Indeks di bursa saham Wall Street
mengakhiri perdagangan
kemarin ditutup bervariasi,
Dow Jones melemah 17 poin (-0,11%) pada level 16.449, S&P turun 1
poin (-0,06%) pada level 1.939 sementara Nasdaq ditutup menguat 6 poin (+0,13%) pada level 4.620. Indeks di bursa
saham Wall Street di buka melemah mengikuti penguatan signifikan pada pasar
equitas dunia lainnya. Pelemahan yang terjadi pada harga minyak dunia menekan
harga saham-saham sektor energi. Data ekonomi China yang dinilai mengecewakan
turut memberikan sentiment negatif pada pergerakan indeks. Namun, aksi beli
terhadap saham-saham perusahaan yang berbasis internet mampu mengimbangi
sentiment negative dari China dan Penurunan harga minyak dunia. Sehingga mampu
mengangkat indeks menjelang penutupan perdagangan. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup melemah,
DAX menguat
40 poin
(-0,41%) pada level 9.758,
sementara FTSE melemah 24 poin (-0,39%) pada level 6.060. Pergerakan indeks bursa saham eropa merespon data
ekonomi China yang dinilai kurang baik dan pelemahan pada harga minyak dunia
yang menekan saham-saham teknologi.
Indeks harga saham gabungan mengawali
perdagangan kemarin langsung berada di teritori positif. Sentiment positif dari penguatan
signifikan pada
bursa saham global langsung direspon oleh pelaku pasar. Aksi jual terhadap
beberapa saham dengan kapitalisasi pasar yang besar dan berbaliknya pergerakan
beberapa bursa saham asia ke zona merah sempat menekan IHSG ditengah
perdagangan. Namun, Penguatan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
(di tutup di level Rp13.632 per USD) dan Aksi beli oleh investor asing
mampu
menopang pergerakan IHSG hingga kembali pengalami penguatan pada perdagangan
kemarin.
IHSG
akhirnya ditutup menguat sebesar 9 poin (+0,21%) pada level 4.625. Investor asing
mencatatkan beli bersih (foreign net buy) sebesar 416,7M di pasar regular dan negosiasi. Sektor barang
konsumsi dan perdagangan yang masing-masing mengalami penguatan sebesar 31 poin (+1,44%) dan 8 poin (+0,97%) menjadi penopang utama pergerakan
IHSG pada perdagangan kemarin.
Seiring pelemahan tipis pada mayoritas
bursa saham gobal dan pelemahan pada awal perdagangan bursa saham asia,
ditengah penguatan yang terjadi pada IHSG dan nilai tukar rupiah terhadap USD
dan mulai derasnya arus masuk dana asing ke bursa saham kita membuat IHSG
berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. IHSG akan
bergerak pada rentang support 4.580 dan resistance 4.650. Pergerakan keluar
masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus
diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG.
Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: ICBP(Buy), ADHI(BoW), AKRA(SoS)
dan BBCA(SoS).
News Highlights
PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk (BMRI) bersama dengan 22 bank pembangunan daerah (BPD) seluruh Indonesia
menyepakati fasilitas transaksi Global Master Repo Agreement (GMRA) Indonesia
yang diharapkan mendukung pendalaman sektor keuangan Tanah Air. Dengan adanya
kesekapatan ini perseroan berharap volume tumbuh dua kali lipat (double digit).
Untuk tahun ini bahkan volume meningkat di atas 20% per tahun. Sejumlah
indikator diharapkan mendongkrak transaksi repo di antaranya kondisi likuiditas
perbankan yang ketat dan rasio volume kredit (LDR) yang menyentuh 90%.
PT XL Axiata Tbk (EXCL)
berhasil menekan kerugian hingga akhir Desember 2015 menjadi sebesar Rp25,33M
usai alami rugi sebesar Rp803,71M di periode sama tahun sebelumnya. Laporan
keuangan perseroan Senin menyebutkan bahwa pendapatan turun menjadi Rp22,87T
dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp23,46 triliun total beban turun menjadi
Rp19,73T dari total beban tahun sebelumnya yang Rp21,87T. EXCL berencana melakukan
Penawaran Umum Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang
akan memberikan hak untuk pembelian dalam jumlah sebanyak-banyaknya
2.750.000.000 saham dengan nominal Rp100 per saham. Axiata Investments
berencana melaksanakan haknya sesuai porsi bagian kepemilikan sahamnya dalam
penawaran umum HMETD ini. Pelaksanaan penawaran HMETD ini tergantung pada
persetujuan dari RUPSLB dan pernyataan efektif dari OJK.
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
membidik sejumlah proyek di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Sebab, proses
administrasi pendirian kantor cabang WIKA di sana sudah lengkap. Pada 2016,
emiten konstruksi pelat merah ini mengincar kontrak baru Rp 500M hingga Rp 600M
dari negeri kaya minyak itu. Sejatinya pendirian kantor cabang sudah hampir
rampung. Namun, perseroan masih menghitung ulang pendanaan awal lantaran
Pemerintah Arab Saudi mengharuskan 10% tenaga kerja dari lokal. Tahun ini, WIKA
membidik proyek pemondokan haji, pusat perbelanjaan dan hotel di Jeddah.
PT Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk (BBTN) menyampaikan, bahwa Unit Usaha Syariah (UUS) miliknya
sangat terkelola dengan baik. Hal itu terlihat dari assetnya yang sebesar
Rp13,18T di triwulan III 2015 atau tumbuh 25,19% dibandingkan tahun sebelumnya
yang sebesar Rp 10,53T. Penghimpunan
dana UUS Bank BTN juga meningkat dari Rp 7,91T pada tahun 2014 menjadi Rp
10,50T atau meningkat 32,75%. Sementara untuk pembiayaan UUS Bank BTN tercatat
sebesar Rp 10,51T atau tumbuh 14,99% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp
9,14T. UUS Bank BTN telah mencatatkan keuntungan sebesar Rp 196,09M. Keuntungan
ini tumbuh 44,52% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 135,69M. Dan,
kinerja UUS Bank BTN pada akhir tahun 2015 diyakini akan meningkat lebih baik
dari posisi Triwulan III 2015.
Bursa Efek Indonesia (BEI)
mengaktifkan kembali (reaktivasi) produk investasi Kontrak Berjangka berbasis
Indeks Efek (KBIE) dengan aset dasar (underlying)
indeks LQ45 alias LQ45 Futures pada Senin (1/2). Kepala Divisi Komunikasi
Perusahaan BEI Dwi Shara Soekarno mengatakan, fungsi utama dari produk anyar
ini adalah memudahkan investor untuk melindungi nilai alias hedging pada saat pasar turun. Kontrak
berjangka atau Derivatif LQ45 ini adalah hasil kerjasama tiga self regulatory
organization (SRO) bursa, yaitu, BEI, KPEI, dan KSEI.
Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) meluncurkan Global Master Repurchase Agreement Indonesia (GMRA Indonesia)
dengan disertai acara penandatanganan perjanjian Transaksi Repo (Repurchase
Agreement) menggunakan GMRA Indonesia oleh 4 bank nasional yaitu PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BBNI), PT
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk
(BBCA). GMRA Indonesia merupakan dokumen perjanjian yang dipersyaratkan untuk
dipergunakan Lembaga Jasa Keuangan dalam melakukan Transaksi Repo berdasarkan
Peraturan OJK No.09/POJK.04/2015 tentang Pedoman Transaksi Repo Bagi Lembaga
Jasa Keuangan dan Surat Edaran OJK No.33/SEOJK.04/2015 tentang Global Master Repurchase
Agreement Indonesia (GMRA Indonesia). Seluruh Lembaga Jasa Keuangan dari semua
sektor wajib tunduk pada ketentuan OJK ini dalam melakukan transaksi repo.
Badan Pusat Statistik
(BPS) melaporkan laju inflasi di Januari 2016 mencapai 0,51%. Inflasi secara
tahunan (year on year) tercatat 4,14%. Inflasi komponen inti di Januari sebesar
0,29% dan inflasi komponen inti Januari yoy sebesar 3,62%. Ia menambahkan, dari
82 kota IHK, 75 kota IHK mengalami inflasi, dan 7 kota IHK tercatat deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,82% dan terendah di Padang 0,02%

Tidak ada komentar:
Posting Komentar