Market Review
Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat cukup signifikan, Dow Jones menguat 282 poin (+1,77%) pada level 16.167, S&P naik 27 poin (+1,43%) pada level 1.904 dan Nasdaq ditutup menguat 50 poin (+1,10%) pada level 4.568. Penguatan pada harga minyak dunia yang membuat pelaku pasar kembali memburu saham-saham sektor energi menopang pergerakan indeks. Selain itu, kenaikan juga di dukung laporan kinerja beberapa emiten yang lebih baik dari ekspektasi juga membuat pelaku pasar melihat bahwa perbaikan ekonomi semakin dekat. Pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada rapat dua hari The Fed yang di ekspektasikan akan tetap mempertahankan suku bunga nya (FFR). Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat, DAX menguat 87 poin (+0,89%) pada level 9.823, sementara FTSE menguat 34 poin (+0,58%) pada level 5.911. Indeks di bursa saham eropa mengawali perdagangan dengan melemah tertekan oleh sentiment negatif dari pelemahan signifikan pada bursa saham asia. Namun, penguatan signifikan yang terjadi pada harga minyak dunia mampu membuat saham-saham sektor energi mengalami kenaikan sehingga membawa indeks perlahan menuju kezona hijau hingga akhirnya ditutup menguat.
Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori negatif. Sentiment negatif dari pelemahan pada bursa saham global langsung direspon oleh pelaku pasar. Pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.886 per USD) turut memberikan sentiment negatif pada perdagangan kemarin. Pelemahan siginifikan pada bursa saham asia dan pembukaan perdagangan bursa saham eropa serta aksi jual oleh investor asing membuat IHSG semakin mengalami tekanan. Namun, Aksi beli pelaku pasar terhadap saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang besar salah satunya saham yang ada di sektor barang konsumsi seperti HMSP dan ICBP mampu membawa IHSG ke zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat tipis sebesar 5 poin (+0,10%) pada level 4.510. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 327,9M di pasar regular dan negosiasi. Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan, hanya sektor barang konsumsi yang berakhir di zona hijau dengan menguat 46 poin (+2,23%) dan sanggup membawa IHSG berakhir positif pada perdagangan kemarin.

Seiring penguatan cukup signifikan pada bursa saham gobal, penguatan tipis pada IHSG kemarin dan penguatan signikan pada bursa saham asia di awal perdagangan ditengah pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap USD dan masih keluarnya dana investor asing membuat IHSG berpotensi untuk bergerak melanjutkan penguatan. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.480 dan resistance 4.540. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: TLKM(Buy), WSKT(Spec Buy), SILO(Spec Buy) dan PTPP(Spec Buy).
News Highlights
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang dan konsorsium China berencana segera membangun pabrik gerbong untuk keperluan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung Pembangunan investasi pabrik ini diperkirakan nilainya tidak mencapai Rp1T, namun di atas Rp500M. Saat ini, WIKA tengah mempertimbangkan lokasi pembuatan pabrik tersebut. Pabrik tersebut akan dibangun oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan yang dibetuk 4 BUMN untuk menggarap proyek kereta cepat Jakarta – Bandung. Pada saat ini, WIKA menguasi 38% saham PSBI, sisanya dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia (25%), PT Perkebunan Nusantara VII (25%) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar 12%.
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp600M untuk ekspansi bisnis transportasi, perluasan tangki dan penambahan stasiun pengisian bahan bakar. Dana tersebut akan berasal dari kas internal perusahaan. Sejauh ini, AKRA belum berniat untuk menerbitkan obligasi untuk perluasan tangki di Tanjung Priok. Sebelumnya, manajemen menyebut kebutuhan untuk peningkatan kapasitas tangki mencapai USD70 juta. Perusahaan saat ini berencana untuk meningkatkan kapasitas tangki menjadi 450.800 kiloliter dari kapasitas terpasang tahun lalu sebesar 250.800 kiloliter. Ini merupakan bagian dari rencana penambahan kapasitas menjadi 1 juta kiloliter dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, perusahaan juga berniat untuk memperluas kapasitas tangki di Tanjung Perak.
PT Sugih Energy Tbk (SUGI) mengubah alur bisnisnya ke gas karena harga minyak dunia belum kondusif. Perseroan akan lebih fokus mengembangkan bisnis gas yang terdapat di Lemang, Jambi dan Selat Panjang Riau. Apalagi biaya produksi gas lebih murah dibandingkan biaya produksi minyak. Biaya produksi minyak sebesar USD25 per barel dan sedangkan harga minyak saat ini di level USD26,6 per barel. Sementara biaya produksi gas hanya sebesar USD20 per barel. Langkah tersebut diyakini akan lebih menguntungkan dalam kondisi seperti sekarang. Meski demikian perseroan menyatakan akan tetap meneruskan bisnis minyaknya.
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berupaya mengurangi ongkos bahan baku dengan membentuk perusahaan yang membuat bahan baku obat. KAEF menggandeng PT Sungwun Pharmakopia Indonesia untuk membentuk perusahaan patungan tersebut yang bernama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia. Modal dasar perusahaan itu sebesar Rp 110M, dengan kepemilikan saham KAEF sebesar 75% dan sisanya dimiliki Sungwun Pharmakopia. Nilai setoran modal yang dilakukan KAEF sebesar Rp20,6M. Perusahaan patungan ini bergerak di bidang industri kimia, bahan baku obat active pharmaceutical ingredient dan high functional chemical. Perusahaan ini dibentuk untuk memberi jaminan ketersediaan bahan baku atas produk obat yang bakal diproduksi KAEF.
Bank Dunia memangkas prediksi harga 80% komoditas utama dunia. Langkah ini dilakukan seiring melimpahnya stok komoditas dan melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi emerging market sehingga menggerus tingkat permintaan. Dalam laporan terkini yang dirilis Selasa (26/1), Bank Dunia menurunkan prediksi harga minyak dunia menjadi US$ 37 per barel untuk tahun ini. Sebelumnya, pada laporan Oktober, Bank Dunia memprediksi harga minyak akan berada di posisi US$ 51 per barel. Adapun alasan Bank Dunia ini adalah rencana ekspor minyak yang akan dilakukan Iran serta tingginya produksi minyak di Amerika Serikat. Selain minyak, seluruh komoditas utama lainnya juga diprediksi akan turun di 2016 seiring membludaknya suplai dan rendahnya permintaan dari emerging market. Secara keseluruhan, harga 37 dari 46 komoditas yang dimonitor Bank Dunia direvisi lebih rendah pada tahun ini. Bank Dunia juga memprediksi, harga komoditas non-energi akan turun 3,7% pada 2016. Sedangkan harga logam akan turun 10% setelah jatuh sebesar 21% di 2015. Kecemasan akan El Nino di sejumlah kawasan juga akan menggencet pasar komoditas global. Bank Dunia meramal, harga komoditas agrikultur akan turun 1,4%.
-----------------------------------
DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar