Rabu, Januari 20

Equity Update 20 Januari 2016

Market Review
Mayoritas Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan di tutup menguat tipis, Dow Jones menguat 28 poin (+0,17%) pada level 16.016, S&P menguat 1 poin (+0,04%) pada level 1.881, sementara Nasdaq berakhir melemah 11 poin (-0,25%) pada level 4.477. Indeks di bursa saham Wall Street mengawali perdagangan dengan menguat cukup signifikan mengikuti penguatan signifikan pada pasar equitas global lainnya. Namun, kembali melemahnya harga minyak dunia serta kembali munculnya kekhawatiran mengenai perlambatan perekonomian global menekan pergerakan indeks di tengah perdangan. Meskipun demikian, mayoritas bursa saham mampu ditutup di zona hijau. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat cukup signifikan, DAX menguat 142 poin (+1,49%) pada level 9.664, sementara FTSE menguat 97 poin (+1,68%) pada level 5.877. Penguatan di bursa saham eropa mengikuti penguatan signifikan pada indeks bursa saham asia. Penguatan juga ditopang adanya ekspektasi bahwa pemerintahan China akan kembali memberikan stimulus untuk menopang pertumbuhan ekonomi, merespon rilis data ekonomi China yang kembali mengalami perlambatan.
Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori positif. Sentiment negatif dari pelemahan tipis pada bursa saham eropa tidak mendapatkan respon dari pelaku pasar. Penguatan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.852 per USD) dan penguatan cukup signifikan pada bursa saham Asia serta penguatan pada pembukaan perdagangan bursa saham eropa membuat IHSG mengakhiri perdagangan di zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat 10 poin (+0,23%) pada level 4.492. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 335,8M di pasar regular dan negosiasi. Sektor industri dasar dan keuangan yang masing-masing mengalami penguatan sebesar 4 poin (+0,91%) dan 5 poin (+0,70%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.
equity20
Seiring penguatan yang terjadi pada mayoritas bursa saham global, penguatan pada IHSG dan nilai tukar rupiah terhadap USD kemarin, ditengah masih maraknya aksi jual oleh investor asing di bursa saham kita membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.465 dan resistance 4.515. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain:  PTPP(Buy), PPRO(Buy), WIKA(Spec Buy), TLKM(Spec Buy).
                                                                               
News Highlights
Bank Rakyat Indonesia Tbk (Bank BRI) (BBRI) merealisasikan pembelian kembali (buyback) saham selama periode 3 bulan (12 Oktober 2015 s/d 12 Januari 2015) senilai Rp2.418.947.067.500 (tidak termasuk biaya transaksi) atau 96,76% dari rencana awal Rp2,50T (tidak termasuk biaya pembelian kembali saham, komisi, pedagang perantara serta biaya lain berkaitan dengan Buyback Saham). Jumlah saham yang dibeli kembali sebanyak 221.718.000 lembar atau 0,899% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh Bank BRI. Harga rata-rata pembelian kembali sebesar Rp10.910. Adapun harga rata-rata penutupan saham Bank BRI selama periode buyback, adalah Rp10.991,-.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) memilih tidak menambah merek baru pada 2016, melihat kondisi ekonomi yang diproyeksi tak akan jauh berbeda dengan tahun lalu. Pada tahun ini, perusahaan membidik pertumbuhan penjualan sekitar 12% – 13%. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan mengandalkan dua mesin pertumbuhan utama perusahaan yakni MAPeMall dan MAP Club. Selain itu, ekspansi MAPI tahun ini tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun lalu. Perusahaan akan menambah gerai seluas 50.000 meter persegi. Sebagian dari ekspansi gerai baru dan berlokasi di Jakarta Kemudian, sisanya akan dibuka di luar Jakarta dan luar Pulau Jawa. Untuk membiayai ekspansi, MAPI membutuhkan dana senilai Rp500 miliar yang akan diambil dari kas internal perusahaan.
PT PP Properti Tbk (PPRO) terus berekspansi. Tahun 2016, anak usaha emiten konstruksi PTPP ini menyiapkan dana Rp 400M untuk mengakuisisi lahan di tiga lokasi. Perusahaan ini akan mengakuisisi lahan di Surabaya, Jabodetabek dan Bandung. Sayangnya, dia tidak bersedia menyebut luas lahan yang hendak dicaplok tahun ini. Target luas akuisisi lahan belum bisa kita sampaikan. Tapi kita alokasikan sekitar 35% dari capex (capital expenditure) tahun ini. Total capex yang disiapkan perseroan tahun ini sekitar Rp 1,12T. Selain untuk akuisisi lahan, capex akan digunakan untuk pembangunan mal, pengembangan mal dan penyertaan modal pada perusahaan patungan.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memproyeksikan penerbangan carter menurun karena kondisi perekonomian global yang masih melambat. Hal itu diungkapkan Vice President Hajj & VVIP Garuda Indonesia Hady Syahrean usai penandatanganan kerja sama dengan Polri di Kantor Garuda Indonesia, Tangerang, Selasa (19/1). Ia memperkirakan penerbangan carter ke Tiongkok berkurang hingga delapan penerbangan. Tahun lalu, telah terkontrak 70 penerbangan pada periode "winter" atau bulan (Oktober-Maret), sementara periode "summer" (April-September) 72 penerbangan untuk 10 kota. Sementara itu, Hingga Maret ini sudah terkontrak 55 penerbangan untuk 10 kota.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menegaskan kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan anak usahanya, Mitratel, resmi batal. Kini, TBIG fokus menambah jumlah penyewa menara, sembari membidik peluang akuisisi menara lain. Manajemen TBIG mengemukakan strategi akuisisi dengan mempertimbangkan beberapa hal. Misalnya, akuisisi jauh lebih efisien ketimbang membangun menara sendiri. TBIG mengincar 2.000-2.500 unit menara telekomunikasi milik EXCL melalui lelang terbuka pada bulan ini. Selain itu, TBIG mengincar penambahan jumlah penyewa menara sebanyak 1.500-2.000 tenant di sepanjang 2016. Sampai akhir 2015, TBIG memiliki 19.416 penyewa dan 12.159 site telekomunikasi. Untuk membiayai rencana ekspansi tersebut, TBIG akan mengandalkan utang, tentunya dengan mempertimbangkan batas aman.
PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) menargetkan prapenjualan alias marketing sales lahan industri tahun ini mencapai 25 hektare (ha) hingga  30 ha. target tersebut naik dari realisasi marketing sales sepanjang tahun 2015 seluas 18 ha atau tumbuh sekitar 38%-66%. Harga jual tahun ini sekitar Rp 2 juta- Rp 3 juta per meter persegi (m2). Harga jual lahan di kawasan industri MM2100 Cibitung tahun ini akan tumbuh rata-rata sekitar 10% dibanding dengan rata-rata harga jual tahun lalu. Kenaikan tertinggi akan terjadi di lokasi yang cukup strstegis.
PT Modernland Realty Tbk (MDLN) berencana menaikkan harga lahan sekitar 10%-15%. Hal tersebut karena salah satu pintu keluar jalan tol berada di kawasan milik perseroan, yaitu pintu keluar (exit) jalan tol baru di kilometer (km) 52 Cikande yang akan selesai tahun 2016. Exit jalan tol tersebut berjarak 1 kilometer dari gerbang kawasan industri milik perseroan. Saat ini manajemen menjajaki kerja sama dengan beberapa investor dari kawasan Asia dan Eropa terkait penjualan lahan. Penjajakan itu berpotensi menghasilkan transaksi lahan seluas 20 ha. Untuk mengejar target marketing sales tahun 2016, perseroan akan meluncurkan beberapa produk baru di kawasan Jakarta Garden City (JGC).

-----------------------------------

DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness.  Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities.  PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar