Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan akhir pekan lalu ditutup melemah cukup signifikan, Dow Jones melemah 168 poin (-1,02%) pada level 16.346, S&P turun 21 poin (-0,97%) pada level 1.922 dan Nasdaq ditutup melemah 45 poin (-1,09%) pada level 4.644. Saham-saham Wall Street berakhir melemah cukup signifikan karena kembali munculnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Penurunan harga minyak dan komoditas juga menjadi aspek negatif pada perdagangan pekan lalu. Pergerakan indeks semakin berat setelah China kembali melakukan devaluasi terhadap mata uangnya yuan. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan ditutup melemah cukup signifikan, DAX melemah 131 poin (-1,31%) pada level 9.849, sementara FTSE melemah 42 poin (-0,71%) pada level 5.912. Pelemahan pada bursa saham eropa tertekan oleh pelemahan pada saham-saham sektor energi merespon semakin melemahnya harga minyak dunia. Pelemahan juga merespon keputusan China yang kembali mendevaluasi mata uangnya.
Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan akhir pekan lalu langsung berada di teritori negatif. Sentiment negatif dari pelemahan signifikan pada mayoritas bursa saham global langsung direspon oleh pelaku pasar. Namun, penguatan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp13.922 per USD) dan penguatan pada beberapa bursa saham asia perlahan serta rilisnya data cadangan devisa Indonesia yang dinilai positif mampu mengangkat IHSG ke zona hijau. Aksi jual oleh investor asing sempat menghambat laju IHSG, namun IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 16 poin (+0,35%) pada level 4.546. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 697,2M di pasar regular dan negosiasi. Sektor barang konsumsi dan aneka industri yang masing-masing mengalami penguatan sebesar 22 poin (+1,09%) dan 10 poin (+0,95%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan akhir pekan kemarin.

Seiring penguatan cukup signifikan pada IHSG akhir pekan lalu dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD, ditengah pelemahan pada mayoritas bursa saham global membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.515 dan resistance 4.575. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: ADHI(Buy), BBCA(Spec Buy), TLKM(BoW) dan INTP(BoW).
News Highlights
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) pada tahun ini membidik kontrak baru senilai Rp25,1T. Adhi Karya (Persero) Tbk. membidik perolehan kontrak baru pada pada tahun ini sebesar Rp25,1T, melonjak 56,8% year-on-year dari Rp16T pada 2015. Kontrak baru tersebut bakal dikontribusi 75,1% dari lini bisnis konstruksi, EPC sebesar 6,9%, properti 8,6%, dan manufaktur precast 9,4%.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) akan membangun pembangkit listrik berkapasitas 600 megawatt (MW) di area pabrik feronikel di Halmahera Timur, Maluku. Pembangunan pembangkit ini untuk mendukung pengoperasian pabrik feronikel yang sedang dibangun oleh PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Tahap awal, Bukit Asam akan membangun pembangkit 2X40 MW. Pembangunan pembangkit ini ditargetkan tuntas di 2018 saat pabrik fenonikel fase I mulai beroperasi. Untuk jenis pembangkit, Bukit Asam bersama Antam masih mengkaji apakah memakai full batubara atau gas. Meski demikian, pembiayaan akan ditanggung oleh Bukit Asam. Nilai investasi diproyeksi antara US$ 1,2 juta sampai US$ 1,4 juta per 1 MW. Artinya total dana yang dibutuhkan membangun pembangkit ini sekitar US$ 840 juta atau setara Rp 11T.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah menunda proses penjualan 40% saham di unit usaha asuransinya. Bank BRI akan terus berusaha untuk mendongkrak nilai bisnis internal sebelum melanjutkan penjualan, ujar sumber itu. FWD Group, Hanhwa Life dari Korea dan BNP Paribas Cardif dikabarkan sebelumnya tertarik dengan anak usaha BRI ini. BRingin Life adalah unit usaha asuransi BRI yang menjual lewat 10.000 kantor cabang di Indonesia. BRI mengambilalih BRingin Life tahun lalu dari dapen BRI.
PT PP Property Tbk (PPRO) masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp240M hingga akhir Desember 2015, demikian dipaparkan Indaryanto, Direktur Perseroan akhir pekan lalu. Perseroan yang menggelar IPO pada Mei 2015 lalu meraih dana bersih sebesar Rp883,702M dimana dana itu sudah digunakan total Rp643,702M.
PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR) masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp177,62M hingga periode akhir Desember 2015. Jumlah dana yang sudah dipakai mencapai Rp192,93M dari IPO yang baru saja dilakukan pada Desember tahun lalu. Dana yang sudah digunakan antara lain untuk pembelian aset tetap sebesar Rp4,80M, penambahan investasi entitas anak Rp40M, pembelian tanah Rp88,11M dan modal kerja operasional Rp60,02M. Sisa dana IPO kini disimpan di bank OCBC NISP sebesar Rp135M, bank mega Rp15M dan bank Permata Rp27,62M.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih mampu mempertahankan kinerjanya kendati sepanjang tahun 2015 kondisi ekonomi dilanda kelesuan. Emiten kawasan industri ini mampu mengantongi laba bersih sekitar Rp 1,2T - Rp 1,3T. Pencapaian tersebut tumbuh sekitar 24%-34% dari laba bersih tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 964,5M. Ini seiring dengan pertumbuhan pendapatan yang diperkirakan mencapai Rp 2,2T atau melonjak sekitar 43% dari tahun 2014 yakni sebesar Rp 1,53T.
Bank Indonesia (BI) merilis posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2015 tercatat US$ 105,9M. Naik signifikan dari posisi akhir November 2015 yang sebesar US$ 100,2M. Peningkatan cadangan devisa tersebut berasal dari penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, penerimaan hasil ekspor migas, dan penerbitan global bonds Pemerintah yang cukup untuk menutupi kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir Desember 2015 dapat membiayai 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund
DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar