Selasa, Desember 29

Equity Update 29 Desember 2015

Market Review

Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup melemah tipis, Dow Jones melemah 24 poin (-0,14%) pada level 17.528, S&P turun 4 poin (-0,19%) pada level 2.041 sementara Nasdaq ditutup melemah 7 poin (-0,15%) pada level 5.041. Saham-saham Wall Street berakhir melemah tipis pada perdagangan kemarin, merespon pelemahan pada harga minyak dunia. Kembali melemahnya harga minyak dunia membuat saham-saham sektor energi kembali berada di bawah tekanan. Saham-saham sektor energi turun 1,8% dan memimpin penurunan pada bursa saham. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup bervariasi, DAX melemah 74 poin (-0,69%) pada level 10.654 sementara FTSE menguat sebesar 14 poin (+0,22%) pada level 6.255. Bursa saham eropa ditutup bervariasi merespon kembali melemahnya harga minyak dunia yang akan menekan saham-saham sektor energi.

Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan rabu lalu langsung berada di teritori positif. Sentiment negatif dari pelemahan pada mayoritas bursa saham AS langsung direspon oleh pelaku pasar. Namun, aksi beli oleh investor asing mampu membuat IHSG berbalik menguat. Penguatan pada beberapa bursa saham asia dan pembukaan perdagangan bursa eropa yang mengalami penguatan turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG. Faktor-faktor positif tersebut membuat IHSG berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 35 poin (+0,77%) pada level 4.557. Investor asing mencatatkan beli bersih (foreign net buy) sebesar 429,2M di pasar regular dan negosiasi. Hampir seluruh sektor mengakhiri perdagangan di zona hijau, hanya sektor industri dasar yang mengakhiri perdagangan di zona merah. Sektor pertanian dan properti yang masing-masing menguat sebesar 42 poin (+2,67 %) dan 8 poin (+1,63%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di tutup di level Rp13.647 per USD.

equity29

Seiring penguatan cukup signifikan pada IHSG dan kembali masuknya dana investor asing pada perdagangan kemarin, ditengah pelemahan pada mayoritas bursa saham global dan pelemahan tipis pada rupiah kemarin membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.510 dan resistance 4.610. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing masih mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBCA(Spec Buy),  UNVR(Spec Buy), AALI(Spec Buy), dan  INTP(SoS).


News Highlights

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) hingga november 2015 hanya mampu menjual 981.195 ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Jumlah tersebut merosot 22% ketimbang penjualan di periode sama tahun lalu sebanyak 1,26 juta ton. Penurunan penjualan itu terjadi karena sebagian produksi CPO dialihkan menjadi olein. Oleh karena itu, penjualan olein AALI melonjak 73% YoY menjadi 352.515 ton hingga akhir November 2015. Bukan hanya kedodoran di volume penjualan, harga jual CPO AALI juga melorot, sebagai imbas melemahnya permintaan global. Selama 11 bulan pertama 2015, anak usaha Grup Astra ini mencatatkan harga rata-rata penjualan CPO sebesar Rp 7.044 per kilogram. Jumlah itu menyusut 15,5% dibandingkan dengan harga jual rata-rata CPO per akhir November 2014 senilai Rp 8.334 per kg. Sedangkan harga jual rata-rata produk kernel AALI menurun 15,3% dari Rp 5.197 per kg menjadi Rp 4.446 per kg di akhir November 2015. Secara total, hingga akhir November tahun ini, AALI mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) seberat 5,17 juta ton. Jumlah tersebut naik tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 5,12 juta ton.

PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) pada tahun depan menyiapkan dana investasi sebesar Rp269,27M. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan bisnis perseroan sepanjang tahun depan. Sebesar Rp174,5M akan digunakan untuk membangunan dan instalasi, terdiri dari bangunan pabrik FDC TB, renovasi fasilitas produksi steril non cepha, bangunanpilot plant, bangnan pabrik betalakam, laboraturium mikrobiologi, bangunan lainnya, dan instalasi listrik dan air. Untuk mesin sendiri, kami menganggarkan dana sebesar Rp37,60M, peralatan pabrik sebesar Rp34,60M, kendaraan sebesar Rp8M, peralatan kantor sebesar Rp1,90M, dan implementasi ERP sebesar Rp12,66M. Sumber pendanaan sendiri di rencanakan Dari pinjaman perbankan porsinya itu sebesar 70%, sedangkan sisanya 30% dari kas internal.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) akan memulai konstruksi pabrik hot strip (HSM) mill II senilai USD405,9 juta pada Januari 2016. Target tersebut mundur dari rencana semula pada kuartal IV tahun ini. Perseroan akan menyetor uang muka terlebih dahulu kepada Commerzbank AG untuk penarikan pinjaman secara bertahap dengan total plafon USD260,05 juta. Pabrik tersebut diharapkan beroperasi pada semester I-2018. HSM II berkapasitas 1,5 juta ton per tahun.

PT Hanson International Tbk (MYRX) belum berniat memperoleh untung dari pendapatan berulang (recurring income) karena perseroan masih memiliki cadangan lahan lebih dari 3.300 ha di daerah yang cukup strategis. MYRX masih fokus pada proyek rumah murah daripada mal atau mixed use. Perseroan lebih memilih penjualan ritel yang bervolume banyak dan menguntungkan. MYRX akan mulai menggarap recurring income pada 4-5 tahun ke depan. MYRX berencana membangun proyek di Serpong bernama Millennium City. Rencananya, perseroan akan membangun perumahan dan proyek komersial.

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) memperoleh fasilitas kredit sebesar USD141 juta dari PT  Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Perjanjian akta kredit antara BBRI dilakukan dengan empat entitas anak perseroan. Tujuan dari fasilitas kredit ini adalah untuk menunjang kegiatan usaha entitas anak perseroan. BWPT menyuntikkan modal kepada tiga anak usahanya dengan total nilai mencapai Rp 191,46M.

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menderita rugi sebesar Rp546,82M hingga periode September 2015 dibandingkan laba yang diraih Rp118,29M periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan usaha turun menjadi Rp1,54T dari Rp1,75T periode tahun sebelumnya.

-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund

DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness.  Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities.  PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar