Indeks di bursa saham Wall Street mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat cukup signifikan, Dow Jones menguat 157 poin (+0,90%) pada level 17.525, S&P naik 21 poin (+1,04%) pada level 2.043 dan Nasdaq ditutup menguat 43 poin (+0,86%) pada level 4.995. Saham-saham Wall Street kembali berakhir menguat cukup signifikan melanjutkan rally di perdagangan hari sebelumnya. Kembali menguatnya harga minyak dunia, membuat harga saham-saham sektor energi ikut mengalami penguatan.
Pelaku pasar juga terus mencermati jalannya FOMC Meeting yang dilakukan oleh The Fed. Dengan stabilnya data-data ekonomi yang ada menimbulkan optimisme bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga nya pada pertemuan tersebut. Dari Eropa, bursa saham mengakhiri perdagangan kemarin dengan ditutup menguat signifikan, DAX menguat 311 poin (+3,06%) pada level 10.450, sementara FTSE menguat 144 poin (+2,45%) pada level 6.018. Bursa saham eropa berhasil ditutup menguat signifikan mengakhiri pelemahan pada perdagangan hari sebelumnya. Penguatan yang terjadi pada saham-saham sektor energi merespon kembali menguatnya harga minyak dunia menjadi penopang utama indeks bursa saham eropa. Pelaku pasar eropa terus mencermati jalannya FOMC Meeting di AS yang kemungkinan besar The Fed akan menaikkan suku bunganya dalam pertemuan tersebut.
Indeks harga saham gabungan mengawali perdagangan kemarin langsung berada di teritori negatif. Sentiment negatif dari bervariasinya bursa saham global langsung direspon oleh pelaku pasar. Namun, Penguatan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (di tutup di level Rp14.046 per USD) dan penguatan pada pembukaan bursa saham eropa perlahan berhasil membawa IHSG ke zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 35 poin (+0,80%) pada level 4.409. Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 30,5M di pasar regular dan negosiasi. Sektor perdagangan dan aneka industri yang masing-masing menguat sebesar 18 poin (+2,35%) dan 21 poin (+1,95%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.

Seiring penguatan signifikan pada pergerakan pada bursa saham global, penguatan cukup signifikan pada IHSG kemarin dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD ditengah masih terjadinya arus keluar dana asing membuat IHSG berpotensi untuk kembali melanjutkan pengutatan. IHSG akan bergerak pada rentang support 4.370 dan resistance 4.480. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: ASII(Spec Buy), INTP(Spec Buy), TLKM(SoS), dan UNTR(SoS).
News Highlights
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)menyetujui adanya pergantian dua anggota Direksinya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar hari ini. Rapat telah menyetujui mengangkat Willy Saelan dan Amparo Cheung Aswin menjadi anggota Direksi efektif mulai 1 Januari 2016 mendatang. RUPSLB yang diadakan kali ini telah menerima dan menyetujui pengunduran diri dua anggota dewan direksi perseroan yaitu Bapak Hadrianus Setiawan dan Bapak Ramakrishnan Raghurahman. Sebelum diangkat menjadi anggota Direksi, Willy Saelan menduduki posisi senior termasuk HR Direction Leadership and Organization Effectiveness, AAMEE (Asia, Africa Middle East, Estern Europe Region) dan HR Direction Marketing and R&D South East Asia. Sementara Amparo Cheung Aswin memiliki perjalanan karir di Unilever meliputi VP Suply Chain Food Asia, Africa, Model East, Turkey, and Rusia, juga VP Manufacturing, Food & Refreshment, SEAA. Tahun depan, emiten konsumer ini berencana merilis dan meluncurkan ulang (launch and relaunch) 40 produk tahun depan.
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) optimistis pabrik semen di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah bisa berproduksi pada 2016 karena hingga akhir Desember tahun ini kemajuan pembangunannya mencapai 80%. Pabrik semen di Rembang dengan investasi senilai Rp4,6 triliun ini bakal berproduksi sekitar 3 juta ton per tahun.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengatakan akan meningkatkan penyaluran kredit sebesar 15 persen tahun depan atau melebihi perkiraan badan pemerintah untuk sektor perbankan dengan mendorong pinjaman ke perusahaan kecil dan menengah. Kenaikan pengeluaran pemerintah dan investasi asing di Indonesia akan membuat kondisi di tahun 2016 akan lebih baik untuk BBRI. Sementara OJK selaku badan pemerintah menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan 12-13% saja tahun depan. Perbedaannya pada fokus kami kepada penyaluran ke bisnis kecil dan menengah yang lebih memerlukan kerja keras
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) mendapata penugasan dari pemerintah untuk mengoperasikan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penugasan pengelolaan jaringan gas tersebut merupakan bentuk kepercayaan pemerintah terhadap PGN. Penandatanganan dokumen serah terima pengoperasian jaringan gas itu dilakukan bersamaan dengan perayaan Ulang Tahun Tarakan ke-18 di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, Selasa.
PT XL Axiata Tbk (EXCL) anak usaha milik Axiata Group Malaysia sedang mencari dana sebesar $500 juta tahun depan, ujar sumber yang mengetahui hal ini. Adapun pilihan dalam mencari dana tersebut antara lain dengan menjual saham kepada investor melalui skema right issue. Kemungkinan hal itu akan dilakukan pada periode semester pertama tahun depan tergantung dari kondisi pasar.
PT Intiland Development Tbk (DILD) bakal mengucurkan dana senilai Rp2,5T, untuk melaksanakan pembangunan pulau buatan (reklamasi). Dana ini belum termasuk untuk pembangunan infrastruktur dan lain-lainnya. Untuk sumber pendanaannya, perseroan berharap dapat dialokasikan dari dana kas internal perusahaan. Dana kas perseroan sendiri akan diperoleh dari hasil pra penjualan (marketing sales). DILD bakal menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp2 triliun. Dana ini akan digunakan untuk melancarkan aksi ekspansi perseroan di tahun 2016.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca perdagangan pada November 2015 tercatat defisit sebesar US$ 346,4 juta, dengan ekspor sebesar US$ 11,16M dan impor US$ 11,51M. Defisit tersebut baru pertama kali terjadi selama tahun 2015. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan hal ini disebabkan oleh lonjakan impor sebesar 3,61% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan ekspor, justru menurun sampai dengan 7,91%. Impor non migas dengan lonjakan terbesar antara lain perhiasan/permata dengan 607,36% menjadi US$ 297,8 juta dari sebelumnya sebesar US$ 42,1 juta di Oktober 2015. Disusul, impor serealia naik 58,95% menjadi US$ 346,2 juta dari sebelumnya US$ 217,8 juta di Oktober 2015. Kemudian, impor barang dari besi dan baja naik 21,78% menjadi US$ 314,8 juta dari sebelumnya US$ 258,5 juta di Oktober 2015. Lalu, impor besi dan baja naik 17,64% menjadi US$ 552,8 juta dari sebelumnya US$ 469,9 juta di Oktober 2015. Terakhir, impor mesin dan peralatan listrik naik 11,71% menjadi US$ 1,4 miliar dari sebelumnya US$ 1,25 miliar di Oktober 2015. Kenaikannya ini terkait dengan investasi untuk perusahaan dan juga efek dari belanja pemerintah.
-----------------------------------
ipotindonesia , ipotplan , ipotfund
DISCLAIMER: This research is based on information obtained from sources believed to be reliable, but we do not make any representation or warranty nor accept any responsibility or liability as to its accuracy, completeness or correctness. Opinions expressed are subject to change without notice. This document is prepared for general circulation. Any recommendation contained in this document does not have regard to the specific investment objectives, financial situation and the particular needs of any specific addressee. This document is not and should not be construed as an offer or a solicitation of an offer to purchase or subscribe or sell any securities. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may be involved in transactions contrary to any opinion herein to make markets, or have positions in the securities recommended herein. PT. Indo Premier Securities or its affiliates may seek or will seek investment banking or other business relationships with the companies in this report.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar