Pacific Century Place 16/F SCBD Lot 10 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 - Indonesia | Call Center 021 5088 7200 | Email : support@indopremier.com | www.indopremier.com
Kamis, April 4
EQUITY_UPDATE 20130404
Market Review
DJIA Rabu malam ditutup turun 112 poin atau 0,75% pada 14.550, terutama atas kekhawatiran terhadap perkembangan konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Selain itu, investor juga waspada terhadap pernyataan the Fed, yang menyatakan bahwa the Fed kemungkinan akan mengurangi jumlah pembelian obligasi mulai bulan Juni/Juli tahun ini, jika perekonomian Amerika terus mengindikasikan pemulihan. Lebih jauh lagi, Wall Street kemarin menerima rilis data tenaga kerja yang lebih rendah dari estimasi konsensus. Penambahan lapangan kerja versi lembaga swasta ADP Employer Services, merilis data bulan Maret 2013 yang menunjukkan penambahan sebesar 153ribu unit vs. estimasi konsensus pada 197ribu unit. Perkembangan politik Korea, kebijakan the Fed, dan rilis data tenaga kerja tersebut memicu aksi jual investor saham Amerika, dan kemarin DJIA sempat meluncur ke tingkatan terendah harian pada 14.525.
Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) menyatakan, dari total belanja konstruksi nasional tahun 2013 yang sekitar Rp 400 triliun (+20%yoy), selama kuartal I-2013 baru terserap 18% atau sekitar Rp 72 triliun. Rendahnya penyerapan belanja konstruksi ini disebabkan beberapa proyek pemerintah, swasta, maupun BUMN/BUMD belum sepenuhnya selesai dilelang. Belanja konstruksi akan meningkat mulai kuartal II menyusul adanya beberapa proyek sudah mulai konstruksi. Perkiraan belanja konstruksi tahun ini berasal dari proyek konstruksi yang dibiayai APBN (Rp 93 triliun), APBD (Rp 40 triliun), BUMN/BUMD (Rp 97 triliun), dan swasta (Rp 170 triliun). Kontribusi sektor konstruksi pada PDB Indonesia diperkirakan akan meningkat tahun ini pada 11-12%, dibandingkan tahun 2012 sebesar 10%, dan tahun 2011 pada 8%. Kendala yang dihadapi oleh sektor konstruksi, antara lain, pengenaan PPh final pada 3%, dan suku bunga pinjaman masih terlalu tinggi pada 12,5%, yang mana hal ini membuat persaingan dengan kompetitor asing semakin ketat karena kompetitor asing mendapat dukungan dari bank negara bersangkutan dengan suku bunga yang relatif lebih rendah pada 3-4%.
IHSG hari ini diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan rawan aksi ambil untung. Saham pilihan INTP,INDF,BSDE,TLKM.
(dang.maulida@ipc.co.id)
News Highlights
Eterindo Wahanatama (ETWA) membukukan laba bersih inti sebesar Rp 38,5 miliar sepanjang 2012, meningkat 18,9% dibanding 2011 sebesar Rp 32,4 miliar. Hal ini didorong peningkatan pendapatan sebesar 10,8% menjadi Rp 1 triliun dari Rp 904,2 miliar. Kenaikan kinerja keuangan ditopang peningkatan volume penjualan biodiesel sebesar 61,6% dari 38.788 metrik ton (mt) menjadi 62.693 mt. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mempercepat pelaksanaan peraturan mandatory dan roadmap kandungan biodiesel pada sektor transportasi bersubsidi dari 5% menjadi 7,5%. Kontribusi divisi biodiesel ETWA terhadap total pendapatan 2012 meningkat menjadi 63,7% dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 46,4%. (Investor Daily)
Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS),anak usaha Indika Energy (INDY), membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 23% menjadi US$ 36,5 juta selama 2012, dibanding 2011 sebesar US$ 29,6 juta. Hal ini dipicu peningkatan pendapatan sebesar 16% menjadi US$ 141 juta dari US$ 121 juta. Sampai akhir 2012, MBSS memiliki 64 set kapal tongkang dan 7 floating crane. (Investor Daily)
Produsen keramik Arwana Citramulia (ARNA) mengalokasikan Rp 73,41 miliar atau 47% dari total laba bersih 2012 untuk pemegang saham (dividen). Setiap pemegang saham akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp 40 per lembar saham (dividend yield=1,6%). (Bisnis Indonesia)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar