Selasa, April 2

EQUITY_UPDATE 20130402

Market Review DJIA Senin malam ditutup turun 6 poin atau 0,04% pada 14.573 terutama atas rilis data indeks manufaktur untuk bulan Maret 2013 yang di bawah estimasi konsensus. Dow Jones sempat menempati teritori positif kemarin, pada 14.605, namun tidak bertahan pada teritori hijau. Indeks ISM (Institute for Supply Management) kemarin dirilis pada 51,3 vs. estimasi konsensus pada 54,0. Indeks ISM bulan Maret 2013 berada pada tingkatan terendah dalam tiga bulan. Rilis data indeks ISM ini kembali menimbulkan sedikit kekhawatiran investor atas percepatan pemulihan ekonomi Amerika. Rilis data ISM Amerika ditanggapi negatif signifikan oleh investor pasar saham Jepang dimana indeks Nikkei dibuka turun 256 poin atau 2,11%. Kemarin Cina merilis data indeks manufaktur Purchasing Managers Indeks (PMI) untuk bulan Maret 2013, pada 50,9 atau tingkatan tertinggi dalam 11 bulan namun di bawah estimasi konsensus pada 52. PMI yang di bawah estimasi ini kembali menimbulkan kekhawatiran atas pemulihan pelambatan ekonomi Cina. Salah satu broker asing, saat ini, menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi Cina untuk kuartal I-2013 dan kuartal II-2013 menjadi, masing-masing, 7,9% dan 8,1%. Sebelumnya, broker ini memperkirakan pertumbuhan 8,3% untuk kedua kuartal tersebut. Sementara itu, rupiah pada perdagangan kemarin ditutup 0,7% lebih rendah sejak awal 2013 terhadap mata uang US$ pada Rp 9.735 per dolar AS. Salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah defisit neraca dagang Indonesia yang semakin naik. Selama 2 bulan tahun 2013, neraca dagang Indonesia sudah minus US$ 402,1 juta versus periode yang sama tahun 2011 pada surplus US$ 1,84 miliar. Data neraca dagang tahun 2013 ini dikhawatirkan akan kembali melemahkan nilai mata uang rupiah terhadap US$. IHSG hari ini diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah terbatas. Saham pilihan KLBF, BKSL, BSDE, PTBA (dang.maulida@ipc.co.id) News Highlights Konstruksi Enjiniring (DGIK), emiten konstruksi swasta nasional, menargetkan nilai kontrak baru tahun ini tumbuh 35%-50% menjadi Rp 1,65 triliun-Rp 1,8 triliun dari posisi tahun lalu. Perseroan menyatakan sejauh ini nilai kontrak yang dipegang DGIK telah mencapai Rp 2,55 triliun. (Bisnis Indonesia) PT Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) akan membeli 4 miliar (10%) saham Energi Mega Persada (ENRG) senilai Rp 405 miliar. Harga pelaksanaan transaksi itu sebesar Rp 100 per saham. SSI membeli saham baru perseroan yang diterbitkan melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau nonpreemptive rights issue. Rencana ini telah disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan pada 20 Desember 2012. (Investor Daily) Lippo Cikarang (LPCK) membukukan laba bersih sebesar Rp 407,2 miliar pada 2012 atau naik 57,95% dibandingkan 2011 senilai Rp 257,68 miliar. Pendapatan usaha tumbuh 12,25% menjadi Rp 1,01 triliun dari Rp 902,45 miliar.Kontributor terbesar pendapatan tahun lalu berasal dari penjualan lahan industri dan komersial sebesar Rp 618,84 miliar. (Investor Daily) Inflasi di luar dugaan mencapai 0,63% mom pada Maret 2013, lebih tinggi dari angka konsensus yang sebesar 0,36% menurut survei Bloomberg. Dengan demikian, inflasi yoy mencapai 5,9%, tertinggi selama 22 bulan. Meski begitu, inflasi inti turun menjadi 4,21% yoy dari 4,29% pada bulan sebelumnya. Inflasi bulan lalu terutama disokong oleh lonjakan harga bawang merah dan bawang putih, yang menyebabkan indeks harga konsumen (IHK) di kelompok bahan makanan terangkat 2,04% mom. Sebaliknya, inflasi di kelompok lain relatif jinak. Penurunan harga emas perhiasan memungkinkan terjadinya deflasi sebesar 0,7% di segmen sandang. Sementara, di luar dua kelompok tersebut, inflasi mom berkisar 0,12%–0,4%. (BPS, Bloomberg) Ekspor Indonesia turun 2,51% mom pada Februari 2013, bersamaan dengan penurunan impor sebesar 0,86%. Secara yoy, ekspor turun 4,5%, sedangkan impor naik 3,03%. Pada 2M13, ekspor dan impor masing-masing mencapai US$ 30,36 miliar dan US$ 30,77 miliar. Dengan demikian, terjadi defisit perdagangan sebesar US$ 402,1 juta pada periode tersebut, dibandingkan surplus US$ 1,84 miliar pada 2M12. (BPS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar