Pacific Century Place 16/F SCBD Lot 10 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 - Indonesia | Call Center 021 5088 7200 | Email : support@indopremier.com | www.indopremier.com
Senin, April 1
EQUITY_UPDATE 20130401
Market Review
DJIA Kamis (28/3) ditutup naik 52 poin atau 0,36% pada 14.579 atas serangkaian rilis data ekonomi yang lebih baik dibandingkan estimasi konsensus. Serangkaian rilis data ini mengindikasikan bahwa ekonomi Amerika tidak mengalami perlambatan pertumbuhan. Sementara itu, kebijakan moneter longgar bank sentral the Fed untuk tetap membeli obligasi sebesar US$ 85 miliar perbulan, menambah keyakinan investor dan memicu aksi beli di Wall Street pada hari perdagangan terakhir minggu lalu.
Minggu lalu dirilis serangkaian data ekonomi. Pertumbuhan PDB Amerika untuk kuartal IV-2012 pada 0,4%yoy vs.0,3%yoy estimasi konsensus. Personal Income untuk bulan Februari 2012 dirilis naik 1,1%yoy vs. estimasi konsensus pada +0,8%yoy. Personal spending dirilis naik 0,7%yoy vs. estimasi konsensus pada +0,6%yoy. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen Michigan Sentiment untuk bulan Maret 2013 dirilis 78,6 vs. estimasi konsensus pada 72,4. Serangkaian rilis data ini mampu memicu aksi beli DJIA pada Kamis minggu lalu.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, sebanyak 12 investor siap menggelontorkan dana sekitar US$ 6,68 miliar (Rp 65,03 triliun) untuk membangun pabrik semen di Indonesia pada 2013-2017. Investasi tersebut akan melambungkan kapasitas produksi semen di Indonesia menjadi 108,77 juta ton, atau bertambah 48,3 juta ton dari akhir 2012 sebanyak 60,47 juta ton. Investor yang telah memiliki pabrik semen di Tanah Air (Semen Indonesia, Lafarge Cement Indonesia, Semen Baturaja, Indocement, Holcim Indonesia, dan Semen Bosowa) akan menambah kapasitas produksinya sebesar 35,3 juta ton. Sementara itu, pendatang baru akan membangun pabrik semen dengan total kapasitas 13 juta ton dengan total nilai investasi sekitar US$ 1,85 miliar (Rp 18 triliun). Investor ini terdiri dari China Triumph, Anhui Cement, SDIC dari Cina, Siam Cement dari Thailand, Jhui Shin Indonesia dari Taiwan atau Semen Karawang, serta Wilmar (Semen Merah Putih). Investasi pada industri semen di Indonesia, terutama didorong oleh pertumbuhan permintaan semen yang di atas 10% per tahun dalam tiga tahun terakhir, tingkatan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sekitar 6% per tahun. Tren pertumbuhan ini diyakini terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, setidaknya hing 2017-2018.
Investor saham hari ini mencermati rilis data PMI (Purchasing Managers Index) negara Cina untuk bulan Maret 2013 yang juga dijadikan rujukan untuk menilai apakah perlambatan pertumbuhan ekonomi negara tersebut sudah usai.
IHSG hari ini diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan rawan aksi ambil untung. Saham pilihan INDF, TLKM, BSDE, KLBF.
(dang.maulida@ipc.co.id)
News Highlights
Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK) merilis kinerja tahun 2012 yang sudah diaudit dengan penghasilan usaha sebesar Rp 1,2 triliun atau naik 10,6% dibandingkan tahun 2011 pada Rp 1,1 triliun. Laba kotor sebelum proyek bersama tahun 2012 meningkat 16% menjadi Rp 142,5 miliar dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp 122,9 miliar. Marjin laba kotor sebelum proyek bersama tahun 2012 pada 11,7% dibandingkan 11,1% pada tahun 2011. Sementara itu, laba kotor setelah proyek KSO (kerjasama operasi) berada pada Rp 163,9 miliar atau naik 23,9% dibandingkan tahun 2011 pada Rp 132,4 miliar. Marjin laba kotor setelah KSO tahun 2012 pada 13,5% dibandingkan 12% pada tahun 2011. Peningkatan laba kotor menghasilkan peningkatan laba usaha tahun 2012 sebesar 23,4% menjadi Rp 75,1 miliar dibandingkan Rp 60,9 miliar. Marjin laba usaha tahun 2012 berada pada 6,2% dibandingkan 5,5% tahun 2011. Penurunan signifikan pada penghasilan (beban) lain-lain menjadi penghasilan lain-lain Rp 9,0 miliar tahun 2012 dibandingkan beban Rp 19,4 miliar tahun 2011 mendongkrak laba bersih. Laba bersih DGIK tahun 2012 naik 493,8% menjadi Rp 47,5 miliar dibandingkan Rp 8,0 miliar pada tahun 2011. (Investor Daily)
Golden Energy Mines (GEMS), anak usaha Sinarmas Group yang bergerak di bidang jasa pertambangan, menggenjot produksi 22% menjadi 5,34 juta ton sepanjang tahun lalu. Sejalan dengan itu, volume penjualan 2012 meningkat sebesar 35% menjadi 7,68 juta ton dengan volume trading sebesar 2,176 juta ton. Pencapaian itu menjadikan pendapatan perseroan meningkat 38% sebesar Rp 3,96 miliar. Di lain pihak, laba sebelum pajak turun dari Rp 319 miliar menjadi Rp 179 miliar tahun lalu. Perseroan menyatakan, tahun lalu merupakan tahun tantangan bagi seluruh industri pertambangan karena terkendala harga batubara yang turun dan sejumlah faktor lainnya. (Bisnis Indonesia)
Bank Indonesia memperkirakan inflasi Maret 2013 sebesar 0,49% mom. Estimasi ini berdasarkan survei harga yang dilakukan bank sentral hingga pekan ketiga bulan lalu. Bawang merah dan bawang putih tampil sebagai komoditas yang dominan mempengaruhi inflasi bulan lalu, sedangkan harga beras, daging sapi, dan daging ayam turun. Survei yang dilakukan Bloomberg terhadap ekonom menunjukkan nilai tengah estimasi inflasi Maret 2013 di angka 0,36% mom atau 5,56% yoy. (Bloomberg, Kontan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar