Pacific Century Place 16/F SCBD Lot 10 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 - Indonesia | Call Center 021 5088 7200 | Email : support@indopremier.com | www.indopremier.com
Jumat, Juni 22
EQUITY_UPDATE 20120622
Market Review
Dow Jones Kamis malam ditutup turun 250 poin atau 1,96% pada 12.753 atas rilis data ekonomi dunia yang dibawah estimasi yang dipublikasikan sehari setelah the Fed merevisi turun pertumbuhan ekonomi Amerika. Pada saat yang sama lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service menurunkan peringkat 15 bank investasi besar dunia sebesar 1 sampai 3 tingkat turun dari tingkatan semula. Kemarin Wall Street harus mencerna sekaligus data pengangguran mingguan yang memastikan pelemahan pertumbuhan ekonomi Amerika. Jumlah klaim pengangguran baru berada pada tingkatan 387ribu unit vs. 380ribu unit estimasi konsensus, sementara jumlah klaim penggangguran lanjutan berada pada 3,29juta vs. 3,28juta estimasi konsensus. Demikian juga data Purchasing Manager’s Index untuk negara Cina yang diterbitkan oleh HSBC Holdings Plc dan Markit, menunjukkan angka 48,1 (dibawah angka 50 yang mengindikasikan kontraksi ekonomi), untuk bulan ke-delapan berturut. Data indeks manufaktur dari Markit untuk negara-negara Eropa menunjukkan angka 44,8, terendah selama 3 tahun. Sementara itu, penyebab utama revisi turun pemeringkatan 15 bank investasi oleh Moody’s adalah prospek profitabilitas dan pertumbuhan yang menurun. Diantara bank investasi yang mengalami penurunan peringkat adalah Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan dan Morgan Stanley. Penurunan pemeringkatan ini berdampak pada meningkatnya biaya penggalangan dana bank investasi yang bersangkutan dan keharusan menambah dana jaminan atas utang yang sudah ada. Selain itu, penurunan pasar saham Amerika kemarin juga masih dikaitkan oleh kekecewaan investor atas tidak digelontorkannya QE3 oleh bank sentral the Fed. Dikatakan the Fed menggunakan amunisi QE3 sebagai cadangan jika situasi ekonomi Amerika dan krisis keuangan Eropa berkembang semakin memburuk. Pasar komoditas pada perdagangan kemarin ditutup turun signifikan dalam kisaran 1,96% - 4,84% terutama atas tema yang sama.
IHSG hari ini diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah terbatas. Investor boleh mengawasi saham dengan prospek pertumbuhan memadai. Saham pilihan TLKM, JSMR, UNVR, ITMG.
News Highlights
Pemegang saham BRNA menyetujui rencana perseroan memecah nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5. Aksi korporasi iini bakal menambah likuiditas saham BRNA di pasar. Saat ini, porsi saham publik perseroan sekitar 35%. (Investor Daily)
INTA memperoleh fasilitas pembiayaan berupa letter of credit (L/C) dari PT Bank Mandiri Tbk senilai USD251,4 juta. L/C tersebut berjangka waktu enam bulan. Fasilitas tersebut akan digunakan untuk membeli alat-alat berat senilai USD235 juta. Selain L/C, INTA mendapat kredit modal kerja dari Bank Mandiri sebesar Rp45miliar dan pinjaman tersebut dipakai untuk ekspansi usaha. (Investor Daily)
Hingga akhir 2012, INTA menargetkan penjualan alat berat sebanyak 2 ribu unit. Selama semester I, penjualan alat berat perseroan diperkirakan lebih dari 800 unit. Hingga Mei, pnejualan mencapai 746 unit. Sekitar 70% dari penjualan alat berat untuk sektor pertambangan, sisanya untuk sektor lain. (Investor Daily).
INTA akan membagikan dividen sebesar tahun buku 2011 sebesar Rp22,5 per saham (dividen yield 3,21%). (Investor Daily)
Bank Indonesia memastikan akan memberi denda kepada perusahaan yang gagal merepatriasi hasil ekspornya ke dalam negeri selama periode tertentu berdasarkan peraturan bank sentral. Denda ini sebesar 0,5% dari dana yang belum direpatriasi, minimum sebanyak Rp 10 juta dan maksimum senilai Rp 100 juta. Peraturan BI mewajibkan seluruh dana hasil ekspor pada 2012 untuk ditempatkan di bank domestik paling lambat enam bulan setelah tanggal pemberitahuan ekspor. (Bisnis Indonesia)
Pemerintah dan Badan Anggaran DPR menyepakati kuota penjualan BBM bersubsidi untuk 2013 sebanyak 45 juta hingga 48 juta kiloliter. Angka itu lebih tinggi dari kuota tahun ini yang sebesar 40 juta kiloliter. (Bisnis Indonesia)
Komentar: Ini menunjukkan bahwa pengurangan subsidi BBM masih belum menjadi agenda pemerintah pada 2013. Ini juga konsisten dengan pernyataan Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini. Pada 14 Juni lalu, dia menyatakan bahwa 2013 dan 2014 akan menjadi tahun tanpa kenaikan harga BBM. Berita ini positif untuk inflasi (kami perkirakan inflasi tahun depan di sekitar 5%). Akan tetapi, ini negatif bagi kelangsungan APBN, dan dengan demikian juga negatif bagi rating Indonesia, karena APBN masih akan sangat rentan terpengaruh oleh dinamika harga minyak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar