Market Review
Ditinggal libur seminggu, bursa saham dunia mengalami penguatan. Di awal pekan lalu, aura positif menyelimuti pasar saham. Dari Amerika, dampak yang tidak terlalu parah dari angin topan Irene dan niat bank sentral Amerika untuk memakai QE3 sebagai salah satu opsi menyelamatkan ekonomi Amerika menjadi katalis positif. Namun lesunya data tenaga kerja bulan Agustus di US dan Yunani yang diperkirakan akan mengalami defisit lebih tinggi dari estimasi membuat investor melakukan profit taking.
Pada bulan Agustus, bursa saham dunia mengalami penurunan signifikan, termasuk IHSG yang anjlok 7% MoM. Kami lihat untuk bulan September, masih cukup berat bagi bursa saham untuk rebound. Secara historis, kinerja bursa saham di bulan September lebih buruk dari bulan Agustus. Ditambah lagi, terdapat beberapa peristiwa penting yang akan terjdi di bulan ini, seperti :
8 Sept : Obama akan berpidato mengenai usulan program untuk menambah lapangan kerja. Para pelaku pasar skeptis usulan ini akan dikabulkan Kongres karena akan menambah pos pengeluaran anggaran Negara
9 Sept : Negara-negara G7 akan bertemu membicarakan ekonomi dunia di Prancis, namun pertemuan terakhir tidak membawa hasil yang berarti
15 Sept : Yunani membutuhkan dana bantuan kembali untuk melunasi hutang nya.
20-21 Sept : Fed Reserve diharapkan akan mengungkapkan secara detail mengenai program yang akan dilaksanakan untuk membangkitkan ekonomi Amerika. Pada akhir Agustus lalu, Ben Bernanke berjanji bahwa bank sentral akan mengambil tindakan untuk memulihkan ekonomi pada bulan September ini
29 Sept : Jerman akan melakukan voting untuk menyisihkan uang negara ke dalam dana talangan untuk negara-negara Eropa yang kesulitan keuangan. Jika voting ini gagal, maka akan berdampak negatif untuk dana talangan yang dibutuhkan tersebut
30 Sept : Larangan short sell di bursa saham Itali dan Spanyol akan berakhir. Berakhirnya larangan ini ditakutkan akan membuat bursa saham Eropa anjlok lebih dalam.
Kami nilai cukup berat bagi bursa saham dunia untuk rebound di bulan September ini. Kami menyarankan investor untuk tetap melakukan trading jangka pendek karena kondisi pasar yang belum stabil dan masih bearish. Koleksi lah emiten sektor defensive seperti TLKM, JSMR, INDF, KLBF
Ringkasan Berita & Komentar
WIKA akan menuntaskan dua proyek pembangkit listrik dengan skema jasa teknik, pengadaan, dan konstruksi pada tahun ini dengan total nilai sebesar Rp1,06 triliun. Dua proyek tersebut meliputi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Sulawesi Utara dan PLTU di Kalimantan Selatan. Pada Agustus perseroan telah mengantongi kontrak baru senilai Rp1,34 triliun sehingga total kontrak baru hingga Agustus mencapai Rp7,91 triliun. Kontrak baru tersebut diantaranya proyel PLTGU Borang di Sumatera Selatan, Bandara Sepinggan Balikpapan, dan proyek out of pit crushing and conveying di Tutupan-Tobalong Kalimantan Selatan.
PWON menyiapkan dana Rp 50 miliar untuk merenovasi sejumlah mal termasuk Blok M Plaza dan Gandaria City. Saat ini perseroan sedang mengerjakan pembangunan mal Kasablanka dan Tunjungan Plaza 5 yang direncanakan untuk dibuka pada Mei 2012 dan 2013. Pendapatan tahun ini diproyeksikan naik 10% menjadi Rp 1,35 triliun.
FAST akan menerbitkan obligasi Rp 200 miliar pada Septermber 2011. Dana hasil obligasi akan digunakan untuk membangun 20-30 gerai baru tahun ini. Untuk tahun ini perseroan menargetkan pendapatan mencapai Rp 3,2 triliun dan laba bersih sebesar Rp 224 miliar sementara hingga semester I-2011, perseroan membukukan pendapatan Rp 1,54 triliun dan laba bersih Rp 99,93 miliar.
JSMR menjajaki penerbitan obligasi senilai Rp 3 triliun pada 2012, dana tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman bank. Perseroan menargetkan pendapatan naik sebesar 10-15% hingga mencapai Rp 4, 8 triliun di akhir tahun.
SMGR mengalokasikan dana belanja modal US$900 juta-US$1 miliar untuk ekspansi peningkatan kapasitas produksi pada tahun depan. Perseroan akan menyelesaikan pembangunan pabrik semen Tuban IV dan Tonasa V, termasuk juga pembagunan pabrik baru di Sumatera dan Jawa Tengah. SMGR juga mempersiapkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk mengakuisisi satu KP batubara berkalori rendah. Akuisisi tersebut dilakukan untuk menghemat biaya produksi dimana porsi batubara mencapai 30% dari biaya produksi. Komentar Analis: Akuisisi KP batubara secara penuh akan membuat perseroan masuk ke bisnis baru yang diluar kompetensi management dan bukan merupakan hal yang positif. Jika tujuan akuisisi adalah untuk hedging biaya, maka akan lebih baik bagi perseroan untuk membeli kepemilikan minoritas KP agar managemen KP batubara akan tetap ditangani oleh perusahaan yang lebih berpengalaman.Target price is Under Review
BIPI mengincar 10% saham BULL dengan nilai transaksi diperkirakan sekitar Rp 300 miliar. Pembelian saham akan dibiayai dari hasil dana IPO yang ditargetkan mencapai Rp 1,6 triliun. Transaksi tersebut telah disetujui dalam RUPSLB. Selain itu rapat tersebut juga telah menyetujuai pelunasan hutang dengan dana IPO sebesar Rp 728 miliar kepada PT Indotambang Perkasa.
INVS menargetkan pendapatan pada kuartal III-2011 melonjak 100% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didukung oleh tiga akuisisi yang dilakukan perseroan pada Maret lalu. Manajemen juga menyatakan niatnya untuk mengakuisisi dua kuasa pertambangan batubara.
MTDL menargetkan pendapatan tahun ini mencapai Rp 4,58 triliun atau tumbuh sekitar 16% dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 3,95 triliun. Peningkatan tersebut ditopang oleh bergabungnya Synnex yang memperkuat struktur keuanga perusahaan, pengembangan pengetahuan distribusi dan menambah diversifikasi produk.
CTRP berencana menerbitkan pinjaman sebesar Rp 300 miliar pada akhir 2011 yang akan digunakan untuk pembangunan Ciputra World Jakarta. Pinjaman tersebut sekitar 20% dari total fasilitas perseroan sebesar Rp 1.5 trilun.
APEX mencetak lonjakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 803,47% pada semester I/2011 atau sebesar US$36,41 juta. Lonjakan laba tersebut terjadi setelah perusahaan induknya, PT Mitra Resources International Tbk (MIRA) sepakat menjual saham APEX secara tidak langsung (melalui penjuala Sabre System International Pte Ltd) kepada Tuscany Investment Group senilai US$40 juta.
MYOH berencana mengakuisisi PT Sims Jaya Kaltim. MYOH juga berencana melakukan penawaran umum terbatas (rights issue) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu 1:1, dengan menerbitkan sebanyak 1,26 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp420 atau senilai Rp529,51 miliar. Perseroan telah menunjuk Samtan Co Ltd sebagai pembeli siaga HMETD.
TMAS menargetkan meraih laba bersih minimal Rp80 miliar pada tahun depan seiring dengan penambahan armada sebanyak delapan unit kapal peti kemas, sehingga kapasitas angkut total 12.000 twenty-foot equivalent unit (TEUs) atau meningkat 30,43% dibandingkan dengan 9.200 TEUs pada saat ini.
SDMU, perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi dan angkutan darat migas dan bahan kimia, telah menyelesaikan negosiasi kontrak pengangkutan dengan Salamanader dan Talisman. Nilai kontrak pengangkutan dengan kedua perusahaan energi tersebut masing-masing mencapai US$ 3 juta. Sebelumnya SDMU telah menandatangani kontrak dengan Pertamina senilai US$ 1,1 juta serta kontrak dari Conoco Philips senilai US$ 1 juta. Tahun ini SDMU menargetkan dapat memperoleh kontrak pengangkutan baru senilai US$ 15 juta. Nilai tersebut lebih rendah dari pencapaian 2010 sebesar US$ 20 juta. SDMU menargetkan pendapatan tahun ini mencapai Rp 160 miliar, naik 57% dibandingkan pendapatan 2010 yang mencapai Rp 101,9 miliar. Sementara laba bersih tahun ini diharapkan naik 151,62% menjadi Rp 22 miliar.
BNBR akan membangun pabrik bahan peledak (amonium nitrat) dengan total dana mencapai US$ 300 juta. Proyek ini akan dilaksanakan pada tahun depan. Pembangunan pabrik ini akan dimasukan dalam frasructure fund yang nantinya akan ditawarkan kepada investor yang berminat mendanai proyek tersebut. Pembangunan pabrik peledak ini diharapkan selesai dalam 18-22 bulan kedepan.
DKFT mengincar dana sebesar Rp 983,74 miliar dari penerbitan saham dengan HMETD atau right issue yang akan digelar pda 14-20 Oktober mendatang. Dana right issue tersebut akan digunakan untuk penyertaan DKFT diperusahaan baru, capex, dan penambahan modal kerja.
BPS memastikan kenaikan tarif tol yang direncanakan berlaku mulai September 2011 tidak akan mendorong inflasi. BPS menilai bobot tarif tol dalam perhitungan inflasi sangat kecil.
Terhitung sejak Januari 2011 hingga awal September 2011, kuota BBM bersubsidi sudah menembus angka 27 juta KL. Angka itu sudah mendekati kuota APBNP 2011 sebanyak 40,4 juta KL.
Tingkat keyakinan konsumen mengalami sedikit penurunan dari 118,8 pada Juli 2011 menjadi 110,6 pada Agustus 2011. Penurunan itu didorong oleh pelemahan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang, terutama mengenai ketersediaan lapangan kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar