Selamat Pagi,
Setelah beberapa hari tenang, bursa Eropa dan US kembali dilandai aksi jual besar-besaran. Bursa Eropa turun hingga 6% dan New York dipangkas hingga 3%-4%. Ketakutan dampak dari bank-bank Eropa yang bermasalah ke seluruh dunia menjadi pemicu aksi jual. Ditambah lagi, data-data ekonomi Amerika yang diumumkan semalam semakin mengkonfirmasi bahwa ekonomi US masih belum membaik. Data pengangguran seminggu terakhir naik, lalu aktifitas pabrik di bulan Agustus menurun dan penjualan rumah di bulan ini juga menurun. Dow Jones melemah 419 poin (3,7%), ditutup pada 10.990. Walaupun terjadi penurunan, namun belum menyentuh level ketika rating Amerika diturunkan oleh S&P beberapa pekan lalu.
Bursa Asia akan bersiap mengalami sesi perdagangan yang volatile. Kami melihat sentimen yang ada saat ini sebenarnya masih belum berubah yaitu masalah di Eropa dan US. Kami memperkirakan investor IHSG akan melihat ini sebagai kesempatan untuk membeli saham ketika harga turun. Saran kami masih pada emiten berfundamental kuat dan memiliki cash yang banyak. Emiten bank yang masih terserang sentimen negatif merupakan kandidat untuk diakumulasi seperti BBRI, BBCA, BMRI. Infrastruktur seperti PGAS, TLKM, JSMR merupakan favorit ketika ekonomi dunia melemah. Begitupula dengan consumer goods, GGRM, INDF
WTI USD 82 Turun -USD 5.20
CPO USD 1,063 Turun -USD 15.00
Nickel USD 21,260 Turun -USD 649.00
Tin USD 22,672 Turun -USD 1,252.00
Gold USD 1,824 Naik USD 32.55
Coal USD 124 Turun -USD 1.56
TLKM USD 35 Naik USD 0.34
ISAT USD 33 Naik USD 0.61
Ringkasan Berita & Komentar
BTEL telah menuntaskan akuisisi 100% saham PT Rekajasa Akses (Reja), melalui salah satu perusahaan investasi milik Grup Bakrie, Capital Managers Asia Pte Ltd (CMA), dengan total dana US$ 50 juta yang akan digunakan 25% untuk biaya akuisisi dan 75% untuk pengembangan usaha. Saat ini Reja memiliki 630 pelanggan.
Pada tahun 2011, BTEL mengalokasikan capex sebesar US$ 200 juta, dimana sekitar 59% digunakan untuk pengembangan bisnis data. Pada semester I-2011, BTEL membukukan rugi bersih sebesar Rp 179,7 miliar, dan diperkirakan sampai akhir tahun BTEL masih akan membukukan rugi bersih.
MPPA menargetkan pendapatan 2011 sebesar Rp 10 triliun, sekitar 90% pendapatan akan ditopang dari Hypermart. MPPA menargetkan menambah 20 gerai hypermart di 2011, naik dari target sebelumnya 13 gerai.Untuk ekspansi ini MPPA menganggarkan capex Rp 1 triliun, dimana pada 1H11 total capex yang telah digunakan mencapai Rp 300 miliar. Hingga semester I-2011, total geri Hypermart mencapai 55 gerai, dan ditargetkan akan mencapai 69 gerai hingga akhir tahun.
BUMI mencatat kenaikan laba yang diatribusikan kepada entitas induk 8,76% atau sebesar US$274,37 juta. Pertumbuhan laba tersebut disumbang oleh peningkatan harga jual rata-rata batu bara sebesar 36,07% menjadi US$91,3 per ton. Penjualan naik 24,31% menjadi US$1,79 miliar. Namun volume penjualan dan produksi menurun masing-masing 5,48% dan 2,29% menjadi 29,3 juta ton dan 29,9 juta ton.
Laba bersih BRMS melonjak 96,82% menjadi Rp343,81 miliar pada semester I/2011, sedangkan pendapatan hanya naik 7,13% menjadi Rp67,25 miliar. Lonjakan laba bersih tersebut didorong kenaikan harga jual emas dan tembaga dan penurunan beban bunga dan keuangan.
Rencana penerbitan saham baru (rights issue) KBLM mundur hingga tahun depan karena masih butuh penguatan internal. Rencana perseroan untuk mengakuisisi perusahaan kabel akan tetap dilakukan tahun ini namun menggunakan pinjaman perbankan.
UNSP menargetkan refinancing utang senilai US$ 210 juta tuntas pada September. Utang tersebut berasal dari US$ 185 juta obligasi yang akan jatuh tempo pada 1 November 2011, dan sisanya utang dari anak perusahaan. Target pinjaman baru adalah sebesar US$ 250 juta dengan bunga sekitar 8-10% per tahun, atau lebih rendah dari obligasi sebelumnya sebesar 10,75%, potensi penghematan biaya bunga sebesar US$ 4 juta. Sebesar US$ 20-25 juta dana pinjaman akan digunakan untuk pembangunan pabrik oleokimia.
GJTL menargetkan penjualan tahun ini sebesar 12,25 triliun atau 20-25% lebih tinggi dari perolehan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut akan ditopang oleh peningkatan permintaan ban dari Amerika dan Eropa, disamping terus meningkatnya permintaan ban domestik.
PT Bakrie Toll Road (BTR), anak usaha ELTY, diprediksikan akan memperoleh pendapatan Rp 100milar pada 2011, naik 20% YoY. Menjelang lebaran ini diperkirakan arus kendaraan yang melintas di ruas tol Kanci-Pejagan meningkat hingga 2,5kali lipat. BTR akan melepas saham ke public pada akhir 2011 atau 1Q12.
DKFT berencana menggelar penawaran saham terbatas pada September 2011 dengan target perolehan dana mencapai Rp 1 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik smelter nikel di Morowali, Sulawesi. Total investasi di pabrik tersebut akan mencapai Rp 4-5 triliun dimana perseroan akan memiliki 40% saham sedangkan sisanya dimiliki perusahaan asal tiongkok.
WOMF siap membayar utang obligasi sebesar Rp 590 miliar yang akan jatuh tempo pada 2 November 2011. Pelunasan akan dibiayai dengan menggunakan kas internal dan juga fasilitas pinjaman senilai Rp 2,2 triliun dari BNII dan BMRI. Tahun ini perseroan menargetkan penyaluran pembiayan seniali Rp 8,3 triliun atau naik 15% dibandingkan tahun lalu, dimana hingga semester I-2011 penyaluran pembiayaan turun menjadi Rp 2,7 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 3 triliun
BYAN membeli satu unit kapal dari Favor Sum Investments Limited senilai US$ 55,4 juta yang akan digunakan sebagai terminal pengiriman mengambang kedua perseroan. Sepanjang semester I-2011 laba bersih perseroan naik 474,41% menjadi Rp 991,26 miliar yang didukung oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 68% menjadi Rp 6,37 triliun.
UNSP mendapat pinjaman sebesar US$ 250 juta dari lima perbankan yang akan digunakan untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo sebesar US$ 185 juta dan juga pengembangan oleokimia sebesar US$ 20 juta. Saat ini kontribusi oleokimia terhadap total penjualan baru 1% namun dengan beroperasinya pabrik baru diharapkan pendapatan perseroan bisa naik tiga kali lipat.
ELTY menyiapkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk investasi tahap pertama dalam mengembangkan proyek Sentul Nirwana diatas lahan seluas 127 ha. Pembangunan meliputi dua klaster perumahan dan theme park.
Laporan Keuangan BRMS 1H11
Sumber: Perseroan, Perhitungan IPS
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut