Market Review
Selamat pagi,
Bursa dunia anjlok signifikan di pekan lalu dan berpotensi kembali diserang profit taking setelah pada Sabtu kemarin, S&P menurunkan rating US menjadi AA+ dari AAA. Bahkan kemarin petinggi S&P menegaskan bahwa US masuk dalam outlook negatif dan terdapat potensi penurunan rating lebih lanjut jika kondisi fiskal negara tersebut makin memburuk. Mata uang US dolar diperkirakan melemah paska penurunan rating ini dan yield Treasury bond US akan melonjak paska pemangkasan rating sehingga dapat mengakibatkan investor memilih untuk memegang uang kas di saat ini.
Panic selling masih berlanjut menurut kami, karena pasar akan mencerna berita dari S&P yang terjadi di akhir pekan lalu. Support 1 : 3850 dan support 2 : 3799. Sementara resistance pada 4000. Kami menyarankan investor untuk wait and see, melihat sentimen yang ada. Emiten berfundamental kuat dan berada pada sektor consumer goods serta infrastruktur merupakan pilihan yang bijak di kala harga turun, seperti ASII, JSMR, TLKM, INDF, ICBP.
WTI USD 87 Naik USD 0.25
CPO USD 1,075 Turun -USD 15.00
Nickel USD22,468 Turun -USD 1,146.00
Tin USD 24,275 Turun -USD 1,154.00
Gold USD 1,664 Naik USD 17.27
Coal USD 126 Turun -USD 0.68
TLKM USD 35 Turun -USD 1.15
ISAT USD 33 Turun -USD 0.37
Ringkasan Berita & Komentar
IPO PT Golden Energy Mines akan di tunda hingga awal tahun 2012. PT Golden Energy Mines merupakan perusahaan tambang yang terafiliasi dengan Grup Sinarmas. Semula PT Golden berniat untuk melakukan IPO pada kuartal I-2010, lalu mundur ke kuartal III-2011. Penundaan disebabkan karena masalah investor strategis, yakni Coal India yang akan menguasai 40% saham Golden terganjal izin dari pemerintah India. Selain itu, kedua pihak belum sepakat mengenai mekanisme masuknya investor strategis ke perusahaan batubara ini.
KAEF akan menggandeng Mitsui Grup buat meningkatkan kapasitas produksi Yodium. Kerjasama ini diawali dengan proyek riset bersama pengelolaan limbah cair hasil penyulingan Yodium. Saat ini produksi yodium KAEF sebesar 100 ton per tahun, setelah kerjasama target prosuksi yodium akan meningkat menjadi 500 ton per tahun.
JSMR menargetkan akuisisi tol ruas dalam kota Surabaya rampung bulan depan. Target ini mundur dari rencana awal, yakni pada Mei lalu. Rencananya JSMR ingin membeli 51% saham pengelola ruas tol antara Waru hingga Wonokromo tersebut. JSMR telah mneyiapkan dana Rp 7 triliun untuk membiayai agenda ekspansi tahun ini.
DSSA dan anak usahanya PT Golden Energy Mines berhasil mendapatkan proyek dari PLN, yaitu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang Sumsel-5. Proyek berkapasitas 2x150 MW ini diperkirakan menelan biaya investasi sebesar US$ 400 juta. DSSA diperkiarakan akan menjadi pemegang mayoritas konsorsium tersebut.
SHID membukukan pendapatan sebesar Rp 70,27 miliar di semester I-2011, atau tumbuh 29,6% YoY. Penjualan makanan dan minuman SHID mencapai Rp 28,86 miliar (tumbuh 27,3% YoY) dan merupakan pendapatan utama SHID. Adapun penyewaan kamar hotel sebesar Rp 25,94 miliar, tumbuh 25,7% YoY. Namun laba bersih menurun 72% YoY menjadi Rp 3,33 miliar.
SIPD mengincar target penjualan sekitar Rp2,5 triliun pada semester II/2011, setelah meraih nilai penjualan Rp2 triliun pada paruh pertama. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) ditargetkan mencapai Rp250 miliar tahun ini, naik 32% dari posisi tahun lalu. Sedangkan laba bersih dipatok Rp80 miliar tahun ini, naik 31% dari laba tahun lalu.
DSSA menyiapkan dana investasi US$400 juta guna mendanai proyek PLTU Mulut Tambang Sumatra Selatan yang direncanakan mulai digarap tahun depan hingga 2015. Sumber investasi berasal dari kas internal perseroan dan pinjaman bank. DSSA pada semester I/2011 membukukan peningkatan laba bersih 612,26% menjadi US$26,8 juta dibandingkan periode sama tahun lalu. Pendapatan juga meningkat 46,03% menjadi US$263,54 juta.
BAPA membukukan laba bersih semester I/2011 sebesar Rp2,78 miliar atau turun 64,75% dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal tersebut seiring turunnya pendapatan hingga 59,24% menjadi Rp15,22 miliar. Seiring dengan penurunan laba bersih tersebut, laba per saham juga terkoreksi 64,79% menjadi Rp4,27 per saham.
TBLA mengincar laba bersih Rp600 miliar pada akhir tahun ini, naik 143,25% dibandingkan tahun lalu dengan asumsi harga minyak sawit tetap stabil. Pada paruh pertama perseroan membukukan kenakan laba bersih 258,84% menjadi Rp311,99 miliar, seiring dengan peningkatan pendapatan 71,94% menjadi Rp2,08 triliun.
BWPT menganggarkan dana US$ 210 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun untuk menanam kelapa sawit di lahan seluas 30 ribu ha hingga 2014. Perseroan akan menggunakan dana sisa hasil emisi obligasi tahun lalu sebesar Rp 200 miliar untuk memenuhi keutuhan dana tahun ini dan dilain sisi perseroan masih memiliki lahan seluas 20 ribu ha untuk dijaminkan kepada kreditor sehingga berpotensi memperoleh pinjaman sekitar Rp1,3-1,5 triliun.
LPCK membukukan laba bersih sebesar Rp 98,48 miliar pada semester I-2011, melonjak 194% dibandingkan periode sama tahun lalu. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan lahan industri dan residential
KIJA akan mengakuisisi 100% saham PT Banten West Jawa Tourism Development (BWJ) dan 21,63% saham PT Tanjung Lesung Leisure Industry (TLLI) dengan nilai total transaksi mencapai Rp 1,5 triliun, kedua perusahaan tersebut bergerak di pengembangan kawasan wisata di Tanjung Lesung, Banten. Perseroan juga dikabarkan tengah mencari dana sebesar US$ 310 juta untuk mengakuisisi lahan, pengembangan infrastruktur dan refinancing.
Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menilai Indonesia akan kebanjiran dana asing yang masuk pasca pemangkasan peringkat utang luar negeri Amerika Serikat (AS).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 2,9% QoQ (6,5% YoY) pada kuartal II 2011. Dibanding kuartal sebelumnya, tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor perdagangan, sektor konstruksi, dan sektor utilitas masing-masing sebesar 4,8%, 4,2%, dan 4%. Pada sektor pengeluaran, sektor konsumsi rumah tangga, sektor konsumsi pemerintah, sektor pembentukan modal tetap bruto (PMTB), sektor ekspor dan impor masing-masing tercatat meningkat 1,3%, 26%, 3,9%, 7,4%, dan 6%. Sementara dibanding periode sama tahun sebelumnya, tiga sektor yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor perdagangan, dan sektor konstruksi masing-masing sebesar 10,7%, 9,6%, dan 7,4%. Pada sektor pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 6,5% ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,6%, konsumsi pemerintah yang naik 4,5%, kenaikan PMTB sebesar 9,2%, ekspor yang tumbuh 17,4%, dan peningkatan impor sebesar 16%. Secara kumulatif, perekonomian Indonesia pada semester I 2011 tumbuh 6,5% dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar