Jumat, Agustus 5

EQUITY_UPDATE 20110805

Market Review

Selamat pagi,

Panic selling melanda US dan Eropa. Bursa saham di daratan Eropa anjlok hingga di atas 3% dan di US turun di atas 4%. Sovereign risk yang meningkat pada Itali dan Spanyol membuat bursa saham Eropa turun signifikan, yang terutama diseret oleh turunnya harga komoditas. Sementara harga emas turut menurun, yang mencapai US$1653/troy ounce, menandakan investor khawatir akan terjadi penurunan secara global pada pasar saham dan komoditas. Dow Jones sendiri merosot 512 poin, ditutup pada 11383. Tidak adanya kejutan positif dari angka pengangguran seminggu terakhir membuat investor lebih banyak fokus pada Eropa.

Prospek bursa Asia yang kemarin cenderung flat, kemungkinan besar akan mengalami profit taking tajam. Investor akan cenderung mengambil aman dan keluar dari bursa karena nanti malam akan diumumkan data tenaga kerja US untuk bulan Juli. Konsensus pasar cenderung pesimistis mengenai data tersebut. Kisaran IHSG berada pada 4025 - 4100 dan emiten pilihan kami GGRM, MAPI, JSMR, TLKM, ASII di kala harga saham turun

Ringkasan Berita & Komentar

Harga saham emiten PGAS kemarin melemah 5,9% dalam sehari untuk ditutup pada Rp3.600. Pelemahan ini diluar batas kisaran normal dan sudah menembus support kuat kami pada Rp3.875. Pelemahan kemarin, selain didorong atas sentimen jual regional, terutama juga disebabkan oleh rilis berita dari Kepala BP Migas R Priyono pada harian lokal sehari sebelumnya. Dalam rilis berita tersebut dinyatakan PGAS harus menelaah kembali harga pembelian gas PGAS dari supplier yang umumnya masih pada harga yang masih jauh dibawah kisaran harga jual ke konsumen saat ini sekitar USD6-7/Mmbtu. Sementara itu, PGAS telah menandatangai kontrak jangka panjang pembelian gas pada kisaran harga USD2/Mmbtu. BP Migas mengakui kesepakatan harga sudah tertuang dalam kontrak jual-beli gas untuk jangka panjang yang rata-rata ditandatangani sekitar sejak se-awal 10 (sepuluh) tahun yang lalu, namun negosiasi berkala tetap mungkin dilakukan. Disisi lain, manajemen PGAS menyatakan bahwa harga beli gas untuk periode baru-baru ini sudah merujuk pada perkembangan pasar, dengan harga yang lebih tinggi. Komentar Analis: kami belum bisa memastikan sejauh mana pernyataan BP Migas akan diimplementasikan, begitu juga pendapat dari hubungan investor PGAS yang belum bisa memastikan apakah akan memberikan tanggapan resmi mengenai pernyataan ini. Marjin laba kotor emiten PGAS, pada 2007 – 2010, berada pada kisaran 57%-63%. Jika harga beli gas dinaikkan, ada 2 (dua) kemungkinan: a) marjin laba kotor akan turun jika harga jual ke konsumen akhir tidak dinaikkan b) marjin laba kotor akan tetap jika harga jual ke konsumen akhir juga dinaikkan dalam jumlah yang sama. Untuk kemungkinan b), agak sulit. Pagi ini dirilis berita penolakan asosiasi industri pengguna gas yang mengatakan wacana peningkatan harga beli gas distributor PGAS sulit diterima karena dikhawatirkan harga jual akan meningkat ditengah ketidak pastian pasokan. Hari ini, ditengah aksi jual global, harga emiten PGAS masih bisa dipastikan untuk lanjut melemah. Secara fundamental kami belum merubah rekomendasi kami pada BUY ( target harga Rp4.700). Kinerja 1H11 akan dirilis sekitar pertengahan Agustus 2011. Secara teknikal, kami melihat support 1 pada Rp3,475, dan support 2 pada Rp3,225.

MTFN, unit usaha Group Recapital, akan melepas seluruh porsi kepemilikan saham di tiga anak usaha karena perseroan akan fokus pada bisnis inti minyak dan gas.

ANTM resmi menunjuk konsorsium PT Bank Mandiri sebagai financial arranger untuk menggalang dana sebesar US$ 1 miliar yang akan digunakan untuk membiayai pabrik pengolahan feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Pembangunan pabrik akan dimulai akhir 2011 dan ditargetkan selesai pada 2014 dengan total investasi mencapai US$ 1,6 miliar.

STAR menambah penyertaan modal kerja pada anak usahanya, yaitu PT Star Air Indonesia dan PT Tunas Surya, sebesar Rp 135 miliar. Perseroan juga mengalokasikan dana hasil penawaran umum perdana sebesar Rp 40 miliar untuk membangun pabrik sintetis di Boyolali pada semester II-2012.

PT Asia Leisure Network (ALN) melepas 324 juta (11,34%) saham BUVA di harga Rp 400 per saham dengan total transaksi mencapai Rp 129,6 miliar. Dengan demikian kepemilikan ALN di BUVA turun menjadi 31,3%.

ADHI membukukan kontrak baru sebesar Rp 4,7 triliun sampai akhir Juli 2011 atau mencapai 37,3% dari target tahun ini Rp 12,6 triliun.

ELTY memperoleh pinjaman bank sebesar Rp 200 miliar untuk memenuhi target pendanaan eksternal tahun ini sebesar Rp 500 miliar. Selain itu perseroan juga tengah mencari mitra strategis untuk anak usahanya, PT Bakrie Toll Road (BTR) untuk melakukan penawaran umum perdana.

FREN menambah utang sebesar Rp 5,19 triliun. Dengan tambahan utang tersebut, debt to equity (DER) FREN menjadi 3,25 kali. DER ini jauh diatas DER industri sebesar 1,38 kali. Penambahan utang tersebut diperoleh dari penerbitan obligasi konversi pada kuartal I-2011 sebesar Rp 2 triliun. Obligasi tersebut bertenor lima tahun dengan kupon bunga sebesar 6%. Selain itu FREN juga mengambil pinjaman bank sebesar US$350 juta pada akhir Juni lalu dengan tenor selama delapan tahun dan bunga mengacu pada LIBOR + 3%.

Perusahaan milik Grup Salim, PT Tritunggal Inti Permata (TIP) membeli kembali (buyback) 4,78 juta saham IMAS dengan total dana Rp57,3 miliar pada harga Rp12.000 per lembar saham. Dengan buyback ini kepemilikan TIP atas IMAS naik menjadi 18,05%.

HDFA menandatangani perjanjian penambahan fasilitas pinjaman dengan BBCA sebesar Rp200 miliar dengan jangka waktu pinjaman maksimal 3 tahun. Fasilitas pinjaman ini dijaminkan dengan piutang sampai dengan sebesar 100% dari fasilitas pinjaman yang diberikan. Penambahan pinjaman dilakukan melihat potensi pembiayaan di tahun ini sangat besar, tercatat total penyaluran pembiayaan sepeda motor hingga semester I/2011 mencapai 61% dari target tahun ini. Total platfon HDFA hingga saat ini dari sebelas bank mencapai Rp1,5 triliun.

Pemerintah optimis ekonomi Indonesia tidak akan mengalami bubble seperti peringatan Asian Development Bank (ADB) terhadap negara-negara di Asia. Dalam laporannya, ADB memperingkatkan ada potensi economic bubble di Asia karena tren inflasi yang tinggi dan kecenderungan penurunan pertumbuhan ekonomi. ADB memperingatkan kemungkinan economic bubble yang dipicu oleh kredit properti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar